Jumat, 24 September 2021

Klasifikasi Tunadaksa (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa penggolongan tunadaksa menurut para ahli. Djadja Rahaja (dalam Smart, 2012: 45-46) membagi tunadaksa menjadi dua golongan. Golongan pertama yakni tunadaksa murni, dimana golongan ini umumnya tidak mengalami gangguan mental atau kecerdasan, poliomylitis serta cacat ortopedis lainnya. Golongan yang kedua adalah golongan tunadaksa kombinasi, golongan ini masih ada yang normal, namun kebanyakan mengalami gangguan mental, seperti anak cerebral palsy. Sedangkan pendapat lain mengatakan tunadaksa digolongkan menjadi tiga, yaitu: a. Tunadaksa taraf ringan, meliputi tunadaksa murni dan tunadaksa kombinasi ringan. Umumnya hanya mengalami sedikit gangguan mental dan kecerdasannya normal. Golongan ini kebanyakan hanya disebabkan adanya kelainan pada tubuh saja, seperti lumpuh atau cacat fisik lainnya. b. Tunadaksa taraf sedang, merupakan tunadaksa akibat cacat bawaan, cerebral palsy ringan, dan polio ringan. Golongan ini banyak dialami dari tuna akibat cerebral palsy yang disertai dengan menurunnya daya ingat walau tidak sampai jauh dibawah normal. c. Tunadaksa taraf berat, yag termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna akibat cerebral palsy berat dan ketunaan akibat infeksi. Pada umumya, anak yang terkena kecacatan ini tingkat kecerdasannya tergolong dalam kelas debil, embesil, dan idiot.(Smart, 2012: 45-46) Sedangkan Frances G. Koening (dalam Soemantri, 2006: 123), tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan keturunan, meliputi : a. Club-foot (kaki seperti tongkat) b. Club-hand (tangan seperti tongkat) c. Polydactylism (jari yang lebih dari lima pada masing-masing tangan atau kaki) d. Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan yang lainnya). e. Torticolis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka). f. Spina-bifida (sebagian dari sumsum tulang belakang tidak tertutup). g. Cretinism (kerdil/katai). h. Mycrocephalus (kepala yang kecil, tidak normal). i. Hydrocephalus (kepala yang besar karena berisi cairan). j. Clefpalats (langit-langit mulut yang berlubang). k. Herelip (gangguan pada bibir dan mulut). l. Congenital hip dislocation (kelumpuhan pada bagian paha). 2. Kerusakan pada waktu kelahiran: a. Erb’s palsy (kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau tertarik waktu kelahiran). b. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah). 3. Infeksi a. Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi kaku). b. Osteomyelitis (radang di dalam dan di sekeliling sumsum tulang karena bakteri). c. Poliomyelitis (infeksi virus yang mungkin menyebabkan kelumpuhan). d. Pott’s disease (tuberkulosis sumsum tulang belakang). e. Tuberkulosis pada lutut atau pada sendi lain. 4. Kondisi traumatik atau kerusukan traumatik: a. Amputasi (anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan). b. Kecelakaan akibat luka bakar c. Patah tulang 5. Tumor: a. Oxostosis (tumor tulang) b. Osteosis fibrosa cystica (kista atau kantang yang berisi cairan di dalam tulang).

Tidak ada komentar: