Senin, 16 Mei 2022

Pengertian Manajemen Laba (skripsi tesis dan disertasi)

Menurut Schipper (1989) dalam Rahmawati dkk. (2006) mendefinisikan yang dimaksud manajemen laba yaitu : “Manajemen laba merupakan suatu intervensi dengan tujuan tertentu dalam proses pelaporan keuangan eksternal, untuk memperoleh beberapa keuntungan privat (sebagai lawan untuk memudahkan operasi yang netral dari proses tersebut)”. Menurut Fischer dan Rozenzwig (1995) manajemen laba adalah sebagai berikut : “Manajemen laba adalah tindakan manajer yang menaikkan (menurunkan) laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikan atau penurunan profitabilitas perusahaan dalam jangka panjang”. Definisi menurut Yulianti (2015:08), earning management dalam arti sempit didefinisikan perilaku manajer “bermain” dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya earnings. Sedangkan dalam arti luas earnings management didefinisikan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) probilitas ekonomis jangka panjang. Berdasarkan definisi di atas, pengertian manajemen laba adalah suatu usaha yang dilakukan oleh manajemen untuk memanipulasi angka-angka akuntansi yang dilaporkan kepada pihak eksternal dengan tujuan untuk keuntungan bagi dirinya sendiri dengan cara mengubah atau mengabaikan standar akuntansi yang telah ditetapkan, sehingga menyajikan informasi yang tidak sebenarnya. Manajemen laba yang bisa dilakukan dengan berbagai cara ini tentu memiliki tujuan. Healy dan Wahlen (1999) menyebutkan tujuan dari manajemen laba dalam definisinya, yaitu : “Earnings management occurs when managers use judgement in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance ofthe company or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers”. Manajemen laba dilakukan untuk mempengaruhi keputusan yang dibuat oleh para pemangku kepentingan dan hasil perjanjian kontrak yang didasarkan pada besarnya laba. Salah satu pemangku kepentingan tersebut adalah para pemegang saham terkait keputusan pemberian kompensasi bagi manajer.   Dalam definisi manajemen laba yang diungkapkan oleh Schipper (1989) disebutkan bahwa manajemen laba dilakukan untuk memenuhi tujuan pribadi. Ketika laba menjadi indikator pengukuran kinerja manajer serta menjadi dasar pemberian bonus bagi manajer, manajemen laba bisa dimanfaatkan manajer untuk keuntungannya sendiri. Pemberian bonus berdasarkan besarnya laba biasanya memiliki batas minimal dan batas maksimal pemberian bonus. Menurut Scott (2015), ketika besarnya laba tidak mencapai batas minimal, manajer tidak akan menerima bonus. Ketika besarnya laba melebihi batas minimal, manajer akan menerima bonus. Besarnya bonus akan meningkat hingga mencapai batas maksimal. Ketika batas maksimal terlewati, besarnya bonus tidak akan meningkat lagi. Manajer akan berusaha memaksimalkan besarnya laba hingga mencapai batas maksimal pemberian bonus berdasarkan laba tersebut. Ketika besarnya laba jauh di atas batas maksimal pemberian bonus, manajer akan meminimalkan labanya sehingga manajer tetap mendapatkan bonus dalam jumlah maksimal dan di saat yang sama, manajer bisa menyimpan laba untuk periode mendatang ketika besarnya laba dibawah batas pemberian bonus. Manajemen laba juga dilakukan untuk mempengaruhi hasil kontrak yang didasarkan pada laba. Salah satu contohnya adalah kontrak pemberian pinjaman oleh kreditur. Kontrak perjanjian pinjaman dengan kreditur biasanya memiliki syarat-syarat yang didasarkan pada angka akuntansi, termasuk besarnya laba. Ketika perusahaan berada di ambang batas pelanggaran perjanjian kontrak, manajer akan termotivasi untuk melakukan manajemen laba demi menghindari biaya yang ditimbulkan jika perjanjian tersebut dilanggar. Manajemen laba bisa legal dan bisa ilegal. (Sulistyawan et al.2011). Manajemen laba yang dilakukan sejauh yang diperbolehkan standar akuntansi yang berlaku merupakan manajemen laba yang legal. Sebaliknya, praktik manajemen laba yang melanggar standar akuntansi yang berlaku merupakan manajemen laba yang ilegal

Tidak ada komentar: