Kamis, 08 Oktober 2020

Aspek Perilaku dalam Anggaran (skripsi dan tesis)

 Aspek perilaku dalam anggaran menurut Ikhsan (2010:163) yaitu: “Aspek perilaku dalam penganggaran menggambarkan perilaku manusia yang terlibat dalam proses penyiapan anggaran dan perilaku manusia yang mencoba hidup dengan anggaran. Perilaku yang positif dapat berupa peningkatan kerja manajer karena termotivasi oleh anggaran yang digunakan sebagai dasar penilaian kinerja mereka. Sedangkan, perilaku negatif yang mungkin timbul sebagai akibat dari penganggaran dapat memicu terjadinya berbagai konsekuensi disfungsional, seperti: 1. Rasa tidak percaya. 2. Resistensi 3. Konflik internal 4. Efek samping lain yang tidak diinginkan.” 
 Berbagai kondisi disfungsional akibat aspek perilaku negatif dalam penganggaran tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Rasa tidak percaya Suatu anggaran terdiri atas seperangkat tujuan-tujuan tertentu. Walaupun anggaran tersebut dapat disesuaikan untuk kejadian-kejadian yang tidak diantisipasi, anggaran menampilkan kesan infleksibilitas. Anggaran merupakan suatu sumber tekanan yang dapat menimbulkan rasa tidak percaya, rasa permusuhan, dan mengarah pada kinerja yang menurun. 2. Resistensi Literatur dalam bidang sosial, dan perilaku organisasi telah menggambarkan fenomena dari resistensi karyawan untuk berubah. Banyak orang menjadi terbiasa dengan cara-cara tertentu untuk memandang kejadian, serta tidak tertarik untuk berubah. Alasan lain dari resistensi anggaran adalah bahwa proses anggaran memerlukan waktu dan perhatian yang besar. Manajer atau penyedia mungkin merasa terlalu terbebani dengan adanya permintaan yang ekstensif atas waktu mereka dan tanggung jawab rutin mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ingin untuk terlibat dalam proses penyusunan anggaran. 3. Konflik internal Konflik internal menciptakan suatu lingkungan kerja yang kompetitif dan bermusuhan. Konflik dapat menyebabkan orang berfokus pada kebutuhan departemennya sendiri secara eksklusif daripada kebutuhan organisasi secara total. Situasi ini menyebabkan keselarasan tujuan menjadi lebih sulit, bahkan mustahil untuk dicapai. Hal tersebut menimbulkan kebencian kepada manajemen dan juga anggaran. 4. Efek samping lain yang tidak diinginkan Efek lain yang tidak diinginkan salah satunya adalah anggaran seringkali dipandang sebagai alat tekanan manajerial. Sehingga, bawahan seringkali melakukan berbagai tindakan disfungsional, yaitu dengan memasukkan faktor slack dalam target anggaran mudah dicapai. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku individu memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyusunan anggaran. Perilaku positif dari pembuat anggaran dapat mendorong terbentuknya anggaran yang baik, sedangkan perilaku negatif dapat menyebabkan anggaran menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, pada saat penganggaran diperlukan sense of participation dalam setiap individu pembuat anggaran

Tidak ada komentar: