Menurut Ryff (dalam Pappalia, 2009) aspek‐aspek yang menyusun
psychological well‐being antara lain:
a. Penerimaan diri (Self acceptance) yaitu skor lebih tinggi :memiliki sikap
positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima dan banyak aspek
diri, termasuk kualitas baik dan buruk, merasa positif mengenai kehidupan
masa lalu. Sedangkan skor lebih rendah : merasa tidak puas dengan diri,
kecewa dengan apa yang sudah terjadi dalam kehidupan masa lalu bermasalah dengan kualitas pribadi tertentu, berhadap ingin berbeda (dari)
diri yang sekarang.
b. Hubungan positif dengan orang lain (Positive relations with others) yaitu
Skor lebih tinggi : hangat, puas, hubungan yang saling percaya dengan
orang lain, peduli dengan kesejahteraan orang lain, mampu menampilkan
empati, afeksi dan keintiman yang kuat; memahami hubungan manusia
yang memberi dan menerima. Skor lebih rendah :memiliki sedikit
hubungan dekat dan saling percaya dengan orang lain, terasing dan frustasi
dalam hubungan antar pribadi, tidak bersedia membuat kompromi untuk
memelihara ikatan yang penting dengan orang lain.
c. Kemandirian (Autonomy) yaitu skor lebih tinggi : memiliki kebulatan
tekad dan mandiri, mampu menolak tekanan social untuk berpikir dan
bertindak dengan cara-cara tertentu, mengatur perilakunya dari dalam,
mengevaluasi diri dengan standar pribadi. Sedangkan Skor lebih rendah :
khawatir mengenai pengharapan dan evaluasi dari orang lain, bergantung
pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, melakukan
penyesuaian dengan tekanan sosial untuk berpikir dan bertindak dengan
cara-cara tertentu.
d. Penguasaan lingkungan (Environmental mastery) yaitu skor lebih tinggi:
memiliki perasaan penguasaan dan mampu mengelola lingkungan,
mengendalikan jajaran kegiatan eksternal yang rumit; menggunakan
kesempatan di lingkungan sekitar dengan efektif, mampu memilih atau
menciptakan konteks yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai pribadi. Sedangkan skor lebih rendah : kesulitan mengelola urusan sehari-hari,
merasa tidak mampu mengubah atau memperbaiki konteks dilingkungan
sekitarnya, tidak sadar akan peluang dilingkungan sekitarnya, kurangnya
kesadaran akan kendali akan dunia eksternal.
e. Tujuan hidup (Purpose in life) yaitu skor lebih tinggi : memiliki tujuan
hidup dan kesadaran akan keberarahan (directedness) merasa ada makna
dalam kehidupan sekarang dan di masa lalu, memegang keyakinan yang
memberikan tujuan hidup, memiliki tujuan dan sasaran untuk hidup. Skor
lebih rendah: kurangnya perasaan kebermaknaan dalam hidup, memiliki
sedikit tujuan atau sasaran, kurangnya kesadaran akan arah, tidak melihat
tujuan dalam kehidupan masa lalu, tidak memiliki sikap atau keyakinan
yang memberikan makna hidup.
f. Pengembangan pribadi (Personal growth) yaitu skor lebih tinggi:
memiliki perasaan perkembangan yang berkesinambungan, meilihat diri
sebagai diri yang berkembang dan meluas, terbuka akan pengalaman baru,
menyadari potensi sendiri; melihat perbaikan didalam diri dan perilaku
sepanjang waktu, berubah untuk mencerminkan lebih banyak pengetahuan
diri dan keefektifan. Skor lebih rendah: memiliki perasaan kemandekan
pribadi, kurang kesadaran akan perbaikan atau perluasan sepanjang waktu,
merasa bosan (dengan) dan tidak tertarik (dalam) hidup, merasa tidak
mampu mengembangkan berbagai sikap atau perilaku yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar