Jumat, 15 April 2022

Jenis dan Dampak Inflasi (skripsi tesis dan disertasi)


Inflasi memiliki beberapa tingkat kejadian yang berbeda begitu pula
dengan dampak yang ditimbulkannya. Jenis inflasi terdiri dari inflasi moderat 
(moderate inflation), inflasi ganas (galloping inflation), dan hiperinflasi
(hyperinflation) (Samuelson, et. al., 1992:311). Dampak inflasi terdiri dari
redistribution effect of inflation, efficiency effect of inflation, output and
employment effect of inflation, dan unstable environment (Nanga, M., 2001:252).
Inflasi moderat ditandai dengan harga-harga yang meningkat secara
lambat, dapat disebut juga dengan laju inflasi satu digit per tahun. Inflasi jenis ini
menunjukan harga-harga relatif stabil. Inflasi ganas merupakan inflasi dalam dua
digit atau tiga digit (seperti 20,100 atau 200) persen pertahun. Jika inflasi ganas
timbul, maka menimbulkan gangguan-gangguan serius dalam perekonomian.
Hiperinflasi merupakan inflasi yang lebih besar dari dua digit atau tiga digit
persen pertahun. Tidak ada segi baik sebuah perekonomian pasar, apabila hargaharga meningkat ribuan, jutaan, atau bahkan triliunan persen per tahun.
Berdasarkan laju inflasi, jenis inflasi dapat dikategorikan sebagai inflasi
ringan (<10% per tahun), inflasi sedang (10-30% per tahun), inflasi berat (30-
100% per tahun), dan hiperinflasi (>100% per tahun). Penentuan parah atau
tidaknya inflasi sangat relatif dan tergantung pada “selera” untuk menamakannya.
Bila laju inflasi sebesar 20% dan semuanya berasal dari barang dan jasa yang
dikonsumsi oleh golongan yang berpenghasilan rendah, maka seharusnya dapat
disebut inflasi yang parah (Boediono, 1982:156).
Inflasi yang terjadi di dalam suatu perekonomian memiliki beberapa
dampak atau akibat sebagai berikut:
1) Inflasi dapat mendorong terjadinya redistribusi pendapatan diantara anggota
masyarakat yang dapat mempengaruhi kesejahteraan ekonomi anggota 
masyarakat. Redistribusi pendapatan yang terjadi menyebabkan pendapataan
riil seorang meningkat, sedangkan pendapatan riil yang lainnya jatuh. Parah
atau tidaknya redistribusi pendapatan dan kekayaan tersebut sangat tergantung
pada apakah inflasi itu bersifat dapat diantisipasi (anticipated) atau tidak dapat
diantisipasi (unanticipated).
2) Inflasi dapat menyebabkan penurunan di dalam efisiensi ekonomi (economic
efficiency). Hal ini dapat terjadi karena inflasi dapat mengalahkan sumber
daya dari investasi yang produktif (productive investment) ke investasi yang
tidak produktif (unproductive investment) sehingga mengurangi kapasitas
ekonomi produktif.
3) Inflasi dapat menyebabkan perubahan-perubahan di dalam output dan
kesempatan kerja, dengan cara lebih langsung dengan memotivasi perusahaan
untuk memproduksi lebih atau kurang dari yang telah dilakukannya, dan juga
memotivasi orang untuk bekerja lebih atau kurang dari yang telah dilakukan
selama ini.
4) Inflasi dapat menciptakan suatu lingkungan yang tidak stabil (unstable
environment) bagi keputusan ekonomi. Jika sekiranya konsumen
memperkirakan bahwa tingkat inflasi di masa mendatang akan naik, maka
akan mendorong konsumen untuk melakukan pembelian barang dan jasa
secara besar-besaran pada saat sekarang ketimbang menunggu tingkat harga
meningkat lagi di masa mendatang. Begitu pula dengan perbankan, jika
ekpektasi inflasi meningkat di masa depan maka perbankan akan menaikan 
tingkat suku bunga pinjaman sebagai langkah proteksi dalam penurunan
pendapatan riil dan kekayaan (losses of real income and wealth).

Tidak ada komentar: