Knowledge sharing merupakan tahapan penyebaran dan
penyediaan pengetahuan diwaktu yang pas untuk karyawan yang
membutuhkan. Knowledge sharing diartikan sebagai kegiatan
memberikan atau menyebarkan pengetahuan milik seseorang, organisasi
ataupun grup untuk orang, organisasi atau grup lain (Lee, 2001).
Melalui knowledge sharing bisa menciptakan ide-ide serta inovasi
yang akan berkontribusi keberlangsungan suatu organisasi. Knowledge
sharing memberi nilai jual lebih sehingga mampu bersaing dengan
organisasi lain. Regenerasi dapat pula terjadi melalui knowledge sharing.
Arti regenerasi disini adalah apabila organisasi kehilangan karyawan
senior (expertise) organisasi akan terus berkembang, karena knowledge
yang dimiliki karyawan senior telah melekat pada organisasi (Gurten,
1999).
Ide-ide baru bagi organisasi bukan berarti ide yang benar-benar
baru yang belum pernah ditemukan, bisa jadi ide baru tersebut adalah ide
yang telah lama ada namun baru diadopsi oleh organisasi dan bisa
digunakan bagi kemajuan organisasi. Selain itu knowledge sharing juga
meningkatkan efisiensi kerja, seperti dicontohkan oleh para staf di software company yang mengakui bahwa pekerjaan mereka cepat
terselesaikan jika dikerjakan oleh beberapa orang, dan ketika ada
masalah para staf saling membantu, menurut mereka hal itu sangat
menghemat waktu (Jasimmudin et al., 2006).
Untuk dapat menumbuhkan budaya knowledge sharing, dan
terlepas dari keuntungan terhadap knowledge sharing, sering karyawan
dari organisasi tidak ingin berbagi pengetahuan dengan kolega mereka
karena takut kehilangan keuntungan yang melekat dalam organisasi.
Meskipun, untuk sharing knowledge sudah ada teknologi untuk itu
namun perilaku manusia dapat mengakibatkan sebuah kegagalan dalam
sharing knowledge.
Knowledge sharing menurut Luban and Hincu (2009), terlihat
bahwa aspek ini dapat diatasi dengan pendekatan strategis tingkat tinggi
yang bertujuan untuk mengubah budaya organisasi yang individual
menjadi budaya yang mau berbagi pengetahuan. Sebuah budaya sangat
memberikan kontribusi untuk memotivasi individu untuk berbagi
pengetahuan dan menyerap pengetahuan yang diterima dan untuk
memfasilitasi aliran pengetahuan antara sumber dan penerima.
Putri and Pangaribuan (2009) berpendapat bahwa untuk
menciptakan budaya berbagi pengetahun perlu melakukan beberapa hal:
1) Membuat know-how yang setiap karyawan mempunyai kesempatan
dan leluasa menentukan metode baru dan inovasi dalam penyelesaian
30
pekerjaan serta adanya peluang untuk memadukan pengetahuan dari
luar ke dalam organisasi.
2) Menangkap serta mengidentifikasi suatu pengetahuan penting dan
disajikan melalui cara yang sistematis.
3) Menempatkan pengetahuan baru di dalam format yang mudah
dijangkau oleh semua karyawan maupun pejabat.
4) Pengetahuan dikelola agar informasi terbaharukan sehingga bisa
direview untuk akurasi serta relevansinya.
5) Penyediaan format pengetahuan harus user friendly agar seluruh
karyawan bisa mengakses serta mengembangkanya setiap waktu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar