Rabu, 02 Juni 2021
Teori Perilaku Terencana (Teory of Planned Behaviour) (skripsi dan tesis)
Antara manusia yang satu dengan manusia lainnya memiliki perbedaan,
salah satu perbedaan tersebut adalah tindakan baik dan buruk. Setiap tindakan
yang dilakukan individu pasti memiliki latar belakang, tujuan serta dampak bagi
individu yang melakukannya.
Azwar (2011:11) teori perilaku terencana (theory of planned behavior)
merupakan perluasan dari theory of reasoned action (TRA) yang dikembangkan
oleh Icek Ajsen dan Martin Fisbein pada tahun 1980. Ajzen dan Fisbein
mengembangkan teori perilaku terencana dengan menambah konstruk yang belum
ada di theory of reasoned action yaitu persepsi kontrol perilaku (perceived
behavioral control). Teori perilaku terencana bertujuan untuk memprediksi dan
memahami dampak dari niat berperilaku, mengidentifikasi strategi untuk merubah
suatu perilaku serta menjelaskan perilaku nyata manusia. Teori perilaku terencana
mengansumsi bahwa manusia yang bersifat rasional akan menggunakan informasi
yang ada secara sistematik kemudian memahami dampak perilakunya sebelum
memutuskan untuk mewujudkan perilaku tersebut.
Teori perilaku terencana (TPB) mengenal kemungkinan bahwa banyak
perilaku yang semuanya di bawah kontrol penuh individu. Dalam Teori perilaku
terencana, perilaku yang ditampilkan individu timbul karena adanya intensi untuk
berperilaku. Intensi merupakan indikasi seberapa keras seseorang berusaha untuk menampilkan suatu perilaku. Jadi, semakin keras niat seseorang untuk terlibat
dalam suatu perilaku maka semakin besar pula kecenderungan orang untuk
melakukan perilaku tersebut.
Intensi individu untuk menampilkan suatu perilaku adalah kombinasi dari
sikap untuk menampilkan perilaku tersebut dan norma subjektif. Sikap individu
terhadap perilaku meliputi kepercayaan mengenai suatu perilaku, evaluasi
terhadap hasil perilaku, norma subjektif, kepercayaan-kepercayaan normatif dan
motivasi untuk patuh.
Dalam teori perilaku terencana ada beberapa tujuan dan manfaat diantaranya
untuk meramalkan dan memahami pengaruh motivasional terhadap perilaku yang
bukan dibawah kendali atau kemauan individunya sendiri. Untuk mengidentifikasi
bagaimana dan kemana mengarahkan suatu strategi-strategi untuk perubahan
perilaku dan juga untuk menjelaskan pada setiap aspek penting beberapa perilaku
manusia. Teori ini menyediakan suatu kerangka untuk mempelajari sikap terhadap
perilaku. Berdasarkan teori tersebut, hal utama dari teori tersebut adalah intensi
untuk berperilaku. Teori perilaku terencana ini didasarkan pada asumsi bahwa
manusia merupakan makhluk yang rasional dan mereka menggunakan infomasi
yang mungkin baginya secara sistematis.
Teori perilaku terencana ini menjelaskan bahwa niat individu untuk
berperilaku dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku (Attitude Toward the
Behavior), norma subjektif (Subjective Norm), dan persepsi kontrol perilaku
(Perceived Behavioral Control). Jogiyanto (2007:36) sikap terhadap perilaku perilaku (Attitude Toward the
Behavior) dari proses evaluasi kepercayaan atau perasaan positif atau negatif dari
seseorang jika harus melakukan perilaku yang akan ditentukan. Azwar (2011:15)
sikap terhadap perilaku berasal dari evaluasi setiap individu memberikan
kesimpulan terhadap perilaku dalam bentuk baik-buruk, positif-negatif,
menyenangkan-tidak menyenangkan sebagai potensi reaksi terhadap situasi atau
objek tertentu. Individu akan bertindak sesuai dengan sikap yang ada dalam
dirinya terhadap suatu perilaku. Sikap terhadap perilaku yang dianggap positif,
nantinya akan dijadikan pilihan individu untuk membimbingnya dalam
berperilaku di kehidupannya.
Jogiyanto (2007:42) norma subjektif yaitu persepsi atau pandangan
seseorang terhadap kepercayaan-kepercayaan orang lain akan mempengaruhi
minat untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang
dipertimbangkan. Azwar (2011:12) norma subjektif yaitu keyakinan yang berasal
dari orang lain seperti anggota keluarga, teman, rekan kerja, masyarakat,
lingkungan yang inginkan agar kita melakukannya. Norma subjektif sebagai
persepsi individu mengenai apakah orang-orang yang penting baginya akan
mendukung atau tidak untuk melakukan suatu perilaku tertentu dalam
kehidupannya. Seorang individu akan berniat menampilkan suatu perilaku tertentu
jika ia mempresentasi bahwa orang-orang lain yang penting berfikir bahwa ia
seharusnya melakukan hal itu.
Jogiyanto (2007:66) kontrol perilaku yaitu kepercayaan yang dimiliki
seseorang mengenai sumber-sumber daya dan kesempatan yang dimiliki untuk mengantisipasi sesuatu yang dihadapi untuk melakukan perilaku. Azwar
(2011:12) berpendapat kontrol perilaku yaitu keyakinan individu terhadap
seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang dipertimbangkan
ketika tersedia atau tidaknya kesempatan dan sumber-sumber yang diperlukan.
Keyakinan berasal dari individu di masa lalu atau dapat juga dipengaruhi oleh
informasi tidak langsung dengan melihat pengalaman orang lainyang pernah
melakukannya sehingga dapat mempengaruhi minat individu terhadap perilaku
tersebut. Ketika seseorang memiliki sikap positif dan persepsi, seseorang tersebut
memiliki suatu kepercayaan bahwa suatu perilaku dapat diterima di lingkungan
sekitarnya, dan seseorang tersebut yakin bahwa sesuatu yang dilakukannya
tersebut adalah hasil atas kontrol dirinya maka ia akan memiliki intensi untuk
menunjukkan suatu perilaku.
Variabel identitas profesional mempresentasikan komponen sikap terhadap
perilaku. Identitas profesional tersebut akan membentuk keyakinan pada diri
seseorang bahwa pekerjaan yang sedang dikerjakan memberikan hal yang baik
bagi individu tersebut. Seseorang yang memiliki identitas profesional yang tinggi
cenderung selalu mematuhi kode etik dan norma yang berlaku dengan tujuan
untuk menghindari pelanggaran yang mungkin terjadi di masa depan yang dapat
membahayakan profesinya. Oleh karena itu, mereka dapat termotivasi untuk
melindungi pekerjaannya dengan melaporkan pelanggaran tersebut.
Variabel locus of control mempresentasikan komponen persepsi kontrol
perilaku. Perilaku individu merupakan hasil dari pengendalian yang dilakukan
dari dalam diri individu sendiri. Pengendalian yang dilakukan individu dapat dilihat dari cara pandangnya terhadap suatu peristiwa. Pengendalian diri ini sangat
dibutuhkan karyawan untuk dapat mengungkapkan tindakan pelanggaran yang
terjadi di perusahaan karena dengan pengendalian diri yang baik, maka pegawai
dapat melakukan pengungkapan atas kecurangan atau pelanggaran yang terjadi.
Variabel intensitas moral mempesentasikan sikap terhadap perilaku pada
teori perilaku terencana. Dalam variabel ini, individu mengacu pada persepsi
individu akan kemampuannya untuk menampilkan perilaku tersebut. Individu
akan bertindak sesuai dengan sikap yang ada dalam dirinya terhadap suatu
perilaku. Individu akan mengukur ukuran pasti baik atau buruk dari suatu perilaku
yang dilakukan. Kontrol tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor internal individu
yaitu diri individu itu sendiri dan faktor eksternal individu yaitu lingkungan
dimana indvidu berada.
Variabel reward mempresentasikan penghargaan individu terhadap perilaku.
Dalam variabel ini, individu yang memberikan perilaku yang baik bagi
perusahaan terutama untuk melaporkan suatu pelanggaran atau kecurangan yang
ada diperusahaan demi kebaikan perusahaan itu sendiri akan diberikan
penghargaan atas perilaku berani yang individu tersebut lakukan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar