Manajemen laba adalah tindakan yangdilakukan oleh manajemen perusahaan untuk mempengaruhi laba yang dilaporkan yang bisa memberikan informasi mengenai keuntungan ekonomis (economicadvantage) yang sesungguhnya tidak dialamiperusahaan, yang dalam jangkapanjang tindakan tersebut bisa merugikan perusahaan. Tindakan manajemen labaterjadi ketika manajer menggunakan pertimbangan dalam pelaporan keuangan danpenyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, dengan tujuanmemanipulasi besaran laba kepada beberapa stakeholders tentang kinerja
ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil perjanjian (kontrak) yang tergantung pada angka-angka yang dihasilkan.Menurut Watt dan Zimmerman dalam positiveaccounting theory terdapattiga hipotesis yang melatarbelakangi terjadinyamanajemen labayaitu :1.The bonus plan hypothesisManajer perusahaan memberikan bonus besar berdasarka earnings yang lebih banyak menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba yang dilaporkan.2.Thedebt covenant hypothesisSemakin dekat suatu perusahaan untuk menyimpang pada perjanjianhutang yang telah dibuat berdasarkan laba akuntansi, maka semakin besar kemungkinan manajemen perusahaan memilih prosedur akuntansi yang menggeser laba akuntansi dariperiode mendatang ke periode sekarang. Hal ini berlaku untuk semua perusahaan yang mempunyai hutang. Perjanjian ini untuk menjaga likuiditas perusahaan.3.The political cost hypothesisSemakin besar biaya politik yang dihadapi oleh suatu perusahaan makasemakin besar kemungkinan manajemen untuk memilih prosedur akuntansi yang menangguhkan laba dari periode current ke periode yang akan
datang. Pada perusahaan besar lebih memilih metode akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut disebabkan oleh pemerintahyang akan mengambil tindakan seperti menaikkan pajak pendapatan pada perusahaan yang mempunyai laba tinggi. Menurut Setiawati dan Na’im (2000), teknik untuk merekayasa laba dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi, mengubah metode akuntansi, dan menggeser periode biaya atau pendapatan. Terdapat empat pola manajemen laba yang dapat dilakukan, yaitu :1.Taking a bath yaitu pola yang dapat terjadi selama reorganisasi dan juga pada periode penempatan CEO baru dengan melaporkan kerugian dengan jumlah besar. Tindakan ini diharapkan dapat meningkatkan laba perusahaan di masa mendatang.2.Income minimization yaitu pola minimisasi laba yang dipilih untuk alas an politis perusahaan selama perusahaan berada pada periode kenaikan laba yang cukup drastis. Contoh : penghapusan aset tetap berwujud dan tidak berwujud, pengakuan sebagai biaya atas pengeluaran research and development dan iklan.3.Income maximization, yaitu yang dilakukan manajer saat laba perusahaan di bawah bogey dengan tujuan memperoleh bonus. Selain itu, perusahaan yang dekat dengan pelanggaran perjanjian hutang dapat memungkinkan untukmemaksimalkan laba.
4.Income smoothing, yaitu pola yang dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga dapat mengurangi fluktuasi laba yang terlalu besar karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relatif stabil (Scott, 2006).Laporan keuangan merupakan alat untuk mengetahui posisi dan kemajuan perusahaan dipandang dari sudut keuangan.Laporan keuangan menunjukkan sampai seberapa efisien pelaksanaan kegiatan serta perkembangan perusahaan yang telah dicapai oleh manajemen perusahaan. Informasi laba menjadi bagian dari laporan keuangan yang dianggap paling penting, karena informasi tersebut secara umum dipandang sebagai representasi kinerja manajemen pada periode tertentu. Pengukuran manajemen laba dilakukan dengan menggunakan proxy Discretionary Acrual (DA) dan dihitung dengan The Modified Jones Model. Discretionary Acrual adalah komponen akrual yang terdapat dalam kebijakan manajer, artinya manajer dapat memberikan intervensi dalam laporan keuangan. Alasan pemilihan model Jones yang dimodifikasi ini karena model ini dianggap sebagai model yang paling baik dalam mendeteksi manajemen laba dibandingkan dengan model lain serta memberikan hasil yang paling kuat (Dechow et al., 1996).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar