WHO menyebutkan bahwa banyak faktor dapat menyebabkan gizi
buruk, yang sebagian besar berhubungan dengan pola makan yang buruk,
infeksi berat dan berulang terutama pada populasi yang kurang mampu.
Diet yang tidak memadai, dan penyakit infeksi terkait erat dengan standar
umum hidup, kondisi lingkungan, kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan dan perawatan kesehatan
(WHO, 2012). Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk,
diantaranya adalah status sosial ekonomi, ketidaktahuan ibu tentang
pemberian gizi yang baik untuk anak, dan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) (Kusriadi, 2010).
a. Konsumsi zat gizi
Konsumsi zat gizi yang kurang dapat menyebabkan
keterlambatan pertumbuhan badan dan keterlambatan perkembangan
otak serta dapat pula terjadinya penurunan atau rendahnya daya tahan
tubuh terhadap penyakit infeksi (Krisnansari d, 2010). Selain itu faktor
kurangnya asupan makanan disebabkan oleh ketersediaan pangan, nafsu makan anak,gangguan sistem pencernaan serta penyakit infeksi
yang diderita (Proverawati A, 2009).
b. Penyakit infeksi
Infeksi dan kekurangan gizi selalu berhubungan erat. Infeksi
pada anak-anak yang malnutrisi sebagian besar disebabkan kerusakan
fungsi kekebalan tubuh, produksi kekebalan tubuh yang terbatas dan
atau kapasitas fungsional berkurang dari semua komponen seluler dari
sistem kekebalan tubuh pada penderita malnutrisi (RodriquesL, 2011)
c. Pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan
Seorang ibu merupakan sosok yang menjadi tumpuan dalam
mengelola makan keluarga. pengetahuan ibu tentang gizi balita
merupakan segala bentuk informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai
zat makanan yang dibutuhkan bagi tubuh balita dan kemampuan ibu
untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Mulyaningsih F,
2008). Kurangnya pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan
berkurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi dalam
kehidupan sehari-hari yang merupakan salah satu penyebab terjadinya
gangguan gizi (Notoadmodjo S, 2003). Pemilihan bahan makanan,
tersedianya jumlah makanan yang cukup dan keanekaragaman
makanan ini dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu tentang
makanan dan gizinya. Ketidaktahuan ibu dapat menyebabkan
kesalahan pemilihan makanan terutama untuk anak balita (Nainggolan
J dan Zuraida R, 2010).
d. Pendidikan ibu
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin
mudah diberikan pengertian mengenai suatu informasi dan semakin
mudah untuk mengimplementasikan pengetahuannya dalam perilaku
khususnya dalam hal kesehatan dan gizi (Ihsan M.Hiswani, Jemadi,
2012). Pendidikan ibu yang relatif rendah akan berkaitan dengan sikap
dan tindakan ibu dalam menangani masalah kurang gizi pada anak
balitanya (Oktavianis, 2016).
http://repository.unimus.ac.id
e. Pola asuh anak
Pola asuh anak merupakan praktek pengasuhan yang
diterapkan kepada anak balita dan pemeliharaan kesehatan (Siti M,
2015). Pola asuh makan adalah praktik-praktik pengasuhan yang
diterapkan ibu kepada anak balita yang berkaitan dengan cara dan
situasi makanPola asuh yang baik dari ibu akan memberikan
kontribusi yang besar pada pertumbuhan dan perkembangan balita
sehingga akan menurunkan angka kejadian gangguan gizi dan begitu
sebaliknya (Istiany,dkk, 2007).
f. Sanitasi
Sanitasi lingkungan termasuk faktor tidak langsung yang
mempengaruhi status gizi. Gizi buruk dan infeksi kedua – duanya
bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan
sanitasi buruk (Suharjo, 2010). Upaya penurunan angka kejadian
penyakit bayi dan balita dapat diusahakan dengan menciptakan
sanitasi lingkungan yang sehat, yang pada akhirnya akan memperbaiki
status gizinya (Hidayat T, dan Fuada N, 2011).
g. Tingkat pendapatan
Tingkat pendapatan keluarga merupakan faktor eksternal yang
mempengaruhi status gizi balita (Mulyana DW, 2013). Keluarga
dengan status ekonomi menengah kebawah, memungkinkan konsumsi
pangan dan gizi terutama pada balita rendah dan hal ini
mempengaruhi status gizi pada anak balita ( Supariasa IDN, 2012).
Balita yang mempunyai orang tua dengan tingkat pendapatan kurang
memiliki risiko 4 kali lebih besar menderita status gizi kurang
dibanding dengan balita yang memiliki orang tua dengan tingkat
pendapatan cukup (Persulessy V, 2013).
h. Ketersediaan pangan
Kemiskinan dan ketahanan pangan merupakan penyebab tidak
langsung terjadinya status gizi kurang atau buruk (Roehadi S, 2013).
Masalah gizi yang muncul sering berkaitan dengan masalah
kekurangan pangan, salah satunya timbul akibat masalah ketahanan pangan ditingkat rumahtangga, yaitu kemampuan rumahtangga
memperoleh makanan untuk semua anggotanya (Sobila ET, 2009).
i. Jumlah anggota keluarga
Jumlah anggota keluarga berperan dalam status gizi seseorang.
Anak yang tumbuh dalam keluarga miskin paling rawan terhadap
kurang gizi. apabila anggota keluarga bertambah maka pangan untuk
setiap anak berkurang, asupan makanan yang tidak adekuat
merupakan salah satu penyebab langsung karena dapat menimbulkan
manifestasi berupa penurunan berat badan atau terhambat
pertumbuhan pada anak, oleh sebab itu jumlah anak merupakan faktor
yang turut menentukan status gizi balita (Faradevi R, 2017).
j. Sosial budaya
Budaya mempengaruhi seseorang dalam menentukan apa yang
akan dimakan, bagaimana pengolahan, persiapan, dan penyajiannya
serta untuk siapa dan dalam kondisi bagaimana pangan tersebut
dikonsumsi. Sehingga hal tersebut dapat menimbulkan masalah gizi
buruk (Arifn Z, 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar