Kepemimpinan merupakan proses memengaruhi. Seorang pemimpin
dalam proses tugasnya betindak untuk mempengaruhi, berinteraksi dengan
pengikutnya atau anggotanya memerlukan kualitas psikologi tertentu. Sebelum
memahami, memengaruhi dan mengubah para pengikutnya, seorang pemimpin
harus memahami dirinya sendiri, kekuatan maupun kelemahan yang dimilikinya
(Wirawan, 2013).
Sekarang setelah hampir satu dekade membangun teori, Modal Psikologi
(PsyCap) sudah diakui secara luas di seluruh dunia dan sedang diterapkan dalam Kepemimpinan Positif dan pengembangan sumber daya manusia dan program
manajemen kinerja di semua jenis organisasi, bisnis, kesehatan, pendidikan,
militer dan juga bidang atletik (Sanjeev Sharma, 2015).
Pada mulanya, Modal Psikologi dikaitkan dengan produktivitas namun
kemudian dihubungkan dengan sikap dan kinerja pekerjaan. Modal Psikologis
merupakan dukungan positif yang diperlukan oleh sumber daya manusia dalam
rangka mencapai pertumbuhan organisasi yang stabil. Iklim yang mendukung bagi
semua anggota organisasi dalam pelaksanaan tugas mereka (Sanjeev Sharma,
2015). Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa Modal Psikologi secara
positif berelasi dengan job outcomes seperti performance, komitmen terhadap
organisasi, dan kepuasan kerja (Aisha Zubair, 2015).
Luthans, Youssef dan Avolio (2007) mendefinisikan Modal Psikologi
sebagai "keadaan psikologis positif individu dan dicontohkan dengan : (1)
memiliki keyakinan (self-efficacy) untuk merebut dan dimasukkan ke dalam upaya
yang diperlukan untuk berhasil di tugas yang menantang; (2) Menciptakan atribusi
positif (optimisme) tentang sukses sekarang dan di masa depan; (3) tekun menuju
tujuan dan target dan, jika diperlukan, mengarahkan jalan untuk tujuan
(hope/harapan) untuk tumbuh subur; dan (4) ketika dibanjiri oleh masalah dan
kesulitan, mampu mempertahankan dan memantul kembali dan bahkan lebih
(daya tahan) untuk mencapai keberhasilan” (Aisha Zubair, 2015).
Keempat hal tersebut menjadi payung dari PsyCap atau Modal Psikologi
yang didefinisikan oleh Luthans sebagai berikut :
Hope/harapan didefinisikan oleh Snyder, Harris, Anderson et al (Aisha
22
Zubair, 2015) sebagai suatu motivasi positif dimana terjadi interaksi dua unsur
fundamental dari perasaan sukses organisasi yang berorientasi pada penentuan
tujuan dan langkah-langkah atau perencanaan untuk pencapaiannya.
Bandura dan Locke mendefinisikan Self-efficacy sebagai keyakinan diri
dalam mencapai tujuan tertentu dalam situasi tertentu pula. Penelitian telah
menunjukkan bahwa anggota organisasi yang memiliki self-efficacy yang tinggi
mampu melakukan tugas lebih baik daripada rekan-rekan mereka (Aisha Zubair,
2015).
Orang optimis didefinisikan sebagai konstruk realistis yang menganggap
apa yang dapat dilakukan oleh seorang anggota atau tidak, dengan demikian,
optimisme mendasari efikasi diri dan harapan.
Ketahanan/resilience – definisikan oleh Luthan dalam Psikologi Positif
sebagai cara yang positif untuk mengatasi kesulitan atau kesusahan. Dalam aspek
organisasi, itu didefinisikan sebagai kemampuan untuk bangkit kembali dari stres,
konflik, kegagalan, perubahan atau peningkatan tanggung jawab (Aisha Zubair,
2015).
Bagaimanapun juga sebagian besar penelitian telah berfokus pada atribut
pribadi dan individu (seperti kemampuan kognitif) yang memainkan peran penting
dalam kreativitas (Feist, 1998; McCrae & Costa, 1989; Tierney, Farmer, & Graen,
1999). Woodman, Sawyer, & Griffin berpendapat bahwa perkembangan
penelitian telah bergeser dari faktor individu terhadap model kontekstual dan
integratif yang lebih komprehensif (Aisha Zubair, 2015). Sternberg & Lubart et al
juga melihat kreativitas karyawan sebagai hasil dari interaksi beberapa faktor
23
yang beroperasi di semua tingkatan, yaitu, organisasi, kelompok, dan individu
(Aisha Zubair, 2015).
PsyCap dan iklim positif yang mendukung diperlukan untuk sumber daya
manusia dalam rangka mencapai pertumbuhan organisasi yang stabil. Iklim yang
mendukung didefinisikan sebagai total dukungan yang diterima seorang karyawan
dari rekan kerja mereka, departemen lain dan supervisor mereka yang membantu
mereka dengan tuntutan pekerjaan mereka (Aisha Zubair, 2015).
Modal Psikologi dan emosi positif adalah contoh faktor personal
memfasilitasi perubahan organisasi. Perubahan organisasi yang terjadi secara
positif memiliki konsekuensi psikologis dan mengarah pada prilaku yang lebih
positif daripada yang negatif. Peranan emosi positif membantu para anggota
mengatasi perubahan organisasi dengan memperluas sudut pandang mereka,
mendorong pengambilan keputusan secara terbuka. Interaksi ini menunjukkan
bahwa Modal Psikologi melalui emosi positif, mempengaruhi sikap dan prilaku
anggota organisasi yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan organisasi
(Aisha Zubair, 2015).
Rego, Sousa, Marques, & Cunha, 2012 (Aisha Zubair, 2015) juga
menyarankan bahwa faktor-faktor PsyCap atau Modal Psikologi (yaitu, selfefficacy, harapan, optimisme, dan ketahanan) dapat berfungsi sebagai mekanisme
mediasi dalam hubungan antara kepemimpinan otentik dan kreativitas. Selain itu
Gardner, Avolio, dan kawan-kawan melihat bahwa elemen-elemen Modal
Psikologi mampu mendorong tingkat emosional positif yang akan memfasilitasi dengan baik ketaatan dan prilaku adaptif dalam kreativitas dan produktivitas
(Aisha Zubair, 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar