Kamis, 16 April 2020

Pengaruh Sentimen Investor terhadap Return Industri (skripsi dan tesis)

Berdasarkan teori keuangan keperilakuan, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa mispricing tercipta karena misinformed, permintaan–permintaan yang disebabkan bias dan eksogenitas yang tidak dapat diperbaiki oleh arbitrageurs. Sejalan dengan konsep tersebut, peneliti menduga return dipengaruhi oleh shocks terhadap permintaan saham-saham emiten yang mudah digerakkan oleh sentimen investor terutama emiten yang beroperasi di industri yang relatif muda dan masih berpotensi untuk berkembang seperti di Indonesia. Karakteristik industri seperti ini memiliki volatilitas yang tinggi, sangat kompleks untuk dipahami dan dinilai karena memiliki proyek-proyek yang berisiko, ketergantungan yang tinggi pada aset-aset tidak berwujud dan research and development (R and D), dan memiliki potensi pertumbuhan sehingga sentimen investor memiliki peranan yang lebih besar dari pada industri-industri yang ada di negara maju seperti industri yang ada Amerika Serikat, Britania Raya, Jepang, dan lainnya (Sekkat and Valjamets, 2016). Semakin banyak asumsi yang perlu dibuat dalam melakukan proses valuasi, maka semakin besar pula faktor subjektivitas yang membentuk sentimen investor.
Realita yang ada di industri saat ini adalah industri terdiri dari perusahaan yang memiliki siklus pertumbuhan yang berbeda, laba historis yang beragam, risiko yang berbeda, ukuran yang berbeda, dan kompleksitas yang berbeda. Industri yang terdiri dari beberapa emiten yang dinilai secara subyektif lebih dipengaruhi oleh sentimen investor daripada industri yang sebagian besar terdiri dari emiten yang stabil dan memiliki riwayat arus kas yang dapat dilacak, siklus pertumbuhan yang moderat, dan kurangnya ruang untuk asumsi yang meningkatkan ketidakpastian. Selain itu, setiap pihak memiliki perspektif arbitrase yang berbeda satu sama lainnya. Hal tersebut sejalan dengan teori yang mengatakan bahwa jenis perusahaan yang memiliki umur yang muda, tidak menguntungkan, mudah berubah dengan prospek pertumbuhan yang tinggi, lebih sulit untuk melakukan arbitrase (D'Avolio, 2002). Karakteristik industri-industri seperti itu lebih rentan terhadap spekulasi dan risiko yang pada akhirnya membatasi proses arbitrase. Proses arbitrase yang terbatas tersebut membuat saham-saham industri tersebut menjadi lebih mahal, melumpuhkan beberapa usaha arbitrase yang dilakukan oleh para arbitrageurs, dan pada akhirnya mencegah harga fundamental sebuah saham kembali ke titik ekuilibrium. Alasan dibalik prediksi hubungan negatif ini juga didasari oleh adanya sanggahan terhadap gagasan sentimen investor yang tinggi menghasilkan peningkatan nilai aset yang kontemporan. Kenaikan sementara harga aset (kenaikan temporer) ini nantinya disesuaikan turun oleh pelaku pasar sehingga menghasilkan hubungan negatif diantara keduanya (Xu and Green, 2012)

Tidak ada komentar: