Kamis, 16 April 2020

Pengaruh Penambahan Sentimen Investor terhadap Three-Factor Asset Pricing Model (skripsi dan tesis)

Model asset pricing tradisional menggunakan formula penilaian harga yang menggunakan basis maksimisasi expected utility dan formula tersebut berdasarkan pada penilaian kognitif di situasi yang berisiko. Para agen tersebut menggunakan keputusan rasional didalam mengambil keputusan dengan menggunakan infomasi eksogen yang esensial dan peramalan yang rasional sehingga sentimen atau faktor emosional tidak termasuk didalamnya. Argumen ini didukung oleh pernyataan Pixley (2002) yang mengatakan “Economics ignores passions like greed . . . by transmuting them to allegedly more predictable, less emotional and completely rational motives of self-interest”. Pendapat ini menduga bahwa para agen ekonomi tersebut membentuk sebuah anggapan (belief) dan mengambil keputusan tidak hanya menggunakan basis evaluasi kognitif sebagai bentuk antisipasi outcomes dan probabilitas sebuah peristiwa yang akan terjadi, tetapi juga menggunakan penilaian afektif dari informasi-informasi yang mereka miliki dan kondisi-kondisi yang menggugah regulatitas aspek emosional. Pada beberapa situasi tertentu, emosi timbul dari informasi mengenai outcomes dan probabilitas. Hal tersebut juga menimbulkan regularitas emosional. Teori keperilakuan menunjukkan bahwa kekuatan emosi yang pesimis meningkat ketika para agen ekonomi menghadapi situasi yang ambigu tetapi emosi yang pesimistis tersebut akan berkurang ketika peristiwa yang dihadapinya tersebut sesuai dengan bentuk mentally vivid (Nisbett and Ross, 1980; Einhorn and Hogarth, 1986). Setiap individu selalu menyesuaikan diri dengan norma sosial sehingga faktor emosi terkadang menjadi pertimbangan seorang individu membuat keputusan. Zafar (2008) menemukan bahwa individu suka menyesuaikan diri dan mendapatkan kesejahteraan emosional hanya dengan membuat keputusan yang identik dengan pola perbandingan sosial yang sudah terlebih dahulu dibuat oleh pihak lainnya. Reaksi atau perasaan emosional mengakibatkan seseorang berperilaku dengan bias. Meskipun mereka berusaha memaksimalkan utilitas yang diharapkan, mereka mungkin menggunakan informasi yang 'salah'. Selain itu, mereka dapat memperbarui keyakinan mereka dengan menggunakan evaluasi afektif untuk menilai ukuran kesejahteraan emosional (emotional wellbeing) dan evaluasi kognitif mereka terhadap pola konsumsi. Faktor emosi menjadi sebuah hal yang penting karena mereka menentukan perilaku agen secara langsung maupun secara tidak langsung dengan mempengaruhi evaluasi kognitif individu. Dengan memasukkan faktor emosi individu sebagai pertimbangan untuk menilai harga aset mengimplikasikan bahwa sentimen investor dapat menjadi penentu langsung harga aset dan juga risiko

Tidak ada komentar: