Minggu, 04 Juli 2021

Pengertian Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

 Kepemimpinan didefinisikan sebagai pemimpin yang mendorong bawahan untuk menyelesaikan tujuan tertentu, dibagi menjadi dua gaya dasar, yaitu: kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional (Burns, 1978). Pemimpin transaksional dan bawahannya fokus pada membangun hubungan pertukaran, dimana bawahan bekerja keras pada pertukaran untuk imbalan (misalnya, tunjangan atau penghargaan). Namun kepemimpinan transformasional, benar-benar berbeda dari tipe sebelumnya, berfokus pada peningkatan motivasi dan meningkatkan standar moral dari pemimpin dan bawahan, yang akan menghasilkan tingkat komitmen yang lebih tinggi untuk seluruh organisasi (Stewart, 2006). Kepemimpinan transformasional merupakan salah satu teori paling populer di bidang kepemimpinan. Kepemimpinan transformasional telah dianggap sebagai topik penting dalam kepemimpinan selama lebih dari 20 tahun (Bruch and Walter, 2007; Long et al., 2014). Minat ini disebabkan oleh fakta bahwa kepemimpinan transformasional mengarah ke hubungan positif yang superior dengan bawahan, motivasi kinerja, komitmen, dan pemimpin yang efektif. Selain itu, dianggap kuat di seluruh kondisi dan  berlaku dalam budaya yang berbeda yang semuanya tidak jelas dalam gaya kepemimpinan lainnya (Ivey and Kline, 2010). Kepemimpinan transformasional, dikatakan terkait erat dengan beberapa hasil individu yang sangat penting untuk fungsi organisasi seperti kreativitas, kepuasan, kinerja, komitmen organisasi, penarikan kerja, kinerja tugas dan perilaku warga organisasi, dan absensi (Cheung and Wong, 2011; Omar and Hussin, 2013). Kepemimpinan transformasional dapat artikan sebagai gaya kepemimpinan motivasi yang mengaitkan penyajian visi organisasi yang jelas dan menginspirasi karyawan untuk bekerja menuju visi tersebut melalui membangun hubungan dengan karyawan, memahami kebutuhan karyawan, dan membantu karyawan mencapai potensi mereka, berkontribusi pada hasil yang baik untuk organisasi (Fitzgerald and Schutte, 2010). Kepemimpinan transformasional juga dapat dilihat sebagai proses mengembangkan orang yang mencapai tujuan dan sasaran yang pada gilirannya mengarah pada pengembangan organisasi. Disini metode yang digunakan dalam proses lebih penting daripada mencapai tujuan itu sendiri. Tekanan pada sarana inilah yang membedakan kepemimpinan transformasional dari tipe kepemimpinan lain (Rao, 2014). 
Menurut Fitzgerald and Schutte (2010), pemimpin transformasional dicirikan oleh kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengartikulasikan visi, menyediakan model yang tepat, mendorong penerimaan tujuan kelompok, mengkomunikasikan harapan kinerja tinggi, memberikan dukungan individual, dan tingkat karisma yang tinggi. Oleh karena itu 10 pemimpin transformasional menggunakan karakteristik ini untuk meningkatkan harapan kinerja pengikut dan mengubah nilai-nilai pribadi mereka dan konsep diri menjadi tingkat kebutuhan dan aspirasi yang lebih tinggi (Cheung and Wong, 2011) dengan menciptakan visi organisasi yang dinamis yang mengharuskan metamorfosis dalam nilai-nilai budaya untuk mencerminkan inovasi yang lebih besar (Beugre et al., 2006). Namun, Pawar and Eastman (1997) mengemukakan bahwa tiga faktor dianggap instrumental terhadap efektivitas kepemimpinan transformasional. Faktor-faktor ini adalah keterbukaan organisasi untuk berubah, sejauh mana proses transformasi yang diperlukan oleh posisi organisasi sesuai dengan proses transformasional yang benar-benar dilakukan, dan kemampuan pemimpin transformasional untuk melakukan proses yang sesuai. Menurut Ress (2001), terdapat tujuh asas kepemimpinan transformasional untuk menciptakan sinergi kepemimpinan, yaitu: a) Simplifikasi, adalah keberhasilan kepemimpinan dimulai dengan suatu visi yang hendak menjadi cerminanserta tujuan bersama. b) Motivasi, adalah kemampuan guna mendapatkan keterikatan setiap orang yang berperan serta terhadap visi yang telah dijelaskan. c) Fasilitasi, yakni pada pengertian kemampuan guna secara efektif memfasilitasi “pembelajaran” yang terjadi pada organisasi selaku kelembagaan, kelompok, maupun individual.  d) Inovasi, adalah kemampuan untuk berani serta bertanggung jawab melangsungkan suatu perubahan apabila diperlukan dan sebagai suatu tuntutan beserta perubahan yang timbul. e) Mobilitas, adalah penggerakan seluruh sumber daya yang dimiliki demi melengkapi dan memperkuat individu yang terlibat untuk mencapai visi serta tujuan. f) Siap Siaga, adalah kapabilitas untuk terus belajar mengenai dirinya sendiri dan menerima perubahan atas paradigma baru yang efektif. g) Tekad, adalah kebulatan hati untuk senantiasa sampai pada final, keinginan untuk mengerjakan tugas dengan bagus dan tuntas

Tidak ada komentar: