memiliki beberap kelemahan mendasar. Kebanyakan statistik yang dgunakan dalam model tes klasik yang dipergunakan dalam analisis. Rerata tingkat kemampuan, rentang dan sebaran nilai yang dijadikan sampel dalam analsiis sangat mempengaruhi nilai statistik yang diperoleh. Sebagai contoh, tingkat kesukaran soail akan tinggi apabila sampel yang digunakan memiliki kemampuan lebih tinggi daripada rerata kemampuan siswa daam populasinya. Daya embeda soal akan tinggi apabilakemampuan sampel bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar, demikian pula dengan reabilitas tes.
Kelemahan kedua yakni nilai data sangat terbatas pada tes yang digunakan. Kesimpulan hasil tes tidak dapat digeneralisasikan di luar tes yang digunakan. Skor perolehan seseorang sangat tergantung pada pemilihan tes yang digunakan. Karena keterbatasan penggunaan skor tes, teori tes klasikal tidak mempunyai dasar untuk mempelajari perkembangan kemampuan, kecuali responden mengikuti tes tersebut dari waktu ke waktu.
Ketiga, konsep keajegan/reliabilitas dalam konteks teori tes klasik di dasarkan pada kesejajaran perangka tes sangat sukar untuk dipenuhi. Padapraktiknya, sulit sekali memperoleh dua perangkat tes yang benar-benar sejajar. Jika prosedur tes retes digunakan, sampel yang diambil sangat tidak mungkin beperilaku sama pada saat tes dikerjakan untuk yang kedua kalinya
Keempat, teori tes klasik tidak memberikan landasan untuk menentukan bagaimana respons seseorang peserta tes apabila diberikan butir tertentu. Tidak adanya informasi ini tidak memungkinkan melakukan desain tes yang bervariasi dengan kemampuan peserta tes
Kelima, indeks kesalahan baku pengukuran dipra asumsikan sama untuk setiap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar