Menurut Boyd (2000:280) pada dasarnya perluasan merek
melibatkan penggunaan nama merek yang telah mantap pada suatu kelas
produk sebagai alat untuk masuk ke kelas produk yang lainnya. Perluasan
merek merupakan strategi alamiah bagi perusahaan yang sedang tumbuh
dan mengeksploitasi asetnya. Perluasan merek dapat dilakukan dengan
cara menggunkan aset tersebut untuk penetrasi pada kategori produk baru
atau memberi lisensinya kepada produk lain atau mengakuisisi sebuah
perusahaan yang mempunyai merek yang bisa dijadikan landasan bagi
perusahaan.
Menurut Boyd (2000: 280) perluasan merek secara umum dapat
dibedakan berdasarkan:
a. Perluasan lini (line extension)
Perluasan lini artinya perusahaan membuat produk baru dengan
menggunakan merek lama yang terdapat pada merek induk. Meskipun
target market produk yang baru tersebut berbeda, tetapi kategori
produknya sudah dilayani oleh merek induk (atau merek yang lama).
b. Perluasan kategori (category extention)
Perluasan kategori artinya, perusahaan tetap menggunkan merek
induk yang lama untuk memasuki kategori produk yang sama sekali
berbeda dari yang dilayani oleh merek induk sekarang.
Menurut Buell (Rangkuti, 2004:114), perluasan merek terjadi
apabila:
a. Merek individual dikembangkan untuk menciptakan suatu merek
kelompok.
b. Produk yang memiliki hubungan ditambahkan pada suatu merek
kelompok yang sudah ada.
c. Suatu merek individu atau kelompok, dikembangkan ke produk-produk yang tidak memiliki hubungan.
Menurut Aaker (Rangkuti, 2004:115) strategi perluasan merek
membutuhkan 3 tahap, yaitu:
a. Mengidentifikasi asosiasi-asosiasi merek.
b. Mengidentifikasi produk-produk yang berkaitan dengan asosiasiasosiasi tersebut.
c. Memiliki calon yang terbaik dari daftar produk tersebut untuk
dilakukan uji konsep dan pengembangan produk baru.
Menurut Rangkuti (2004:121) keunggulan dari perluasan merek:
a. Mengurangi persepsi resiko ditolaknya produk tersebut oleh pelanggan.
b. Memanfaatkan kemudahan saluran distribusi yang sudah ada.
c. Meningkatkan efisiensi biaya promosi.
d. Mengurangi biaya perkenalan produk serta program tindak lanjut
pemasaran.
e. Mengurangi biaya pengembangan produk baru.
f. Meningkatkan efisiensi desain logo dan kemasan.
g. Menyediakan variasi pilihan produk kepada pelanggan.
Menurut Rangkuti (2004:121) kelemahan dari perluasan merek
antara lain:
a. Dapat membingungkan pelanggan dalam memilih produk mana yang
paling baik.
b. Retail cenderung beranggapan bahwa perluasan lini semata-mata
merupakan me-too product, yaitu semata-mata merupakan fotokopi dari
merek yang sudah ada, sehingga mereka tidak perlu menyimpan stok
produk tersebut.
c. Dapat merusak merek induk yang sudah ada.
d. Seandainya produk baru dengan perluasan lini tersebut sukses di pasar,
ada kemungkinan ia memakan merek induk yang sudah ada. Penyebabnya adalah konsumen produk yang sudah ada beralih ke
poroduk baru.
e. Kerugian lain dari perluasan merek adalah merek tersebut menurun
kekuatannya. Merek yang sebelumnya memiliki fokus ke salah satu
strategi, akibat adanya perluasan merek, menjadi memiliki bermacam-macam kategori sehingga tidak memiliki identitas yang jelas.
f. Seandainya perluasan merek tersebut dilakukan oleh tidak secara
konsisten. Artinya, atribut atau manfaat yang melekat pada merek
tersebut saling bertentangan dengan merek induk, sehingga konsumen
merubah persepsinya.
g. Seandainya perluasan merek tersebut dilakukan besar-besaran, sehingga
merek tersebut menjadi tidak terkontrol dan mudah dipalsukan. Hal ini
akan menyebabkan menurunnya persepsi terhadap merek tersebut.
Berikut ini merupakan dimensi dari perluasan merek menurut
Barata (2007: 65-66) yaitu:
a. Pengetahuan Merek Induk (Reputasi)
Pengetahuan konsumen tentang merek dibutuhkan untuk
mengevaluasi merek tersebut. Dalam kaitannya dengan brand extention,
konsumen dapat lebih mudah mengevaluasi dan menilai persepsi
kecocokan dari produk yang menggunakan brand extention dengan
memiliki pengetahuan tentang merek induknya. Secara umum
pengetahuan merek dapat beruba brand awareness.
b. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Perceived quality didefinisikan sebagai gambaran umum dari
penilain konsumen tentang keunggulan atau kesempurnaan dari suatu
produk dan dalam level tertentu dapat dibandingkan dengan atribut
tertentu dari produk. Konsumen menilai kualitas dari suatu produk
berdasarkan berbagai informasi yang didapatkannya baik melalui
pengalaman menggunakan produk itu sendiri, iklan, informasi dari
orang lain.
Adapun indicator yang terdapat dalam dimensi ini yaitu:
1) Performance (kinerja) merupakan karakteristik operasi pokok dari
produk yang dibeli.
2) Features (fitur/ciri-ciri tambahan) yaitu karakteristik sekunder atau
pelengkap.
3) Appearances (penampilan) yaitu daya tarik produk terhadap panca
indera, misalnya bentuk fisik yang menarik, model/desain yang
artistic, warna, dsb.
c. Inovatif
Menurut Keller (2003), produk atau merek baru yang berhasil
serta inovatif dipersepsikan oleh konsumen sebagai produk atau merek
yang modern atau up to date, merupakan hasil dari investasi riset dan
pengembangan produk, diproduksi dengan teknologi terbaik memiliki
features produk terbaru. Dalam kaitannya dengan brand extention,
konsumen cenderung untuk mengevaluasi produk baru tersebut sesuai dengan persepsinya tentang merek induk. Indicator dalam dimensi
adalah modern, investasi, dan unik.
d. Konsistensi Konsep Merek (similiarity)
Strategi brand extention berfokus pada pentingnya asosiasi yang
sesuai serta adanya persepsi kecocokan antara merek induk dengan
merek extention nya, namun demikian tetap terdapat perbedaan dalam
menentukan dimensi dari kecocokan itu sendiri. Persepsi kecocokkan
ini terdiri dari beberapa komponen yaitu: kemiripan (similiarity),
kesamaan tipe (typicality), keterkaitan (relatedness), dan konsistensi
konsep merek atau brand concept consistency
Tidak ada komentar:
Posting Komentar