Agar
tercipta suatu sistem informasi yang baik artinya sistem dapat berjalan
seefektif mungkin dalam suatu perusahaan maka terdapat beberapa prinsip
diantaranya, mengenai costawareness,
maksudnya suatu sistem haruslah sesuai pengguna dan biaya yang dikeluarkannya; usefull output, yaitu informasinya yang
digunakan haruslah dapat dimengerti, relevan dan akurat ; flexible, suatu sistem informasi akuntansi haruslah dapat
mengakomodasikan keinginan dari pengguna dan perubahan dari kebutuhan informasi
yang diperlukan.
Soegiharto
(2001) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa ada beberapa faktor yang
berpengaruh pada kinerja sistem informasi, antara lain:
1.
Menurut Tjhai Fung Jen (2002) dalam Luciana
(2007) bahwa keterlibatan pemakai yang semakin sering akan meningkatkan kinerja
sistem informasi akuntansi dikarenakan adanya hubungan yang positif antara
keterlibatan atau partisipasi pemakai dalam proses pengembangan sistem
informasi dalam kinerja sistem informasi akuntansi sehingga dapat meningkatkan
kepuasan pemakai.
2.
Kemampuan teknik personal dalam sistem
informasi. Kapabilitas personal Sistem Informasi dibedakan kedalam kemampuan
spesialis dan kemampuangeneralis. Kapabilitas personal sistem informasi
akuntasi diukur dengan menggunakan rata-rata tingkat pendidikan personil SI
(Soegiharto, 2001). Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa semakin tinggi
kemampuan teknik personal sistem informasi akuntansi, akan meningkatkan
kinerjasistem informasi akuntansi dikarenakan adanya hubungan positif
antarakemampuan teknik personal sistem informasi akuntansi dengan kinerja
sistem informasi akuntansi.
3.
Ukuran organisasi. Tjhai Fung Jen (2002) berpendapat bahwa
semakin besar ukuran organisasi akan meningkatkan kinerja sistem informasi
akuntansi dikarenakan adanya hubungan positif antara ukuran organisasi dengan
kinerja sistem informasi akuntansi.
4.
Tjhai Fung Jen (2002) dalam Luciana
(2007) berpendapat bahwa semakin besar dukungan yang diberikan maka manajemen
puncak akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan adanya
hubungan positif antara dukungan manajemen puncak dalam proses pengembangan dan
pengoperasian sistem informasi akuntansi dengan kinerja informasi akuntansi
yang akan berpengaruh pada tingkat kepuasan pemakai.
5.
Penelitian yang dilakukan oleh Neal dan
Reader dalam Acep Komara (2005) secara empiris menunjukkan hubungan positif
antara riset operasional atas keberhasilan kelompok manajemen sains dan
formalisasi dengan proseduralisasi riset operasi atau manjemen sains.
Formalisasi dimaksudkan sebagai prosedur yang diterapkan untuk formalisasi
pengembangan sistem, semakin tinggi tingkat formalisasi pengembangan sistem
informasi di perusahaan akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi dikarenakan
adanya hubungan yang posif antara formalisasi pengembangan sistem dengan
kinerja sistem informasi akuntansi.
6.
Program pelatihan pemakai. Tjhai Fung
Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja sistem informasi akuntansi akan lebih
tinggi apabila program-program pelatihan dan pendidikan pemakai diperkenalkan.
7.
Keberadaan dewan pengarah sistem
informasi. Thjai Fun Jen (2002) berpendapat bahwa kinerja sistem informasi
akuntansi akan lebih tinggi apabila terdapat dewan pengarah.
8.
Lokasi dari departemen sistem informasi.
Thjai Fung Jen (2002) mengemukakan kinerja sistem informasi akuntansi akan
lebih tinggi apabila departemen sistem informasi terpisah dan berdiri sendiri.
Menurut
O’Brien (2005) keberhasilan sistem informasi tidak seharusnya diukur
hanya melalui efisiensi biaya, waktu dan penggunaan sumber daya informasi.
Keberhasilan juga harus diukur dari efektivitas teknologi informasi dalam
mendukung strategi bisnis organisasi, memungkinkan proses bisnisnya,
meningkatkan struktur organisasi dan budaya serta meningkatkan nilai pelanggan
dan bisnis perusahaan. Rosemary Cafasaro dalam O’Brien (2009) menyatakan bahwa
ada beberapa faktor yang menyebabkan kesuksesan atau kegagalan penerapan sistem
informasi dalam suatu organisasi atau perusahaan antara lain : dukungan
manajemen eksekutif, keterlibatanend user (pemakai akhir),
kejelasan penggunaan kebutuhan perusahaan, kematangan perencanaan dan harapan
perusahaan yang nyata. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan
sistem informasi antara lain: kurangnya input dari end user, tidak lengkapnya
pernyataan kebutuhan dan spesifikasi, pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang
senantiasa berubah-ubbah, kurangnya dukungan manajemen eksekutif serta
inkompetensi secara teknologi.
Faktor-faktor
yang menyebaban kesuksesan sistem informasi sebagaimana pendapat Rosemary
Cafasaro dalam O’Brien (2009) dipaparkan sebagai berikut :
1. Kurangnya input dari end user
Kurangnya
keterlibatan end user pada saat proses perancangan sistem akan
menemui kegagalan pada saat diterapkan karena terjadi kesenjangan atau
gap antara pengguna dan perancang atau pakar SI. Kesenjangan itu timbul karena
keduanya memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda (user-designer
communication gap). Kesenjangan ini pada akhirnya akan menciptakan
kegagalan dalam pelaksanaan sistem informasi.
2. Tidak lengkapnya pernyataan kebutuhan dan
spesifikasi
Kebutuhan
yang telah dirumuskan tersebut apabila tidak mendapatkan dukungan berupa
infrastruktur yang memadai akan menyebabkan kegagalan pada sistem informasi.
3. Pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang senantiasa
berubah-ubah
Penerapan
sistem informasi pada suatu organisasi harus dilakukan perumusan dengan jelas
tentang kebutuhan dan spesifikasi penggunan sistem informasi tersebut.
Pernyataan kebutuhan yang tidak ditegaskan sejak awal akan berdampak negatif
pada saat sistem informasi diimplementasikan dan pada akhirnya menemui
kegagalan.
4. Kurangnya dukungan manajemen eksekutif
Apabila
penerapan sistem informasi tidak mendapatkan dukungan dari beberapa unsur
manajemen eksekutif sebagai pengambil keputusan maka penerapan sistem
organisasi akan menemui kegagalan dan mengakibatkan dampak seperti : terjadi
inefisiensi biaya, pelaksanaan penerapan sistem informasi melebihi target waktu
yang telah ditentukan, kendala teknis serta kegagalan memperoleh manfaat yang
diharapkan.
5. Inkompetensi secara teknologi
Penerapan
dan pengembangan sistem informasi sangat membutuhkan peranan manusia sebagai
brainware/operator. Apabila sumberdaya manusia dalam organisasi tidak memiliki
kompetensi akan perkembangan teknologi yang semakin maju maka penerapan
sistem informasi akan mengalami kesulitan. Sistem informasi yang tidak sesuai
dengan kemampuan SDM akan mengakibatkan pelaksanaan sistem informasi menghadapi
kegagalan.
6. Perencanaan yang tidak tepat dan tidak matang
Pengembangan
dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung oleh perencanaan yang matang
tidak akan mampu menjadi mediator antara berbagai keinginan dan kepentingan
dalam suatu organisasi. Sistem yang tidak memiliki road map yang
jelas tidak mampu menjadi pegangan dalam melaksanakan sistem informasi sesuai
tujuan organisasi. Sistem informasi yang tidak dirancang sesuai kebutuhan
organisasi pada akhirnya akan menemui kegagalan dalam penerapannya dan hanya
menimbulkan inefisiensi dalam hal biaya, waktu dan tenaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar