Robbins (2008), mendefinisikan konflik sebagai sebuah proses yang
dimulai ketika satu pihak memiliki persepsi bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif, atau akan memengaruhi secara negatif, sesuatu yang menjadi perhatian dan kepentingan pihak pertama. Menurut Luthans (2006), seseorang akan mengalami konflik peran jika ia memiliki dua peran atau lebih yang harus dijalankan pada waktu yang bersamaan.
Menurut Winardi (1992 dalam Umam, 2010), konflik peran adalah konflik
yang terjadi karena seseorang mengemban lebih dari satu peran yang saling
bertentangan. Kreitner dan Kinicki (2005) mengatakan bahwa konflik peran
adalah orang-orang memiliki pengharapan yang saling bertentangan atau tidak konsisten. Konflik peran muncul ketika seseorang menerima pesan yang tidak sebanding berkenaan dengan perilaku peran yang sesuai (Ivancevich et al.; 2007).
Dari beberapa uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa konflik peran
muncul ketika karyawan merasa kesulitan dalam hal menyesuaikan berbagai peran yang dimiliki dalam waktu yang bersamaan, misalnya peran sebagai anggota organisasi yang harus bertanggung jawab pada birokrasi organisasi dan perannya sebagai kepala/ibu rumah tangga yang harus bertanggung jawab pada keluarganya.
Menurut Sopiah (2008), terdapat beberapa tipe konflik peran dalam setting
organisasional antara lain:
1. Inter role conflict, terjadi ketika seorang pegawai memiliki dua peran yang
masing-masing berlawanan.
2. Intra role conflict, terjadi ketika individu menerima pesan berlawanan dari
orang-orang yang berbeda.
3. Person role conflict, terjadi ketika kewajiban-kewajiban pekerjaan dan
nilai-nilai organisasional tidak cocok dengan nilai-nilai pribadi.
Menurut Munandar (2008), konflik peran timbul jika seorang karyawan
mengalami adanya:
1. Pertentangan antara tugas-tugas yang harus ia lakukan dan antara tanggung
jawab yang ia miliki.
2. Tugas-tugas yang harus ia lakukan yang menurut pandangannya bukan
merupakan bagian dari pekerjaannya.
31
3. Tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari atasan, rekan, bawahannya, atau
orang lain yang dinilai penting bagi dirinya.
4. Pertentangan dengan nilai-nilai dan keyakinan pribadinya sewaktu
melakukan tugas pekerjaannya.
Para karyawan sering menghadapi tuntutan yang saling bertentangan
antara pekerjaan dan keluarga, misalnya wanita mengalami konflik peranan yang
lebih besar daripada pria antara pekerjaan dan keluarga karena wanita pada
hakikatnya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki kewajiban dan tanggung
jawab terhadap suami dan anak. Para karyawan yang belum menikah juga
memiliki versi konflik peranan sendiri yaitu antara pekerjaan dan minat luarnya.
Konflik peran dapat juga dialami ketika internalisasi nilai, etika atau standar
pribadi bertentangan dengan harapan orang lain (Kreitner dan Kinicki; 2005).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar