Minggu, 04 Juli 2021
Dimensi Kepercayaan (skripsi dan tesis)
Menurut Mayer, Davis, & Schoorman, (1995) ada tiga unsur kepercayaan
dalam karakteristik trustee yaitu ability, benevolence, dan integrity. Ability is the
competence the trustee possesses in the specific domain. Kemampuan menurut
Mayer, Davis, & Schoorman, (1995) adalah keterampilan, kompetensi, dan
karakteristik yang memungkinkan satu pihak memiliki pengaruh dalam domain
tertentu. Kemampuan spesifik trustee mungkin sangat kompeten di beberapa
bidang teknis, memberikan rasa layak dipercaya dengan tugas-tugas yang berkaitan
di area tersebut. Benevolence (perbuatan baik/kebajikan) dilihat dari sejauh mana
trustee diyakini ingin berbuat baik kepada trustor, selain dari motif keuntungan. Benevolence dapat dilihat dari loyalitas, keterbukaan, kepedulian, dan
dukungan. Integrity melihat apakah trustee memiliki nilai-nilai inti untuk
berperilaku. Integritas dapat dinilai dengan memeriksa perilaku sebelumnya,
reputasi, kesamaan antara perilaku trustee dengan keyakinan pribadi trustor dan
konsistensi antara kata-kata dan tindakan (Heyns & Rothmann, 2015). Empirical
evidence from the social-psychological literature on trust in close relationships
supports this distinction between the two forms of trust (McAllister, 1995). Dapat
diartikan bahwa bukti empiris dari literatur sosial-psikologis pada kepercayaan
dalam hubungan yang mendukung perbedaan antara dua bentuk kepercayaan.
Dimensi yang digunakan dalam penelitian ini adalah affect-based trust dan
cognition-based trust dari McAllister (1995). Kepercayaan terdiri dari affectbased trust dan cognitive-based trust, dimana pendekatan ini banyak digunakan
untuk meneliti hubungan antara kepercayaan dengan berbagi pengetahuan (Zhang,
2014; Balogun & Adetula, 2015; Elianto & Wulansari, 2016). Affect based trust
merupakan kecenderungan untuk percaya akan ketulusan dan niat baik seseorang,
sedangkan cognitive based trust yaitu kecenderungan untuk percaya akan
kemampuan dan kompetensi rekan kerja (McAllister, 1995). Kepercayaan
menghormati orang lain karena alasan dan bukti dari kompetensi, tanggung jawab,
dan kehandalan sebagai kriteria untuk menilai kepercayaan. Hingga sekarang,
kedua dimensi masih digunakan dalam penelitian-penelitian terbaru mengenai
kepercayaan (trust) seperti penelitian Zang (2014), Balogun & Adetula (2015),
dan Elianto & Wulansari (2016).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar