Senin, 20 Maret 2017

.Penyebab - penyebab dari rework (skripsi dan tesis)


Secara lengkapnya faktor-faktor yang mempengaruhi rework ini dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Faktor yang berkaitan dengan disain dan dokumentasinya.
Disain merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kesalahan yang sering mengakibatkan rework. Berikut adalah kesalahan dan perubahan yang dapat terjadi pada disain dandokumentasinya, beserta penjelasannya:
a.       Kesalahan disain
Kesalahan disain bisa terjadi jika arsitek, drafter, konsultan, ataupun kontraktor menggambarkan sesuatu kondisi / bagian dari proyek tidak sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya, yang pada akhirnya gambar itu telah diturunkan di lapangan dan dikerjakan. Hal ini akan menyebabkan komplain dari pihak pemilik yang akhirnya menghasilkan rework.
b.      Perubahan disain
Perubahan disain biasanya dilakukan untuk memenuhi permintaan dari salah satu konsumen,(Love et al, 2002) diantaranya adalah pemilik, dengan tujuan untuk memenuhi keinginan mereka atas misalnya: operasional dari fasilitas yang dibangun, atau untuk menjaga agar proyek tetap berada dalam jangkauan anggaran. Selain oleh pemilik sebenarnya perubahan disain dapat juga disebabkan oleh:
1)      Kontraktor – untuk meningkatkan constructability dari fasilitas.
2)      Suplier – untuk memungkinkan pemakaian produk yang sudah ada (standard) atau untuk memudahkan mobilisasi dari material baik ketika menuju proyek atauppun ketika didalam proyek.
3)      Desainer – untuk memenuhi modifikasi disain.
4)      Sub–kontraktor – untuk menghilangkan konflik dalam pengaturan pekerjaan.
Bagaimanapun juga perubahan tidak selalu mengakibatkan rework, disini yang dimaksudkan perubahan adalah perubahan yang tidak dimaksudkan. Jika muncul perubahan selama konstruksi, perubahan tersebut dapat menghasilkan rework atau perubahan manajerial tergantung dari keputusan manajerial (Park, 2003). Perubahan menyebabkan rework jika dilakukan upaya untuk mengikuti disain awal dan menghilangkan perubahan yang tejadi tadi, baik dengan mengadakan penambahan atau pengurangan. Sedangkan jika perubahan yang tidak dimaksudkan ini akhirnya diikuti dengan perubahan manajerial yang memutuskan mengubah disain awal mengikuti perubahan yang terjadi maka tidak terjadi rework meskipun pada akhirnya terjadi pengubahan ataupun pengurangan.
c.       Disain yang tidak jelas
Disain yang tidak jelas sering membuat mandor/pekerja mempunyai pengertian yang berbeda dari yang dimaksudkan oleh disainer. Hal ini akhirnya mengakibatkan kesalahan yang menyebabkan rework, contohnya : pengaturan kembali servis karena bentrokan dari buruknya informasi yang diberikan dalam gambar. Disini rework dapat berupa klaim karena variasi jika secara langsung mempengaruhi jalannya proyek dan menyebabkan gangguan. (Love et al, 2002).
d.      Lack of constructability
Seringkali disain yang dikeluarkan tidak memperhatikan kemudahan pelaksanaan dilapangan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya rework karena oleh pekerja dilapangan akhirnya gambar tadi dikerjakan sebisanya dan akhirnya mengakibatkan terjadinya kesalahan yang bisa menyebabkan terjadinya rework. Hal ini serring disebabkan karena kurangnya pengetahuan disainer mengenai konstruksi. Banyak kasus dimana kontraktor mengeluh karena disain yang sulit atau bahkan mustahil untuk dikerjakan (Andi et al, 2003)
e.       Kurangnya pengetahuan terhadap karakter bahan
Dalam penggunaan bahan-bahan bangunan juga perlu diperhatikan karakteristik dari bahan yang dipakai. Karena kadang ada bahan yang tidak bisa dipakai secara bersamaan karena ketidakcocokan karaktersitik kedua bahan tersebut.
f.       Keadaan di gambar dan di lapangan tidak sesuai.
Hal ini sering diakibatkan kurangnya penyelidikan mengenai keadaan lapangan. Terutama sering terjadi pada pengerjaan pondasi.
g.      Buruknya koordinasi disain dan dokumentasi.
Dalam proyek sering ditemui adanya ketidakcocokan antara gambar struktur dan gambar arsitektur, selain itu juga koordinasi antara gambar konsrtuksi dan gambar dari bagian lain seperti bagian instalasi listrik maupun plumbing. Hal ini dapat menyebabkan kesalahan dalam pengerjaan karena gambar-gambar tadi saling berbentrokan satu sama lain dalam pelaksanaannya.
Hal ini mengakibatkan perlunya dilakukan pembongkaran untuk memperbaiki kesalahan tadi agar dapat dibuat sesuai dengan keinginan gambar dan hal ini adalah termasuk rework.

2.      Faktor yang Berkaitan Dengan Manajerial
a.           Jadwal yang terlalu padat atau tekanan oleh waktu
Tekanan oleh waktu adalah salah satu dasar penyebab terjadinya kesalahan dan dikemukakan oleh Petroski (1985), Brown dan Xiaochen Yin (1988) dan Rollings and Rollings (1991). The Commission of Inquiry menemukan bahwa kebakaran di Semerland pada tahun 1974 (menyebabkan kematian lebih dari 50 orang) dan dituliskan oleh Turner (1978) waktu yang telah ditentukan dan tekanan pekerjaan untuk memenuhi awal musim wisata sebagai penyebab dari kesalahan itu. Hal ini juga berlaku dalam dunia konstruksi dimana pelaksanaan yang terburu-buru dapat menyebabkan terjadinya kesalahan yang dapat mengakibatkan terjadinya rework.
b.          Kurangnya kontrol dalam pekerjaan
Kurangnya pengontrolan oleh kontraktor dalam pengerjaan dapat mengakibatkan kualitas/hasil dari pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan harapan. Dalam hal ini bisa terjadi klaim dari owner dan akhirnya menimbulkan rework
c.           Kurangnya kerjasama antara pemilik, disainer, kontraktor, supplier dan pihak pihak lain yang terkait.
Masalah utama yang terdeteksi dalam fase disain ini adalah kecilnya interaksi antara disainer dan kontraktor dan diantara specialist (listrik, plumbing, AC dan lainnya), situasi ini memaksa fase berikutnya untuk berjalan dalam disain yang tidak lengkap. Konsekuensinya adalah solusi yang tidak optimal, lack of constructability, dan change order dalam jumlah besar (baik dalam disain dan rework) (Alarcon dan Mardones, 1998).
d.          Kurangnya informasi mengenai keadaan lapangan
Kurangnya informasi mengenai keadaan lapangan dapat menyebabkan pekerjaan terganggu dan bisa juga menimbulkan rework. Contohnya adalah ketika pemancangan pondasi tiang ternyata didalam tanah ada pondasi dari bangunan yang terdahulu, sehingga pemancangan gagal dan terjadilah rework karena harus mengulangi pemancangan ditempat tadi.
e.           Kurangnya antisipasi terhadap perubahan keadaan eksternal (alam).
Misalnya pada saat proses pengecoran tiba-tiba hujan dn pada saat itu tidak tersedia terpal untuk menutupi cor-coran sehingga menjadi rusak.
f.           Spesifikasi yang terkirim oleh supplier tidak sesuai
Jika bahan yang tidak sesuai dengan permintaan tadi terlanjur dipasang maka perlu dilakukan pembongkaran untuk memperbaikinya hal ini disebut rework.
g.          Pengiriman yang terlambat atau tidak tepat waktu
Misalnya pada proses pengecoran beton. 2 truk pengangkut telah tiba terlebih dahulu dan diadakan pengecoran, lalu truk berikutnya terlambat datang sehingga menyebabkan beton terlanjur setting. Hal ini akan membuat perlunya diadakan proses lebih lanjut untuk bisa melanjutkan pengecoran pada bagian yang belum selesai karena sebagian telah terlanjur setting.
h.          Jeleknya alur informasi baik formal ataupun informal (Atkinson, 1998)
Mengenai alur informasi contohnya adalah sebagai berikut: masalah dalam konstruksi West Gate Bridge, Victoria, Australia, yang mengakibatkan robohnya pada tahun 1976: ‘ tidak ada yang memberitahu (tim Konstruksi) bahwa komponen (box girder) tidak boleh dipaksa untuk tersambung. Bila mereka tidak bisa tersambung atau tidak cocok mereka harus dimodifikasi.
Konsultan tidak berusaha untuk memastikan bahwa kontraktor mengerti filosofi disain dan bahwa metode konstruksi yang lama tidak dapat digunakan. Mereka juga tidak memeriksa konstruksinya untuk melihat apakah telah dikerjakan dengan benar.

3.      Faktor yang berkaitan dengan sumber daya (resource)
a.       Kurangnya pengalaman dari pekerja
Pengalaman yang kurang biasanya menghasilkan pekerjaan yang kurang baik dan memerlukan perbaikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan.
b.      Kurangnya pengetahuan pekerja
Pengetahuan pekerja yang kurang mengenai apa yang dikerjakannya dapat menyebabkan kesalahan dalam pekerjaannya, contoh: kurangnya pengetahuan mengenai pemakaian alat penggetar beton (digunakan untuk meratakan cor- coran) dapat menyebabkan kualitas beton yang dihasilkan jelek.
c.       Jumlah kerja lembur yang terlalu banyak
Dengan banyaknya jam kerja lembur akan mengakibatkan pekerja mengalami kelelahan. Kelelahan ini dapat menyebabkan kualitas pekerjaan seseorang berkurang dan akibatnya sering terjadi kesalahan dalam bekerja yang mengakibatkan rework. Dua laporan mengenai kegagalan balok pada sebuah bangunan lapangan terbang dari Engineering News Record (Korman, 1991a,b) mencatat faktor dari kerja yang berlebihan dan tekanan untuk memproduksi.
d.      Bekerja tidak sesuai prosedur
Pengerjaan yang tidak sesuai prosedur tentu saja akan menghasilkan pekerjaan dengan kualitas yang lebih buruk, dan hal ini seringkali memerlukan perbaikan untuk mencapai kualitas yang diharapkan.
e.       Pertimbangan yang salah dalam lokasi proyek
Seringkali jika dihadapkan pada situasi yang mendesak, misalnya karena jadwal yang padat, pekerja lapangan harus mengambil keputusan sendiri mengenai apa yang mereka kerjakan. Terkadang keputusan mereka itu salah dan mengakibatkan hasil yang berbeda dari keinginan disainer ataupun kontraktor.
f.       Kurangnya QA/QC
Pekerjaan yang kurang memperhatikan QA/ QC akan dapat mengakibatkan didapatnya hasil dengan kualitas yang tidak sesuai dengan keinginan sehingga perlu diusahakan usaha lebih lanjut untuk memperbaiki kualitas dari hasil tadi agar tercapai hasil dengan kualitas yang diinginkan. Hal ini mengakibatkan terjadinya rework.
g.      Kurang memadainya perlengkapan ataupun peralatan
Demikianlah hal-hal yang merupakan penyebab terjadinya rework. Bagaimanapun juga dapat diketahui bahwa meskipun telah dikelompokkan menjadi 3 bagian, beberapa penyebab itu saling berhubungan. Sebuah penyebab yang termasuk salah satu kelompok dapat mengakibatkan terjadinya penyebab di kelompok yang lain. Hubungan ini disebabkan karena kompleksnya operasi konstruksi (Love et al,1997)














Tidak ada komentar: