Kepemimpinan didefinisikan sebagai pemimpin yang mendorong
bawahan untuk menyelesaikan tujuan tertentu, dibagi menjadi dua gaya
dasar, yaitu: kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan
transformasional (Burns, 1978). Pemimpin transaksional dan bawahannya
fokus pada membangun hubungan pertukaran, dimana bawahan bekerja
keras pada pertukaran untuk imbalan (misalnya, tunjangan atau
penghargaan). Namun kepemimpinan transformasional, benar-benar
berbeda dari tipe sebelumnya, berfokus pada peningkatan motivasi dan
meningkatkan standar moral dari pemimpin dan bawahan, yang akan
menghasilkan tingkat komitmen yang lebih tinggi untuk seluruh organisasi
(Stewart, 2006).
Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu teori paling
populer di bidang kepemimpinan. Kepemimpinan transformasional telah
dianggap sebagai topik penting dalam kepemimpinan selama lebih dari 20
tahun (Bruch and Walter, 2007; Long et al., 2014). Minat ini disebabkan
oleh fakta bahwa kepemimpinan transformasional mengarah ke hubungan
positif yang superior dengan bawahan, motivasi kinerja, komitmen, dan
pemimpin yang efektif. Selain itu, dianggap kuat di seluruh kondisi dan berlaku dalam budaya yang berbeda yang semuanya tidak jelas dalam gaya
kepemimpinan lainnya (Ivey and Kline, 2010).
Kepemimpinan transformasional, dikatakan terkait erat dengan
beberapa hasil individu yang sangat penting untuk fungsi organisasi seperti
kreativitas, kepuasan, kinerja, komitmen organisasi, penarikan kerja, kinerja
tugas dan perilaku warga organisasi, dan absensi (Cheung and Wong, 2011;
Omar and Hussin, 2013). Kepemimpinan transformasional dapat artikan
sebagai gaya kepemimpinan motivasi yang mengaitkan penyajian visi
organisasi yang jelas dan menginspirasi karyawan untuk bekerja menuju visi
tersebut melalui membangun hubungan dengan karyawan, memahami
kebutuhan karyawan, dan membantu karyawan mencapai potensi mereka,
berkontribusi pada hasil yang baik untuk organisasi (Fitzgerald and Schutte,
2010). Kepemimpinan transformasional juga dapat dilihat sebagai proses
mengembangkan orang yang mencapai tujuan dan sasaran yang pada
gilirannya mengarah pada pengembangan organisasi. Disini metode yang
digunakan dalam proses lebih penting daripada mencapai tujuan itu sendiri.
Tekanan pada sarana inilah yang membedakan kepemimpinan
transformasional dari tipe kepemimpinan lain (Rao, 2014).
Menurut Fitzgerald and Schutte (2010), pemimpin transformasional
dicirikan oleh kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengartikulasikan
visi, menyediakan model yang tepat, mendorong penerimaan tujuan
kelompok, mengkomunikasikan harapan kinerja tinggi, memberikan
dukungan individual, dan tingkat karisma yang tinggi. Oleh karena itu
10
pemimpin transformasional menggunakan karakteristik ini untuk
meningkatkan harapan kinerja pengikut dan mengubah nilai-nilai pribadi
mereka dan konsep diri menjadi tingkat kebutuhan dan aspirasi yang lebih
tinggi (Cheung and Wong, 2011) dengan menciptakan visi organisasi yang
dinamis yang mengharuskan metamorfosis dalam nilai-nilai budaya untuk
mencerminkan inovasi yang lebih besar (Beugre et al., 2006). Namun,
Pawar and Eastman (1997) mengemukakan bahwa tiga faktor dianggap
instrumental terhadap efektivitas kepemimpinan transformasional. Faktor-faktor ini adalah keterbukaan organisasi untuk berubah, sejauh mana proses
transformasi yang diperlukan oleh posisi organisasi sesuai dengan proses
transformasional yang benar-benar dilakukan, dan kemampuan pemimpin
transformasional untuk melakukan proses yang sesuai.
Menurut Ress (2001), terdapat tujuh asas kepemimpinan
transformasional untuk menciptakan sinergi kepemimpinan, yaitu:
a) Simplifikasi, adalah keberhasilan kepemimpinan dimulai dengan suatu
visi yang hendak menjadi cerminanserta tujuan bersama.
b) Motivasi, adalah kemampuan guna mendapatkan keterikatan setiap orang
yang berperan serta terhadap visi yang telah dijelaskan.
c) Fasilitasi, yakni pada pengertian kemampuan guna secara efektif
memfasilitasi “pembelajaran” yang terjadi pada organisasi selaku
kelembagaan, kelompok, maupun individual. d) Inovasi, adalah kemampuan untuk berani serta bertanggung jawab
melangsungkan suatu perubahan apabila diperlukan dan sebagai suatu
tuntutan beserta perubahan yang timbul.
e) Mobilitas, adalah penggerakan seluruh sumber daya yang dimiliki demi
melengkapi dan memperkuat individu yang terlibat untuk mencapai visi
serta tujuan.
f) Siap Siaga, adalah kapabilitas untuk terus belajar mengenai dirinya
sendiri dan menerima perubahan atas paradigma baru yang efektif.
g) Tekad, adalah kebulatan hati untuk senantiasa sampai pada final,
keinginan untuk mengerjakan tugas dengan bagus dan tuntas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar