Jumat, 15 April 2022

Model Inflasi Keynes (skripsi tesis dan disertasi)


Sementara itu, pada model inflasi Keynes, jumlah uang beredar bukanlah
satu-satunya faktor penentu tingkat harga. Ada banyak faktor lain yang menurut
Keynesian dapat mempengaruhi tingkat harga, seperti pengeluaran konsumsi
rumah tangga, pengeluaran untuk investasi, pengeluaran pemerintah, dan pajak
(Nanga, 2001). Inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas
kemampuan ekonomisnya, sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat
terhadap barang-barang (permintaan agregat) melebihi jumlah barang-barang yang
tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap.
Keterbatasan jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena 
dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk
mengimbangi kenaikan permintaan agregat. Oleh karenanya sama seperti
pandangan kaum monetarist, Keynesian models ini lebih banyak dipakai untuk
menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek. Model ini
mengasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full
employment. Menurut Keynes, kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat
permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun
tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah, maka harga
akan naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang
untuk transaksi, yang selanjutnya akan diikuti dengan kenaikan suku bunga. Hal
ini akan berpengaruh terhadap melambatnya atau bahkan berkurangnya
pertambahan permintaan untuk investasi dan akan memperlemah tekanan inflasi.
Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang
ditimbulkan oleh pengeluaran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan
peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial. Menurut
Sumiatun dan Jamli (2001), golongan non monetarist ini menambahkan bahwa
peningkatan permintaan agregat dapat terjadi karena adanya peningkatan
pengeluaran konsumsi, peningkatan investasi swasta (karena suku bunga kredit
murah), peningkatan pengeluaran pemerintah (yang dibiayai dengan pencetakan
uang baru), atau kenaikan ekspor neto (karena kenaikan permintaan luar negeri
terhadap barang-barang ekspor).

Tidak ada komentar: