Masa remaja adalah masa peralihan dari seorang anak menuju
kedewasaan. Pada masa remaja, kematangan emosi individu sedang
berkembang. Menurut Santrock (Hardani (Ed), 2007 :201) remaja tidak
mengetahui bagaimana cara mengekspresikan perasaan mereka dengan benar.
Remaja dapat merasa marah kepada orang tua tanpa ada provokasi dan
memproyeksikan perasaan-perasaan tidak menyenangkan kepada orang lain.
Menurut Rosenblum dan Lewis, (Santrock, Hardani (Ed) 2007 : 201) remaja
memiliki suasana hati yang berubah-ubah dan remaja juga cenderung
memiliki suasana hati yang lebih negatif.
Menurut Saarni (Santrock, Hardani (Ed) 2007:203) kompetensi
emosional remaja di dalam diri tidak berkaitan dengan ekspresi luar. Pada
saat remaja menjadi lebih matang, maka remaja mulai memahami bagaimana
perilaku emosionalnya dapat mempengaruhi orang lain, dan belajar
mempertimbangkan. Kemampuan remaja untuk mempertimbangkan sesuatu
berkaitan dengan aspek proaktivitas yaitu kemampuan memilih respon. Pada
dasarnya setiap remaja memiliki kemampuan untuk memilih respon yang
tepat dalam menghadapi segala situasi, namun kemampuan memilih respon
tidak datang dengan sendirinya melainkan perlu dilatih.
Proaktivitas dapat membantu remaja agar dapat mencapai kompetensi
emosional yang harus dicapai. Proaktivitas dapat melatih remaja untuk
mengelola emosi dengan membiasakan diri mengambil keputusan yang
mandiri dan bertanggung jawab. Desmita (2006:194) berpendapat secara
kognitif pada masa remaja terjadi reorganisasi lingkaran saraf prontal lobe
(belahan otak bagian depan sampai pada belahan atau celah sentral). Menurut
Carol dan David, (Desmita, 2006:194) Prontal Lobe berfungsi dalam aktifitas
kognitif tingkat tinggi, seperti kemampuan merumuskan sebuah perencanaan
atau kemampuan untuk mengambil keputusan. Pada fase remaja, individu sudah dapat membuat perancanaan dan mengambil keputusan yang sesuai
dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar