Menurut
Dessler (1997) penilaian prestasi kerja adalah suatu proses penilaian prestasi
kinerja pegawai yang dilakukan pemimpin perusahaan secara sistematik
berdasarkan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Menurut Handoko (1996) penilaian prestasi kinerja
adalah proses mengevaluasi dan menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini
dapat memperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik
kepada para karyawan tentang pelaksanaan kerja mereka.
Menurut Stoner et al. (1996) penilaian
prestasi kerja adalah proses yang meliputi:
(1). Penetapan standar prestasi kerja.
(2). Penilaian prestasi kerja aktual
karyawan dalam hubungan dengan standar-standar ini.
(3). Memberi umpan balik kepada karyawan
dengan tujuan memotivasi orang tersebut untuk menghilangkan kemerosotan
prestasi kerja.
Sedangkan yang dimaksud dengan dimensi kerja
menurut Gomes (1995: 142) memperluaskan dimensi prestasi kerja karyawan yang
berdasarkan:
1. Quantity work; jumlah kerja yang
dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan.
2. Quality of work; kualitas kerja
berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapannya.
3. Job
knowledge; luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan ketrampilannya.
4. Creativeness; Keaslian
gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan
persoalan-persoalan yang timbul.
5. Cooperation;
kesetiaan untuk bekerjasama dengan orang lain
6. Dependability; kesadaran dan kepercayaan
dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja.
7. Initiative; semangat untuk
melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggung jawabnya.
8. Personal qualities; menyangkut
kepribadian, kepemimpinan, keramah-tamahan, dan integritas pribadi.
Menurut Nurmianto dan Wijaya (2003) tujuan
penilaian prestasi kinerja ada 2 (dua) tujuan pokok, yaitu:
1. Untuk tujuan administrasi personalia.
a. Menjadi dasar pembuatan keputusan
manajemen mengenai promosi, mutasi, demosi dan pemberhentian pegawai.
b. Menjadi dasar dalam pemberian balas jasa.
c. Menjadi dasar dalam menetapkan program
pendidikan dan pelatihan guna mendukung efektivitas unit unit kerja organisasi.
d. Menjadi dasar penetapan criteria criteria
untuk seleksi dan penetapan pegawai.
e. Memberikan
data mengenai produktivitas organisasi secara keseluruhan atau unit- unit kerja
dan individu individu pegawai khususnya.
2. Untuk tujuan bimbingan dan konseling.
a. Merupakan forum pembimbingan dan konseling antara atasan dan
bawahannya untuk memperbaiki atau
mengembangkan kecakapan pegawai.
b. Mengidentifikasikan kelebihan atau kekurangan pegawai yang
menjadi salah satu dasar pertimbangan
dalam melibatkan pegawai pada program pelatihan dan pengembangan pegawai.
c. Sebagai alat untuk meningkatkan motivasi kerja pegawai sehingga
dapat dicapai kinerja yang baik dalam rangka pencapaian tujuan unit kerja dan
organisasi.
d. Sebagai alat untuk mendorong atau membiasakan para atasan atau
pejabat penilai mengamati perilaku kerja pegawai sebagai totalitas hingga
diketahui minat, kemampuan, serta kebutuhan pegawai.
Ada
beberapa metode penilaian prestasi kinerja, yaitu : Rating Scales (Skala
Rating), CriticalIncidents (Insiden-insiden Kritis), Work Standar (Standar
Kerja), Ranking, Forced Distribution (Distribusi yang
Dipaksakan), Forced-choice and Weighted Checklist Performance Report (Pemilihan
yang Dipaksakan dan Laporan Pemeriksaan Kinerja Tertimbang), Behaviorally
Anchored Scales, Metode Pendekatan Management By Objective.
Penilaian kinerja terdiri dari 3langkah (Dessler, 1997):
1. Mendefinisikan jabatan, yaitu
memastikan bahwa penilai dan yang dinilai sepakat tentang tugas - tugasnya dan
standard jabatan.
2. Menilai kinerja, yaitu membandingkan
antara kinerja aktual dengan standard-standard yang telah ditetapkan.
3. Sesi umpan balik, yaitu saat membahas
kinerja dan kemajuan bawahan serta membuat rencana pengembangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar