Jumat, 06 November 2020

Hubungan Antara Kontrol Diri Dengan Risk Taking Behavior (skripsi dan tesis)

Risk taking behavior merupakan suatu bentuk keputusan dalam berperilaku yang akan berakibat risiko, dimana kemungkinan individu akan menerima risiko negatif lebih besar daripada konsekuensi risiko positif. Pada masa remaja individu akan lebih sering melakukan risk taking behavior, karena pada masa remaja individu barada pada suatu krisis identitas diri. Banyak risk taking behavior yang terjadi pada kalangan remaja, misalnya kenakalan remaja, minum-minuman alkohol dan penggunaan NAPZA, melakukan seks pranikah, dll. Apalagi di zaman yang moderen ini, banyak remaja yang seolah beranggapan bahwa apabila tidak melakukan risk taking behavior maka mereka belum mengaggap dirinya unik. Di lain sisi, karena pada masa remaja individu ingin  di akui dalam kelompoknya, maka mereka rela melakukan apa saja termasuk dalam hal risk taking behavior. Perilaku para remaja yang menkonsumsi alkohol, berkelahi, dan melakukan aksi perusakan dalam dunia psikologi dapat dikategorikan sebagai rebellious behaviors (perilaku memberontak) dan antisocial behaviors (perilaku antisosial) yang termasuk dalam tipe-tipe risk taking behavior. Hal ini berarti perilaku yang dilakukan para remaja tersebut berada pada perilaku yang hanya memiliki kesenangan sesaat, yang kemudian akan merugikan diri mereka sendiri bahkan bisa mengganggu lingkungan sekitar. Sehingga akibat yang terjadi dari risk taking behavior pun dapat merugikan diri sendiri baik dari kesehatan maupun mental serta lingkungan sekitar. Remaja yang melakukan risk taking behavior kebanyakan kurang menggunakan kontrol diri dengan baik sehingga kejadian risk taking behavior semakin hari semakin meningkat. 
Menurut Goldfried dan Merbaum (dalam Ghufron, 2010) mendefiniskan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi yang positif. Kontrol diri yang lemah pada seseorang mengarah pada konsekuensi negatif, yang akan merugikan orang lain dan juga merugikan dirinya sendiri. Kontrol diri merupakan suatu hal psikologis yang harus dapat dikendalikan oleh setiap individu agar individu dapat terhindar dari perilaku-perilaku yang berbahaya dan berisiko. Santrock (2002) menyebutkan bahwa masa remaja merupakan suatu periode transisi antara masa kanak-kanak dan orang dewasa meliputi perubahan-perubahan biologis, kognitif dan sosioemosional. Pada tahap ini remaja menjadi rentan terhadap hal-hal yang baru mereka alami (perubahan fisik dan situasi sosial) sehingga emosi mereka menjadi labil, dan belum secara penuh dan sadar menyadari arti dari setiap peristiwa yang dialami.Hubungan kontrol diri dikalangan remaja sangat mempengaruhi terhadap risk taking behavior. Remaja yang mempunyai kontrol diri yang baik, maka mereka akan dapat menghindari risk taking behavior meskipun berada dalam lingkungan yang mendukung risk taking behavior. Sedangkan pada remaja yang kurang dapat mengontrol dirinya dengan baik, maka individu juga kurang dapat menghindari risk taking behavior sehingga mengakibatkan risk taking behavior semakin meningkat. Dengan meningkatnya risk taking behavior tersebut peneliti ingin mengetahui apakah ada hubungan antara kontrol diri dengan risk taking behavior pada remaja.

Tidak ada komentar: