Kamis, 14 November 2019

Kepemimpinan Etis (skripsi dan tesis)


Studi tentang etika merupakan hal yang penting dalam rangka
pengembangan dan peningkatan peran profesi akuntan terhadap perilaku
tidak etis di dalam bisnis (Widiastuti, 2003). Perilaku yang beretika dalam
organisasi adalah melaksanakan tindakan secara fair sesuai hukum
konstitusional dan peraturan pemerintah yang dapat diaplikasikan
(Steiner dalam Reiss dan Mitra, 1998).
Suseno (dalam Ludigdo, 1999) mengungkapkan bahwa etika
merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaranajaran
dan pandangan-pandangan moral. Mengutip pendapat Madjid
(dalam Ludigdo, 1999) mengungkapkan bahwa etika (ethos) adalah
sebanding dengan moral (mos), yang mana keduanya merupakan filsafat
tentang adat kebiasaan (sitten). Sitten dalam perkataan Jerman
menunjukkan arti moda (mode) tingkah laku manusia, suatu konstansi
tindakan manusia. Karenanya secara umum etika atau moral adalah
filsafat, ilmu atau disiplin tentang moda-moda tingkah laku manusia atau
konstansi-konstansi tindakan manusia.
Brown, Trevino, dan Harrison (2005) didefinisikan kepemimpinan
etis sebagai demonstrasi perilaku normative yang tepat melalui tindakan
pribadi dan hubungan interpersonal. Studi tentang kepemimpinan etis
dibangun atas dasar pembelajaran sosial. Sosial pembelajaran
mengusulkan bahwa para pemimpin akan mempengaruhi perilaku etis
dari orang lain melalui pemodelan (Brown, Trevino, & Harrison, 2005). Ini
adalah tanggung jawab pemimpin untuk model perilaku etis yang mereka
inginkan dari pengikut. Wimbush dan Shepard (1994) menemukan bahwa
bawahan meniru perilaku supervisor 'karena pengawas yang memegang
bawahan jawab atas tindakan mereka.
Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan
mengapa seseorang mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau
bagaimana seseorang harus mengambil sikap yang bertanggung jawab
berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1987). Menurut
Robbins dan Coulter (1999:150), istilah etika lazimnya merujuk pada
aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang merumuskan perilaku benar dan
salah. Artinya etika menjadi faktor penentu keberhasilan suatu
kepemimpinan. Dalam organisasi,kepemimpinan yang dinilai baik apabila
fungsi-fungsi kepemimpinan dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip
beretika sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi.Kepemimpinan
beretika akan menciptakan suasana kerja dalam organisasi lebih nyaman,
produktivitas lebih tinggi, dan menyelesaikan konflik yang ada di dalam
organisasi
Etika biasanya mengacu pada '' bagian atau hak standar perilaku
antara individu-individu dalam situasi tertentu '‟(Fraedrich 1993). Standar
ini dapat didefinisikan sebagai prinsip-prinsip sosial yang melibatkan
keadilan dan kewajaran (Browning dan Zabriskie 1983). etika melibatkan
hubungan manusia yang mendasar antara pihak dalam proses
pertukaran, yaitu, anggota organisasi (atasan, rekan-rekan, dan
bawahan), pesaing, pelanggan, dan masyarakat umum. Masing-masing
pihak dalam proses pertukaran adalah berhutang tugas dan tanggung
jawab (Akaah 1992)..
Menurut Nurcholish Madjid (1995) etika ialah karakter dan sikap,
kebiasaan serta kepercayaan dan seterusnya yang bersifat khusus
tentang seorang individu atau sekelompok manusia. Sebagaimana
dikatakan Amundsen and de Andrade (2009), etika kepemimpinan
berkaitan dengan interaksi dan tanggungjawab pemimpin publik terhadap
masyarakat luas, sektor bisnis, luar negeri, atau terhadap instansi publik
itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin perlu menjalin
hubungan baik dengan siapa saja berdasarkan standar etika tertentu
yang dianggap baik, khususnya dalam konteks Indonesia.
Di antara etika yang dikembangkan adalah jujur, tanggung jawab,
tidak menipu, menepati janji, murah hati, dan tidak melupakan akhirat (At
Tamimi, 1992). Kejujuran diartikan secara luas seperti tidak berbohong,
tidak mengada-adakan fakta, tidak berkhianat dan tidak pernah
mengingkari janji. Senada dengan pernyataan tersebut, hubungan antara
etika individu dengan etika organisasi khususnya antara atasan dengan
pegawainya dapat dikembangkan dengan nilai-nilai etika yang tinggi.
Dalam operasionalisasi program organisasi diperlukan kesamaan perilaku
(conduct) untuk memperoleh tujuan kolektif.
Kesemuanya itu harus direpresentasikan dalam perilaku seperti
kejujuran (honest), keterbukaan (open), penghormatan (respectful),
sepenuh hati (conscientious) dan bersungguh mengabdikan diri kepada
organisasi tempatnya bekerja (loyal toward the organization) (Ladd,1992).
Etika kepemimpinan harus fokus pada usaha menciptakan kondisi yang
tepat pada budaya organisasi untuk membantu perkembangan perilaku
yang beretika dari pada membangun kepatuhan infrastruktur. Dengan
kata lain, mereka harus membuat landasan etika untuk melakukan bisnis
dengan berlatih berperilaku etis dalam kehidupan pribadi mereka, dalam
bisnis mereka, dan dalam hubungan mereka (Sims & Brinkmann 2002).

Tidak ada komentar: