Banyak para ahli mendefinisikan makna kepuasan kerja namun pada intinya tidak
terlalu jauh dalam pengertiannya. Robins (2008) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu
perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi
karakteristiknya. Rivai V (2004) mengemukakan bahwa kepuasan kerja pada dasarnya
merupakan sesuatu yang bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang
berbeda – beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian
terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi
kepuasannya terhadap kegiatannya tersebut. Dengan demikian kepuasan merupakan evaluasi
yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas atau
tidak puas dalam bekerja. Menurut Wexley dan Yukl (1997) yang dimaksud dengan kepuasan
kerja adalah cara seorang pekerja merasakan pekerjaannya. Sikap seseorang terhadap
pekerjaannya mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
dalam pekerjaannya serta harapan – harapannya terhadap masa depan.
Menurut Handoko (2002) mengemukakan kepuasan kerja adalah keadaan perasaan yang
menyenangkan terhadap pekerjaannya dimana karyawan tersebut bekerja. Hal tersebut akan
mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan hal tersebut akan tampak dalam
sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi dalam
lingkungan pekerjaannya. Berdasarakan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan
kerja adalah perasaan senang dari seorang pekerja terhadap pekerjaannya, hal ini sangat
tergantung pada kebutuhan seseorang dan tuntutan yang menjadi beban orang tersebut,
sehingga untuk mencapai suatu kepuasan kerja dibutuhkan penyesuaian antara kebutuhan dan
tuntutan yang dihadapi. Guna mengukur dimensi kepuasan kerja tersebut peneliti akan
menggunakan instrumen The Minnesota Satisfaction Questionnare (MSQ) dikembangkan
oleh Weiss, et. al. (1967) dalam Ghozali (2004) yang terdiri dari: terdapat variasi pekerjaan,
kemampuan atasan dalam pengambilan keputusan, pemberian reward atas prestasi kerja yang
memadai, adanya job yang pasti, kesempatan bagi karyawan untuk mengaktualisasikan
dirinya dan ada kebebasan, kesempatan untuk mengabdikan diri pada Negara, Kebijakan yang
diberikan pimpinan mudah di mengerti dan dipraktekkan.
terlalu jauh dalam pengertiannya. Robins (2008) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai suatu
perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari sebuah evaluasi
karakteristiknya. Rivai V (2004) mengemukakan bahwa kepuasan kerja pada dasarnya
merupakan sesuatu yang bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang
berbeda – beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian
terhadap kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi
kepuasannya terhadap kegiatannya tersebut. Dengan demikian kepuasan merupakan evaluasi
yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas atau
tidak puas dalam bekerja. Menurut Wexley dan Yukl (1997) yang dimaksud dengan kepuasan
kerja adalah cara seorang pekerja merasakan pekerjaannya. Sikap seseorang terhadap
pekerjaannya mencerminkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan
dalam pekerjaannya serta harapan – harapannya terhadap masa depan.
Menurut Handoko (2002) mengemukakan kepuasan kerja adalah keadaan perasaan yang
menyenangkan terhadap pekerjaannya dimana karyawan tersebut bekerja. Hal tersebut akan
mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan hal tersebut akan tampak dalam
sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi dalam
lingkungan pekerjaannya. Berdasarakan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kepuasan
kerja adalah perasaan senang dari seorang pekerja terhadap pekerjaannya, hal ini sangat
tergantung pada kebutuhan seseorang dan tuntutan yang menjadi beban orang tersebut,
sehingga untuk mencapai suatu kepuasan kerja dibutuhkan penyesuaian antara kebutuhan dan
tuntutan yang dihadapi. Guna mengukur dimensi kepuasan kerja tersebut peneliti akan
menggunakan instrumen The Minnesota Satisfaction Questionnare (MSQ) dikembangkan
oleh Weiss, et. al. (1967) dalam Ghozali (2004) yang terdiri dari: terdapat variasi pekerjaan,
kemampuan atasan dalam pengambilan keputusan, pemberian reward atas prestasi kerja yang
memadai, adanya job yang pasti, kesempatan bagi karyawan untuk mengaktualisasikan
dirinya dan ada kebebasan, kesempatan untuk mengabdikan diri pada Negara, Kebijakan yang
diberikan pimpinan mudah di mengerti dan dipraktekkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar