Pembelian impulsif terjadi ketika konsumen melihat produk atau merek
tertentu, kemudian konsumen menjadi tertarik untuk mendapatkannya, biasanya
karena adanya ransangan yang menarik dari toko tersebut (Utami, 2010).
Penelitian memperlihatkan bahwa tindakan pembelian impulsif dapat
mencerminkan suatu jenis perilaku yang berbeda secara psikologis. Menurut Rook
dalam Engel, Blacwell dan Miniard (1995), pembelian impulsif terjadi ketika
konsumen mengalami desakan tiba-tiba yang biasanya kuat dan menetap untuk
membeli sesuatu dengan segera.
Menurut Mowen dan Minor (2001) dalam Gültekin dan Özer (2012)
definisi pembelian impulsif adalah tindakan membeli yang dilakukan tanpa
memiliki masalah sebelumnya atau maksud atau niat membeli yang terbentuk
sebelum memasuki toko. Intinya pembelian impulsif dapat dijelaskan sebagai
pilihan yang dibuat pada saat itu juga karena perasaan positif yang kuat mengenai
suatu benda. Dengan kata lain faktor emosi merupakan ”tanda masuk” ke dalam
lingkungan dari orang-orang yang memiliki gairah yang sama atas segala sesuatu
barang.
Cobb and Hoyer, (1986) mengemukakan bahwa pembelian impulsif
seringkali melibatkan komponen hedonik atau affektive. Pembelian impulsif
terjadi ketika konsumen merasakan adanya dorongan yang kuat untuk membeli
sesuatu dengan segera. Dorongan yang dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan motivasi konsumen untuk membeli barang secara hedonik yang mungkin
menimbulkan konflik secara emosional. Konsumen yang mengkonsumsi barang
atau jasa secara impulsif biasanya tidak mempertimbangkan konsekuensi dari
keputusan yang dibuat tersebut (Rook, 1985 dalam Hausman, 2000).
Pembelian impulsif menurut Rook (1985) dikaitkan dengan elemen
sebagai berikut; permulaan dari perilaku sebelumnya, sifat yang dapat
menyebabkan seorang individu merasakan secara temporer di luar kontrol dan
konflik psikologi yang mugkin terjadi. Sering konsumen merasa nyaman terhadap
produk yang merupakan objek impulsif. Reaksi impulsif sebagai suatu kondisi
yang melibatkan antara kesenangan dan realitas.
Pembelian impulsif melibatkan perbedaan transrasional, merupakan
pernyataan emosional. Perilaku terjadi secara langsung merupakan aktivisasi
emosi, dan dalam hal ini kontrol pikiran rendah dalam pengambilan keputusan
pembelian, misalnya seseorang menginginkan mendapatkan suatu barang atau
jasa secara tiba-tiba tanpa memikirkan akibat dari keputusan pembelian yang
dilakukan. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pembelian impulsif adalah
masalah internal individu, dengan kata lain pembelian impulsif lebih pada sifat
impulsivitas konsumen dan kondisi emosional individu.
Bellenger et al., (1978) mengemukakan bahwa ada beberapa pertimbangan
yang mempengaruhi pembelian impulsif, yaitu: harga rendah, kebutuhan item
yang marjinal, distribusi produk masal, self-service/swalayan, advertensi masal,
penataan produk yang menarik, umur produk yang singkat, ukuran kecil, dan
mudah disimpan.
10
Cobb and Hoyer (1986) mengemukakan bahwa reaksi impulsif yang
memunculkanya pembelian impulsif karena tekanan di tempat kerja dan adanya
waktu luang, mobilitas geografi, semakin banyak suami istri yang bekerja,
pendapatan semakin bertambah tinggi sehingga konsumen kurang cukup memiliki
waktu dan berupaya membuat perencanaan pembelian. Faktor lain yang
mempengaruhi terjadinya pembelian impulsif adalah suasana hati konsumen atau
pernyataan emosional, evaluasi normatif untuk melakukan pembelian impulsif,
identitas diri dan faktor demografi.
Terdapat beberapa hasil studi menunjukkan pengaruh suasana hati
konsumen dan pengaruh pernyataan terhadap keputusan pembelian impulsif.
Konsumen yang mempunyai suasana yang positif lebih kondusif untuk melakukan
perilaku pembelian impulsif daripada konsumen yang suasana hatinya negatif.
Konsumen yang memiliki suasana hati positif diasosiasikan dengan keinginan
membeli secara impulsif. Terdapat asosiasi yang positif antara suasana hati
konsumen yang senang terhadap lingkungan perbelanjaan dengan pembelian
impulsif (Donovan et al, 1994).
Menurut Rook (1987) dalam Kim (2003) perilaku pembelian impulsif bisa
dideskripsikan sebagai perilaku yang spontan, intens, bergairah, kuatnya
keinginan membeli dan biasanya pembeli mengabaikan konsekuensi dari
pembelian yang dilakukan.
Hansen and Olsen (2008) menguatkan keputusan membeli dibuat dalam
langkah cepat, dan waktu yang dibutuhkan setelah melihat produk sampai
membeli adalah pendek. Untuk itu, seseorang tidak suka menunda pembelian
11
untuk mendapatkan lebih banyak informasi mengenai produk, mencari nasehat
atau referensi atau membandingkan barang.
Gutierrez (2004) bahwa pembelian tidak direncanakan pada dasarnya
adalah pembelian yang terjadi seketika. Biasanya konsumen dengan tipe
pembelian ini pernah mengalami kekecewaan dengan pembelian produk
sebelumnya sehingga cenderung berhati-hati dalam melakukan pembelian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar