Penekanan anggaran merupakan usaha yang dilakukan oleh
bawahan untuk mencapai peluang-peluang tertentu yang menguntungkan.
Armaeni (2012:82) mengatakan bahwa penekanan anggaran terjadi ketika
target anggaran dalam suatu instansi dijadikan sebagai tolok ukur kinerja
bawahan, atau adanya pemberian insentif moneter seperti bonus ketika
target anggaran tersebut tercapai. Ketika anggaran menjadi satu-satunya
tolok ukur penilaian kinerja karyawan/bawahan dalam sebuah instansi,
maka karyawan/bawahan cenderung akan melakukan berbagai hal dalam
meningkatkan kinerjanya agar terlihat baik dan terus mendapat
kepercayaan (Anggasta,2014). Hal ini didasari dengan teori yang
dikemukakan Suartana (2010:138) bahwa penilaian kinerja berdasarkan
tercapai atau tidaknya target anggaran akan mendorong bawahan untuk
menciptakan slack dengan tujuan meningkatkan prospek kompensasi
kedepannya. Standar kinerja yang ditentukan dengan anggaran akan
membuat seseorang berusaha menekan anggaran sebisa mungkin sehingga
anggaran tersebut mudah untuk dicapai.
Penggunaan faktor penekanan anggaran sebagai variabel yang
mempengaruhi terjadinya budgetary slack sudah dilakukan dalam
beberapa penelitian terdahulu. Alfebriano (2013:16) dalam penelitiannya
menyatakan bahwa penekanan anggaran tidak berpengaruh signifikan
terhadap budgetary slack. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Irfan
(2016:172) menyatakan bahwa dalam interaksi partisipasi penganggaran
dan penekanan anggaran terhadap senjangan anggaran terdapat hubungan
yang negatif.
Berbeda dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Armaeni
(2012) yang menyatakan bahwa penekanan anggaran berpengaruh secara
positif terhadap senjangan anggaran. Hasil penelitian tersebut didukung
oleh penelitian selanjutnya, yaitu penelitian yang dilakukan oleh Putra
(2015), Apriadinata (2014) dan yang dilakukan oleh Anggasta (2014) yang
menyatakan adanya hubungan positif antara penekanan anggaran dengan
budgetary slack
Tidak ada komentar:
Posting Komentar