Sabtu, 02 Desember 2023

Happiness At Work


Konsep kebahagiaan sudah tidak ambigu dan didefinisikan secara
berbeda melalui 2 perspektif utama menurut Diener dan Seligman (2008) dalam
Salas dan Alegre (2018), yaitu hedonis dan eudomonis. Pendekatan hedonis
mengacu pada perasaan menyenangkan, pengaruh yang seimbang, dan
direpresentasikan oleh kesejahteraan subjektif. Sebaliknya, perspektif eudomonis
diartikan sebagai kebahagiaan apa adanya, memiliki kehidupan yang memuaskan,
mengikuti tujuan yang sesuai dengan diri sendiri, dan mengacuh atau tidaknya
pada perasaan.
Menurut Veehoven (2006), happiness merupakan suatu keadaan
dimana individu menilai baik keseluruhan kualitas hidupnya. Happiness at work
merupakan syarat utama karyawan dapat menyelesaikan pekerjaan yang diberikan
dengan maksimal. Karyawan merasa bahagia dengan pekerjaan yang dilakukan
akan berdampak pada pikiran positif di lingkungan kerja sehingga bisa menyebar
kepada karyawan lain. Pryce dan Lindsay (2014) menjelaskan happiness at work
merupakan pola pikir yang memungkinkan tindakan untuk memaksimalkan
kinerja dan mencapai potensi.
Kebahagiaan kerja merupakan hal yang penting, tidak hanya bagi
individu namun juga bagi organisasi (Fisher, 2010). Individu yang bekerja dengan
bahagia memiliki perasaan positif di setiap waktunya karena mengerti cara
mengelola dan mempengaruhi pekerjaannya secara maksimal dan memberi
kepuasan dalam bekerja (Pryce, 2011). Menurut Pryce dan Lutterbie (2013),
terdapat komponen-komponen penting dari model kebahagiaan kinerja yang
dikenal dengan 5C, antara lain:

  1. Contribution: berkaitan dengan apa yang dilakukan.
  2. Conviction: berkaitan dengan motivasi jangka pendek.
  3. Culture: berkaitan dengan kesamaan persepsi.
  4. Commitment: berkaitan dengan keterlibatan jangka panjang.
  5. Confidence: berkaitan dengan kepercayaan diri individu.
    Karyawan yang merasa bahagia dengan pekerjaannya cenderung akan
    lebih cepat mendapat promosi jabatan, lebih kreatif, lebih cepat mencapai tujuan,
    dapat berhubungan baik dengan atasan serta teman lainnya, dan lebih sukses
    (Pryce, 2011). Menurut Hakim dan Septarini (2014), happiness at work dibagi
    menjadi 3 tingkatan, yaitu tingkatan dimana kebahagiaan ada dan terlihat
    (transient level), tingkatan dimana melihat durasi dan stabilitas kebahagiaan di
    tempat kerja dari waktu ke waktu (person level), dan tingkatan yang mengkaji
    konten spesifik dari kebahagiaan di tempat kerja (unit level).
    Happiness at work menurut Chaiprasit dan Santidhirakul (2011)
    dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini:
  6. Job inspiration: karyawan puas dengan pekerjaan yang ditugaskan dan
    mampu mencapai tujuan.
  7. Organization’s shared value: perilaku dan budaya kolektif organisasi.
  8. Quality of work life: hubungan antara 3 elemen, yaitu lingkungan kerja,
    partisipasi karyawan, dan humanisasi kerja. Keseimbangan di antara 3
    elemen tersebut mengarah ke tingkat efisiensi tinggi.
  9. Leadership: eksekutif atau kepala organisasi menciptakan kebahagiaan
    bagi karyawan dengan menciptakan motivasi, kesadaran, dan dedikasi
    pekerjaan. Para pemimpin juga terlibat dalam komunikasi 2 arah dan
    transparan. Pemimpin berdedikasi untuk menciptakan suasana yang baik
    bagi karyawan mereka.

Tidak ada komentar: