Selasa, 06 Juli 2021

Tantangan Dalam Mengelola Supply Chain (skripsi dan tesis)

Menurut (Pujawan, 2010) dalam tantangan mengelola supply chain ada dua, yakni : 1. Kompleksitas struktur Supply Chain Suatu Supply Chain biasanya sangat kompleks, melibatkan banyak pihak di dalam maupun di luar perusahaan. Pihak-pihak tersebut sering kali memiliki kepentingan yang berbeda-beda, bahkan tidak jarang bertentangan (conflicting) antara satu dengan yang lainnya. Di dalam perusahaan sendiri pun perbedaan kepentingan ini sering muncul. Sebagai contoh, bagian pemasaran ingin memuaskan pelanggan sehingga sering membuat kesepakatan dengan pelanggan tanpa mengecek secara baik kemampuan bagian produksi. Perubahan jadwal produksi secara tiba-tiba sering harus terjadi karena bagian pemasaran menyepakati perubahan order (pesanan) dari pelanggan. Di sisi lain, bagian produksi biasanya cukup resistant terhadap perubahanperubahan mendadak seperti itu karena akan berakibat pada rendahnya utilitas mesin dan seringnya pengadaan bahan baku harus dimajukan atau diubah. Ini akan membuat membuat kinerja bagian produksi kelihatan kurang bagus. Konflik antar bagian ini merupakan satu tantangan besar dalam mengelola sebuah supply chain. Konflik kepentingan juga sangat jelas terjadi antar perusahaan yanng ada pada supply chain. Supplier menginginkan pembeli untuk memesan produk jauh-jauh hari sebelum waktu pengiriman dan sedapat mungkin pesanan tersebut tidak berubah. Supplier juga akan semakin senang bila pengiriman bisa dilakukan segera setelah produksi selesai. Di sisi lain,   perusahaan pembeli menghendaki fleksibilitas yang tinggi. Mereka akan lebih mudah dalam kegiatan operasinya apabila supplier memberikan keleluasaan untuk mengubah jumlah, spesifikasi, maupun jadwal pengiriman bahan baku yang dipesan. Pembeli juga menginginkan supplier bisa mengirim tepat waktu dengan kuantitas pengiriman kecil (mengikuti model just in time) sehingga pembeli tidak perlu menumpuk persediaan dengan jumlah besar di gudang mereka. Konflik kepentingan juga muncul dalam kaitannya dengan term pembayaran. Supplier menginginkan agar pembeli cepat membayar, sementara pembeli menginginkan term pembayaran yang panjang. Kompleksitas suatu supply chain juga dipengaruhi oleh perbedaan bahasa, zone waktu, dan budaya antar satu perusahaan dengan perusahaan lain. Tentu akan sulit kalau sebuah perusahaan manufaktur di Indonesia harus membeli bahan baku dari Eropa karena perbedaan kepentingan antara mereka lebh sulit dicari titik temunya akibat perbedaan tiga hal tadi. 2. Ketidakpastian Ketidak pastian merupakan sumber kesulitaan pengelolahan suatu supply chain. Ketidakpastian menimbulkan ketidak percayaan diri terhadap rencana yang sudah dibuat. Sebagai akibatnya, perusahaan sering menciptakan pengaman di sepanjang supply chain. Pengaman ini bisa berupa persediaan (safety stock), waktu (safety time), ataupun kapasitas produksi tidak bisa terpenuhi. Dengan kata lain, customer service level akan lebih rendah pada situasi dimana ketidak pastian cukup tinggi. Berdasarkan sumbernya, ada tiga klasifikasi utama ketidak pastian pada supply chain. Pertama adalah ketidak pastian permintaan. Sebuah toko atau supermarket tidak akan pernah bisa memiliki informasi yang pasti berapa suatu produk x akan terjual pada minggu atau hari tertentu. Mereka hanya bisa meramalkan dan kita semua sadar bahwa ramalan hampir selalu tidak benar. Pesanan dari sebuah supermarket ke distributor juga tidak pernah pasti karena berbagai faktor, termasuk adanya kesalahan admintrasi persediaan, 16 adanya syarat jumlah pengiriman minimum dari pabrik, dan keharusan supermarket untuk mengakomodasikan ketidak pastian pelanggan mereka. Demikian juga halnya dengan distributor karena berbagai sebab-sebab tadi. Bahkan semakin ke hulu ketidak pastian permintaan ini biasanya semakin meningkat. Peningkatan ketidak pastian atau variasi permintaan dari hilir ke hulu pada suatu supply chain dinamakan bullwhip effect. Ketidak pastian Kedua berasal dari arah supplier. Ini bisa berupa ketidak pastian pada lead time pengiriman, harga bahan baku atau komponen, ketidakpastian kualitas, serta kuantitas material yang dikirim. Sedangkan sumber yang Ketiga adalah ketidak pastian internal yang bisa diakibatkan oleh kerusakan mesin, kinerja mesin yang tidak sempurna, ketidak hadiran tenaga kerja, serta ketidak pastian waktu maupun kualitas produksi. Besarnya ketidakpastian yang dihadapi tiap-tiap supply chain berbeda-beda. Pada kebanyakan kasus, permintaan pelanggan dianggap mendominasi ketidak pastian supply chain, namun tentu banyak juga kasus dimana ketidak pastian pasokan bahan baku atau komponen menjadi isu yang lebih dominan

Tidak ada komentar: