Terdapat beberapa penggolongan tunadaksa menurut para ahli.
Djadja Rahaja (dalam Smart, 2012: 45-46) membagi tunadaksa menjadi dua golongan. Golongan pertama yakni tunadaksa murni, dimana
golongan ini umumnya tidak mengalami gangguan mental atau
kecerdasan, poliomylitis serta cacat ortopedis lainnya. Golongan yang
kedua adalah golongan tunadaksa kombinasi, golongan ini masih ada
yang normal, namun kebanyakan mengalami gangguan mental, seperti
anak cerebral palsy. Sedangkan pendapat lain mengatakan tunadaksa
digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a. Tunadaksa taraf ringan, meliputi tunadaksa murni dan tunadaksa
kombinasi ringan. Umumnya hanya mengalami sedikit gangguan
mental dan kecerdasannya normal. Golongan ini kebanyakan hanya
disebabkan adanya kelainan pada tubuh saja, seperti lumpuh atau
cacat fisik lainnya.
b. Tunadaksa taraf sedang, merupakan tunadaksa akibat cacat bawaan,
cerebral palsy ringan, dan polio ringan. Golongan ini banyak dialami
dari tuna akibat cerebral palsy yang disertai dengan menurunnya daya
ingat walau tidak sampai jauh dibawah normal.
c. Tunadaksa taraf berat, yag termasuk dalam klasifikasi ini adalah tuna
akibat cerebral palsy berat dan ketunaan akibat infeksi. Pada
umumya, anak yang terkena kecacatan ini tingkat kecerdasannya
tergolong dalam kelas debil, embesil, dan idiot.(Smart, 2012: 45-46)
Sedangkan Frances G. Koening (dalam Soemantri, 2006: 123),
tunadaksa dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Kerusakan yang dibawa sejak lahir atau kerusakan yang merupakan
keturunan, meliputi :
a. Club-foot (kaki seperti tongkat)
b. Club-hand (tangan seperti tongkat)
c. Polydactylism (jari yang lebih dari lima pada masing-masing
tangan atau kaki)
d. Syndactylism (jari-jari yang berselaput atau menempel satu dengan
yang lainnya).
e. Torticolis (gangguan pada leher sehingga kepala terkulai ke muka).
f. Spina-bifida (sebagian dari sumsum tulang belakang tidak
tertutup).
g. Cretinism (kerdil/katai).
h. Mycrocephalus (kepala yang kecil, tidak normal).
i. Hydrocephalus (kepala yang besar karena berisi cairan).
j. Clefpalats (langit-langit mulut yang berlubang).
k. Herelip (gangguan pada bibir dan mulut).
l. Congenital hip dislocation (kelumpuhan pada bagian paha).
2. Kerusakan pada waktu kelahiran:
a. Erb’s palsy (kerusakan pada syaraf lengan akibat tertekan atau
tertarik waktu kelahiran).
b. Fragilitas osium (tulang yang rapuh dan mudah patah).
3. Infeksi a. Tuberkulosis tulang (menyerang sendi paha sehingga menjadi
kaku).
b. Osteomyelitis (radang di dalam dan di sekeliling sumsum tulang
karena bakteri).
c. Poliomyelitis (infeksi virus yang mungkin menyebabkan
kelumpuhan).
d. Pott’s disease (tuberkulosis sumsum tulang belakang).
e. Tuberkulosis pada lutut atau pada sendi lain.
4. Kondisi traumatik atau kerusukan traumatik:
a. Amputasi (anggota tubuh dibuang akibat kecelakaan).
b. Kecelakaan akibat luka bakar
c. Patah tulang
5. Tumor:
a. Oxostosis (tumor tulang)
b. Osteosis fibrosa cystica (kista atau kantang yang berisi cairan di
dalam tulang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar