Berdasarkan teori keuangan keperilakuan, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa mispricing
tercipta karena misinformed, permintaan–permintaan yang disebabkan bias dan eksogenitas yang tidak
dapat diperbaiki oleh arbitrageurs. Sejalan dengan konsep tersebut, peneliti menduga return
dipengaruhi oleh shocks terhadap permintaan saham-saham emiten yang mudah digerakkan oleh
sentimen investor terutama emiten yang beroperasi di industri yang relatif muda dan masih
berpotensi untuk berkembang seperti di Indonesia. Karakteristik industri seperti ini memiliki
volatilitas yang tinggi, sangat kompleks untuk dipahami dan dinilai karena memiliki proyek-proyek
yang berisiko, ketergantungan yang tinggi pada aset-aset tidak berwujud dan research and
development (R and D), dan memiliki potensi pertumbuhan sehingga sentimen investor memiliki
peranan yang lebih besar dari pada industri-industri yang ada di negara maju seperti industri yang ada
Amerika Serikat, Britania Raya, Jepang, dan lainnya (Sekkat and Valjamets, 2016). Semakin banyak
asumsi yang perlu dibuat dalam melakukan proses valuasi, maka semakin besar pula faktor
subjektivitas yang membentuk sentimen investor.
Realita yang ada di industri saat ini adalah industri terdiri dari perusahaan yang memiliki
siklus pertumbuhan yang berbeda, laba historis yang beragam, risiko yang berbeda, ukuran yang
berbeda, dan kompleksitas yang berbeda. Industri yang terdiri dari beberapa emiten yang dinilai
secara subyektif lebih dipengaruhi oleh sentimen investor daripada industri yang sebagian besar terdiri
dari emiten yang stabil dan memiliki riwayat arus kas yang dapat dilacak, siklus pertumbuhan yang
moderat, dan kurangnya ruang untuk asumsi yang meningkatkan ketidakpastian. Selain itu, setiap
pihak memiliki perspektif arbitrase yang berbeda satu sama lainnya. Hal tersebut sejalan dengan teori
yang mengatakan bahwa jenis perusahaan yang memiliki umur yang muda, tidak menguntungkan,
mudah berubah dengan prospek pertumbuhan yang tinggi, lebih sulit untuk melakukan arbitrase
(D'Avolio, 2002). Karakteristik industri-industri seperti itu lebih rentan terhadap spekulasi dan risiko
yang pada akhirnya membatasi proses arbitrase. Proses arbitrase yang terbatas tersebut membuat
saham-saham industri tersebut menjadi lebih mahal, melumpuhkan beberapa usaha arbitrase yang
dilakukan oleh para arbitrageurs, dan pada akhirnya mencegah harga fundamental sebuah saham
kembali ke titik ekuilibrium. Alasan dibalik prediksi hubungan negatif ini juga didasari oleh adanya
sanggahan terhadap gagasan sentimen investor yang tinggi menghasilkan peningkatan nilai aset yang
kontemporan. Kenaikan sementara harga aset (kenaikan temporer) ini nantinya disesuaikan turun oleh
pelaku pasar sehingga menghasilkan hubungan negatif diantara keduanya (Xu and Green, 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar