Minggu, 15 Oktober 2023

Teori Kepuasan Kerja


Teori tentang kepuasan kerja yang cukup dikenal menurut Rivai (2004)
adalah sebagai berikut :
1. Teori Ketidaksesuaian (Discrepancy theory)
Teori ini mengukur kepuasan kerja seseorang dengan menghitung selisih
antara sesuatu yang seharusnya diterima dengan yang dirasakan. Sehingga
apabila kepuasannya diperoleh melibihi dari yang diinginkan, maka orang
lain menjadi lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, tetapi
discrepancy yang positif.
2. Teori Keadilan (Equity theory)
Teori ini mengemukakan bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas,
tergantung pada ada atau tidaknya keadilan (equity) dalam suatu situasi,
khususnya situasi kerja. Menurut teori ini komponen utama dalam teori
keadilan adalah input, hasil, keadilan dan ketidakadilan. Input adalah faktor
bernilai bagi karyawan yang dianggap mendukung pekerjaannya, seperti
pendidikan, pengalaman, kecakapan jumlah tugas dan peralatan atau
perlengkapan yang dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaanya.
Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh seorang karyawan
yang diperoleh dari pekerjaannya, seperti upah/gaji, keuntungan sampingan,
simbol, status, penghargaan dan kesempatan untuk berhasil atau aktualisasi
diri. 
3. Teori Dua Faktor (Two Factor Theory)
Menurut teori ini kepuasan kerja dan ketidakpuasan kerja itu merupakan hal
yang berbeda. Kepuasan dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu bukan
suatu variabel kontinyu. Teori ini merumuskan karakteristik pekerjaan
menjadi dua kelompok yaitu satisfies (motivator) dan dissatisfies. Satisfies
ialah faktor-faktor atau situasi yang dibutuhkan sebagai sumber kepuasan
kerja yang terdiri dari pekerjaan : pekerjaan yang menarik, penuh tantangan,
ada kesempatan untuk berprestasi, kesempatan memperoleh penghargaan
dan promosi. Dissatisfies (hygiene factor) adalah fakto-faktor yang menjadi
sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari : gaji/upah, pengawasan, hubungan
antar pribadi, kondisi kerja dan status.

Tidak ada komentar: