Model asset pricing tradisional menggunakan formula penilaian harga yang menggunakan
basis maksimisasi expected utility dan formula tersebut berdasarkan pada penilaian kognitif di situasi
yang berisiko. Para agen tersebut menggunakan keputusan rasional didalam mengambil keputusan
dengan menggunakan infomasi eksogen yang esensial dan peramalan yang rasional sehingga sentimen
atau faktor emosional tidak termasuk didalamnya. Argumen ini didukung oleh pernyataan Pixley
(2002) yang mengatakan “Economics ignores passions like greed . . . by transmuting them to
allegedly more predictable, less emotional and completely rational motives of self-interest”.
Pendapat ini menduga bahwa para agen ekonomi tersebut membentuk sebuah anggapan
(belief) dan mengambil keputusan tidak hanya menggunakan basis evaluasi kognitif sebagai bentuk
antisipasi outcomes dan probabilitas sebuah peristiwa yang akan terjadi, tetapi juga menggunakan
penilaian afektif dari informasi-informasi yang mereka miliki dan kondisi-kondisi yang menggugah
regulatitas aspek emosional. Pada beberapa situasi tertentu, emosi timbul dari informasi mengenai
outcomes dan probabilitas. Hal tersebut juga menimbulkan regularitas emosional. Teori keperilakuan
menunjukkan bahwa kekuatan emosi yang pesimis meningkat ketika para agen ekonomi menghadapi
situasi yang ambigu tetapi emosi yang pesimistis tersebut akan berkurang ketika peristiwa yang dihadapinya tersebut sesuai dengan bentuk mentally vivid (Nisbett and Ross, 1980; Einhorn and
Hogarth, 1986).
Setiap individu selalu menyesuaikan diri dengan norma sosial sehingga faktor emosi
terkadang menjadi pertimbangan seorang individu membuat keputusan. Zafar (2008) menemukan
bahwa individu suka menyesuaikan diri dan mendapatkan kesejahteraan emosional hanya dengan
membuat keputusan yang identik dengan pola perbandingan sosial yang sudah terlebih dahulu dibuat
oleh pihak lainnya. Reaksi atau perasaan emosional mengakibatkan seseorang berperilaku dengan
bias. Meskipun mereka berusaha memaksimalkan utilitas yang diharapkan, mereka mungkin
menggunakan informasi yang 'salah'. Selain itu, mereka dapat memperbarui keyakinan mereka
dengan menggunakan evaluasi afektif untuk menilai ukuran kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) dan evaluasi kognitif mereka terhadap pola konsumsi. Faktor emosi menjadi sebuah hal yang
penting karena mereka menentukan perilaku agen secara langsung maupun secara tidak langsung
dengan mempengaruhi evaluasi kognitif individu. Dengan memasukkan faktor emosi individu
sebagai pertimbangan untuk menilai harga aset mengimplikasikan bahwa sentimen investor dapat
menjadi penentu langsung harga aset dan juga risiko
Tidak ada komentar:
Posting Komentar