Aspek perilaku dalam anggaran menurut Ikhsan (2010:163) yaitu:
“Aspek perilaku dalam penganggaran menggambarkan perilaku manusia yang
terlibat dalam proses penyiapan anggaran dan perilaku manusia yang mencoba hidup
dengan anggaran. Perilaku yang positif dapat berupa peningkatan kerja manajer
karena termotivasi oleh anggaran yang digunakan sebagai dasar penilaian kinerja
mereka. Sedangkan, perilaku negatif yang mungkin timbul sebagai akibat dari
penganggaran dapat memicu terjadinya berbagai konsekuensi disfungsional, seperti:
1. Rasa tidak percaya.
2. Resistensi
3. Konflik internal
4. Efek samping lain yang tidak diinginkan.”
Berbagai kondisi disfungsional akibat aspek perilaku negatif dalam penganggaran
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Rasa tidak percaya
Suatu anggaran terdiri atas seperangkat tujuan-tujuan tertentu. Walaupun
anggaran tersebut dapat disesuaikan untuk kejadian-kejadian yang tidak
diantisipasi, anggaran menampilkan kesan infleksibilitas. Anggaran
merupakan suatu sumber tekanan yang dapat menimbulkan rasa tidak percaya,
rasa permusuhan, dan mengarah pada kinerja yang menurun.
2. Resistensi
Literatur dalam bidang sosial, dan perilaku organisasi telah menggambarkan
fenomena dari resistensi karyawan untuk berubah. Banyak orang menjadi
terbiasa dengan cara-cara tertentu untuk memandang kejadian, serta tidak
tertarik untuk berubah. Alasan lain dari resistensi anggaran adalah bahwa
proses anggaran memerlukan waktu dan perhatian yang besar. Manajer atau
penyedia mungkin merasa terlalu terbebani dengan adanya permintaan yang
ekstensif atas waktu mereka dan tanggung jawab rutin mereka. Oleh karena
itu, mereka tidak ingin untuk terlibat dalam proses penyusunan anggaran.
3. Konflik internal
Konflik internal menciptakan suatu lingkungan kerja yang kompetitif dan
bermusuhan. Konflik dapat menyebabkan orang berfokus pada kebutuhan
departemennya sendiri secara eksklusif daripada kebutuhan organisasi secara total. Situasi ini menyebabkan keselarasan tujuan menjadi lebih sulit, bahkan
mustahil untuk dicapai. Hal tersebut menimbulkan kebencian kepada
manajemen dan juga anggaran.
4. Efek samping lain yang tidak diinginkan
Efek lain yang tidak diinginkan salah satunya adalah anggaran seringkali
dipandang sebagai alat tekanan manajerial. Sehingga, bawahan seringkali
melakukan berbagai tindakan disfungsional, yaitu dengan memasukkan faktor
slack dalam target anggaran mudah dicapai.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku
individu memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyusunan anggaran.
Perilaku positif dari pembuat anggaran dapat mendorong terbentuknya anggaran yang
baik, sedangkan perilaku negatif dapat menyebabkan anggaran menjadi tidak efektif.
Oleh karena itu, pada saat penganggaran diperlukan sense of participation dalam
setiap individu pembuat anggaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar