Dewasa ini, Indonesia dikenal sebagai negara yang masyarakatnya
beragama dan sangat mementingkan religi dalam hidupnya, hal ini bisa dilihat
pada ideologi dasar negara yang meletakan keTuhanan di posisi teratas.
Fenomena semangat pendalaman ajaran agama pada generasi muda di
Indonesia menunjukan gejala peningkatan (Afiatin, 1998). Individu yang
religius diketahui memiliki keyakinan, ketaatan, pengalaman, pengetahuan dan
pengamalan yang diarahkan secara sadar dan sungguh-sungguh pada ajaran
agamanya. Individu yang religiusitasnya tinggi cenderung memiliki regulasi
diri yang baik sehingga tidak kompulsif dalam berbelanja (Djudiyah dan
Sumantri, 2015).
Religiusitas merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk
meminimalisir terbentuknya nilai materialistik dan belanja impulsif maupun kompulsif. Komitmen yang tinggi terhadap nilai-nilai agama yang telah
diinternalisasinya akan berfungsi sebagai regulasi diri mapun kontrol diri
dalam berperilaku. Individu yang memiliki religiusitas tinggi mampu menunda
kegembiraan dengan baik serta memiliki performance yang lebih baik pada
pengukuran prestasi akademik dan penyesuaian sosial (McCullough dan
Willoughby, 2009).
Menurut Joung, (2013) mahasiswa saat ini sangat memperhatikan
penampilan, dan memiliki sikap konsumtif terhadap barang yang
pembeliannya cenderung tidak direncanakan (compulsive), dan lebih banyak
dari yang dibutuhkan. Pusat perbelanjaan modern, seperti supermarket dan
mall selalu dipenuhi oleh kalangan muda berstatus mahasiswa yang
menunjukan perilaku konsumtif. Lingkungan hidup mahasiswa saat ini juga
serat dengan nilai-nilai materialistis. Individu tersebut menjadi mudah
terpengaruh oleh lingkungannya yang menyebabkan munculnya materialisme
di kalangan mahasiswa. (Johan dan Cahyo, 2016).
Individu yang materialistis juga dapat diketahui dari nilai yang dianutnya,
yang menekankan kepentingan pada pemilikan harta benda dan
pemerolehannya sebagai tujuan hidup, parameter kesuksesan, dan sumber
kebahagiaan (Richins dan Dawson, 1992). Individu yang materialistis
melakukan konsumsi demi konsumsi itu sendiri, karena tujuan hidupnya
berhenti pada pemerolehan barang dan harta benda. Mereka memandang harta
benda dan uang adalah kunci kebahagiaan dan kesuksesan sosial, dan
mengabaikan pentingnya hubungan sosial, pengalaman, dan prestasi. Mereka
27
menilai kesuksesan diri dan orang lain berdasarkan jumlah dan kualitas harta
benda yang dikumpulkan (Husna, 2016).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa religiusitas menjadi salah satu
faktor yang berhubungan dengan materialisme pada mahasiswa. Karakteristik
dari mahasiswa yang memiliki religiusitas dapat dijelaskan melalui dimensi
religiusitas yaitu, dimensi ideologi, ritual, pengalaman, intelektual, dan
pengamalan. Kelima aspek tersebut berhubungan dengan aspek-aspek
materialisme yaitu, kepemilikan barang milik material dan uang adalah tujuan
hidup yang paling penting, barang sebagai jalan utama untuk mencapai
kebahagiaan personal dan barang milik sebagai alat ukur kesuksesan.
Dimensi religiusitas yang pertama adalah dimensi kepercayaan (ideologi)
terhadap Tuhan yaitu, keimanan individu terhadap ajaran-ajaran agamanya,
terutama yang termuat dalam kitab suci atau pedoman ajaran agamanya. Serta
keyakinan atau keimanan individu terhadap kebenaran ajaran agama, terutama
terhadap ajaran-ajaran agama yang bersifat fundamental dan dogmatik.
Individu yang memiliki kepercayaan yang tinggi pada Tuhan, mereka akan
meletakan Tuhan sebagai tujuan hidup yang paling penting karena individu
yang religius memiliki pemahaman bahwa hanya dengan menuju Tuhan,
kebahagiaan sejati bisa didapatkan. Hal tersebut tentu berhubungan dengan
materialisme individu yang hanya membatasi kebahagiaan sebatas
kepemilikan benda-benda material semata. Aspek materialisme berupa tujuan
hidup materialistis yang menekankan akan pentingnya kepemilikan barang dan
uang pun akan berkurang dengan sendirinya karena tuntutan keimanan dan
28
ajaran agama yang fundamental dengan hanya menuju Tuhan (Jalaluddin,
2016).
Dimensi yang kedua adalah dimensi praktik agama (ritualistik) yang
mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan individu
untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya. Praktik agama
ini terdiri dari ritual dan ketaatan yang ditandai dengan seberapa jauh
kepatuhan individu dalam mengerjakan kegiatan-kegiatan ritual yang
diperintahkan oleh agamanya. Kepatuhan ini ditunjukkan dengan meyakini
dan melaksanakan kewajiban-kewajiban secara konsisten. Individu yang selalu
taat menjalankan ajaran agamanya akan mengurangi sikap konsumtifnya
karena di dalam agama terdapat ajaran tentang dilarangnya sikap hidup
berlebihan terhadap barang materil yang identik dengan aspek materialisme
yang meyakini bahwa barang dan uang adalah jalan utama untuk mencapai
kebahagian personal, kehidupan yang lebih baik, dan identitas diri yang lebih
positif (Ahyadi, 2011).
Dimensi yang ketiga adalah dimensi pengalaman keagamaan
(eksperiensial) yaitu, pengalaman, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan
sensasi-sensasi yang dialami individu terhadap komunikasinya dengan Tuhan.
Individu yang yang mengalami pengalaman spiritual akan menilai kesuksesan
seseorang berdasarkan pencapaian pada pengalaman spiritual tersebut. Hal ini
disebabkan oleh adanya perbedaan orientasi hidup antara Individu yang
religius dengan individu yang materialis, di dalam ajaran agama, tujuan
tertinggi dari kehidupan manusia adalah perjumpaannya dengan Tuhan dalam
Syurga. Hal tersebut jelas berbeda dengan individu materialistis yang
29
menekankan aspek kepemilikan barang dan uang sebagai alat ukur untuk
mengevaluasi prestasi dan tolak ukur kesuksesan diri sendiri juga orang lain.
Individu yang materialistis hanya melihat kesuksesan seseorang sebatas pada
pencapaian materi seperti memiliki barang dan uang. Mahasiswa yang
mengalami pengalaman spiritualitas dalam hidupnya akan menilai kesuksesan
seseorang tidak hanya pada pencapaian materi semata tapi kesuksesan tersebut
diartikan sebagai pengalaman spiritualitas itu sendiri seperti kedekatan dan
perjumpaan dengan Tuhan (Purwadi, 2007).
Dimensi yang keempat adalah dimensi pengetahuan (intelektual) yang
ditunjukkan dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman individu terhadap
ajaran-ajaran agamanya, terutama yang termuat dalam kitab suci atau
pedoman ajaran agamanya. Hal tersebut berpengaruh pada penurunan nilai
materialisme. Individu yang religius memandang kesuksesan sejati dapat
diperoleh tidak hanya dengan perolehan benda material semata tapi lebih dari
itu, kesuksesan menurut individu yang memiliki religiusitas tinggi adalah
perjumpaan dengan Tuhan, baik itu dalam dimensi kehidupan saat ini maupun
kehidupan setelah kematian (Jalaluddin, 2016).
Dimensi yang kelima adalah dimensi pengamalan (konsekuensial) yang
mengacu pada identifikasi dari akibat-akibat keagamaan, praktik, pengalaman
dan pengetahuan individu dari hari ke hari seperti perilaku individu yang
dimotivasi oleh ajaran agamanya atau seberapa jauh individu menerapkan
ajaran agamanya dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Hal tersebut tentu
berhubungan dengan meminimalisir terbentuknya nilai-nilai materialistik.
30
Komitmen yang tinggi dalam beragama akan berfungsi sebagai kontrol diri
dalam menghadapi nilai-nilai materialisme (Djudiyah dan Sumantri, 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar