Psychological capital atau modal psikologis seseorang dapat
dikembangkan dan ditingkatkan berdasarkan masing-masing dimensinya.
a. Hope
Snyder, Luthans & Jensen (dalam Luthans, Luthans, & Luthans,
2004) menyampaikan cara mengembangkan harapan (hope) sebagai
berikut:
1) Mengatur dan menglarifikasi target pribadi dan organisasi yang
spesifik dan menantang.
2) Melakukan “metode langkah” untuk memecah target menjadi sublangkah yang dapat diatur sehingga dapat menandai peningkatan
dan membuat pengalaman langsung terkait setidaknya
kemenangan dan kesuksesan kecil.
3) Mengembangkan setidaknya satu alternatif atau jalan
kemungkinan untuk target yang telah disusun dengan disertai
rencana tindakan.
4) Akui kesenangan dalam proses bekerja untuk menggapai target,
dan jangan hanya fokus pada pencapaian akhir. 5) Bersiap dan bersedialah untuk menekuni rintangan dan
permasalahan.
6) Bersiap dan terampil mengetahui kapan dan jalan alternatif mana
yang bisa dipilih ketika rute utama menuju pencapaian target
tidak lagi dapat dilakukan atau tidak lagi produktif.
7) Bersiap dan pintar dalam mengetahui kapan dan bagaimana
menarget kembali untuk menghindari jebakan atau harapan yang
salah.
b. Optimism
Untuk mengembangkan optimisme, Schulman (dalam Luthans,
Luthans, & Luthans, 2004) menjelaskan langkah-langkah berikut:
1) Identifikasi keyakinan menaklukkan diri ketika dihadapkan pada
sebuah tantangan.
2) Evaluasi keakuratan keyakinan.
3) Sekali keyakinan yang tidak berfungsi secara normal tereduksi,
ganti dengan keyakinan yang lebih membangun dan akurat yang
telah dikembangkan.
c. Resiliency
Reivich & Shatte (dalam Luthans, Luthans, & Luthans, 2004)
menjelaskan cara pengembangan resiliensi dengan tahapan berikut: 1) Hindari jebakan pemikiran negatif ketika suatu hal mulai
memburuk.
2) Uji keakuratan keyakinan terhadap permasalahan dan bagaimana
mencari solusi jitu.
3) Tetapkan ketenangan dan kefokusan ketika emosi dan stres
menyerbu.
d. Self-Efficacy atau Confidence
Self-efficacy atau kepercayaan diri dapat dikembangkan dengan
memperhatikan pendekatan yang disusun Bandura (dalam Luthans,
Luthans, & Luthans, 2004) sebagai berikut:
1) Pengalaman ahli atau pencapaian performa.
Hal ini sangat potensial untuk mengembangkan
kepercayaan diri karena melibatkan informasi langsung terkait
sukses. Bagaimanapun, pencapaian tidak secara langsung
membangun kepercayaan diri. Proses situasional, seperti tugas
yang kompleks, dan proses kognitif, seperti persepsi terhadap
kemampuan seseorang, sama-sama berpengaruh terhadap
perkembangan percaya diri.
2) Pengalaman atas nama orang lain atau memperagakan
Jika seseorang melihat orang lain seperti diri mereka
berhasil dengan usaha yang dipertahankan, mereka akan mulai percaya bahwa diri mereka juga memiliki kapasitas untuk
berhasil.
3) Persuasi sosial
Seorang individu yang kompeten dapat membantu
mengembangkan kepercayaan diri orang lain dengan
mempersuasi atau meyakinkan.
4) Rangsangan atau motivasi fisik dan psikis
Orang-orang sering kali bergantung pada apa yang mereka
rasakan, baik secara fisik maupun psikis, untuk mengukur
kapabilitas mereka. Bagaimanapun, kondisi fisik dan mental yang
sempurna dapat menyebabkan tumbuhnya kepercayaan diri .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar