Sabtu, 26 Juni 2021
Faktor Psikologis (skripsi dan tesis)
Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi pilihan seseorang
untuk membeli, antara lain:
a. Motivasi: Freud, Maslow, Herzberg
Menurut Kotler Keller (2009: 179) motivasi adalah suatu konsep
yang digunakan ketika dalam diri kita muncul keinginan dan
menggerakkan serta mengarahkan tingkah laku. Sedangkan
menurut Schiffman dan Kanuk (2008:72), Motivasi dapat digambarkan sebagai tenaga pendorong dalam diri individu yang
memaksa mereka untuk bertindak. Tenaga pendorong tersebut
dihasilkan oleh keadaan tertekan, yang timbul sebagai akibat
kebutuhan yang tidak terpenuhi.
Kita semua mempunyai banyak kebutuhan pada waktu tertentu.
Beberapa kebutuhan bersifat biogenic; kebutuhan itu timbul dari
keadaan tekanan psikologis seperti rasa lapar, rasa haus, atau rasa
tidak nyaman. Kebutuhan lain bersifat psikogenik; kebutuhan yang
timbul dari keadaan tekanan psikologis seperti kebutuhan akan
pengakuan, penghargaan, atau rasa memiliki. Kebutuhan menjadi
motif (motive) ketika kebutuhan itu meningkat sampai tingkat
intensitas yang cukup sehingga mendorong kita bertindak. Motivasi
dua arah―kita memilih satu tujuan di atas tujuan lainnya―dan
intensitas―energi yang kita gunakan untuk mengejar tujuan. Tiga
teori terkenal tentang motivasi manusia―teori Sigmund Freud,
Abraham Maslow, dan Frederick Herzberg―membawa implikasi
yang cukup berbeda bagi analisis konsumen dan strategi
pemasaran.
i. Teori Freud
Sigmund Freud mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis
yang membentuk perilaku seseorang sebagian besar adalah
ketidaksadaran, dan bahwa seseorang tidak dapat memahami
secara penuh motivasinya sendiri. Ketika seseorang
mengamati merek tertentu, ia tidak hanya bereaksi terhadap kemampuan yang dinyatakan produk tersebut, tetapi juga
terhadap tanda lain yang kurang disadari seperti bentuk,
ukuran, berat, bahan, warna, dan nama merek. Satu teknik
yang disebut teknik tangga (laddering) memungkinkan kita
melacak motivasi seseorang dari motivasi instrumental yang
dinyatakan sampai motivasi yang lebih terminal.
ii. Teori Maslow
Abraham Maslow berusaha menjelaskan mengapa orang
didorong oleh kebutuhan tertentu pada waktu tertentu.
Jawabannya adalah bahwa kebutuhan manusia diatur dalam
hierarki dari yang paling menekan sampai yang paling tidak
menekan―kebutuhan psikologis, kebutuhan keamanan,
kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan, dan
kebutuhan aktualisasi diri. Orang-orang akan berusaha
memuaskan kebutuhan terpentingnya terlebih dahulu. Ketika
seseorang berhasil memuaskan sebuah kebutuhan penting,
iii. Teori Herzberg
Frederick Herzberg mengembangkan teori dua faktor yang
membedakan ketidakpuasan/dissatisfier (faktor-faktor yang
menyebabkan ketidakpuasan) dari kepuasan/satisfier (faktor
yang menyebabkan kepuasan). Ketiadaan dissatisfier tidak
cukup untuk memotivasi pembelian; harus ada satisfier. Teori
Herzberg mempunyai dua implikasi. Pertama, penjual
seharusnya melakukan yang terbaik untuk menghindari ketidakpuasan (misalnya, manual pelatihan yang buruk atau
kebijakan layanan yang buruk). Meskipun hal ini tidak akan
menjual produk, hal ini mengakibatkan produk tidak mudah
terjual. Kedua, penjual harus mengidentifikasi setiap
kepuasan atau motivator utama pembelian di pasar dan
kemudian memasok mereka.
b. Persepsi
Persepsi (perception) adalah proses di mana kita memilih,
mengatur, dan menerjemahkan masukan informasi untuk
menciptakan gambaran dunia yang berarti. Poin utamanya adalah
bahwa persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik,
tetapi juga pada hubungan rangsangan terhadap bidang yang
mengelilinginya dan kondisi dalam setiap diri kita. Dalam
pemasaran, persepsi lebih penting daripada realitas, karena persepsi
konsumen mempengaruhi perilaku aktual konsumen. Orang bisa
mempunyai persepsi berbeda tentang obyek yang sama karena tiga
proses pemahaman: atensi selektif, distorsi selektif, dan retensi
selektif.
i. Atensi Selektif
Atensi-perhatian adalah alokasi pemrosesan kapasitas
terhadap beberapa rangsangan. Atensi sukarela adalah
sesuatu yang bermakna; tak sukarela disebabkan oleh
seseorang atau sesuatu. Diperkirakan bahwa rata-rata orang
terpapar oleh lebih dari 1.500 iklan atau komunikasi merek sendiri. Karena kita tidak mungkin dapat mendengarkan
semua ini, kita menyortir sebagian besar rangsangan
tersebut―sebuah proses yang disebut atensi selektif
(selective attention). Atensi selektif berarti bahwa pemasar
harus bekerja keras untuk menarik atensi konsumen.
ii. Distorsi Selektif
Distorsi selektif(selective distortion) adalah kecenderungan
untuk menerjemahkan informasi dengan cara yang sesuai
dengan konsepsi awal kita. Konsumen sering mendistorsi
informasi agar konsisten dengan keyakinan dan ekspektasi
dari merek dan produk yang sudah ada sebelumnya.
iii. Retensi Selektif
Sebagian besar dari kita tidak mengingat kebanyakan
informasi yang dipaparkan kepada kita, tetapi kita
mempertahankan informasi yang mendukung sikap dan
keyakinan kita. Karena retensi selektif (selective retention),
kita akan mengingat poin bagus tentang sebuah produk yang
kita sukai dan melupakan poin bagus tentang produk pesaing.
Retensi selektif sekali lagi bekerja untuk keunggulan merekmerek kuat.
c. Pembelajaran
Ketika kita bertindak, kita belajar. Pembelajaran (learning)
mendorong perubahan dalam perilaku kita yang timbul dari
pengalaman. Sebagian besar perilaku manusia dipelajari, meskipun sebagian besar pembelajaran itu tidak sengaja. Ahli teori
pembelajaran percaya bahwa pembelajaran dihasilkan melalui
interaksi dorongan, ransangan, pertanda, respons, dan penguatan.
d. Memori
Semua informasi dan pengalaman yang kita hadapi ketika kita
menjalani hidup dapat berakhir di memori jangka panjang kita.
Ahli psikologi kognitif membedakan antara memori jangka pendek
(short term memory―STM)―penyimpanan informasi temporer
dan terbatas―dan memori jangka panjang (long term
memory)―penyimpanan yang lebih permanen dan pada dasarnya
tak terbatas. Pandangan struktur memori jangka panjang yang
paling diterima secara luas mengasumsikan kita membentuk
beberapa model asosiatif. Misalnya, model memori jaringan
asosiatif (associative network memory model) memandang LTM
sebagai sekumpulan node dan penghubung. Node adalah informasi
tersimpan yang dihubungkan dengan penghubung yang
kekuatannya bervariasi.
Dalam model ini, kita dapat menganggap pengetahuan merek
konsumen sebagai node dalam memori dengan berbagai asosiasi
yang terhubung. Kekuatan dan organisasi asosiasi ini akan menjadi
determinan penting dari informasi yang dapat kita ingat tentang
merek. Asosiasi merek (brand association) terdiri dari semua
pikiran, perasaan, persepsi, citra, pengalaman, kepercayaan, sikap, dan sebagainya yang berkaitan dengan merek dan berhubungan
dengan node merek.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar