Sebagaimana sekilas disinggung pada bagian sebelumnya bahwa pembelajaran
transformatif membawa ragam pandangan terkait dimensi pembelajaran yang bertransformasi.
Hal ini berkaitan erat dengan latar pendekatan yang digunakan untuk mengkonsepsikan teori
pembelajaran transformatif. Ditinjau dari pendekatannya, menurut Dirkx (1998) dan Hoggan
(2015), pembelajaran transformatif dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) learning
for consciousness-raising, (2) learning for critical reflection, (3) learning for development,
dan (4) learning for individuation.
Pembelajaran (atau pendidikan) transformatif sebagai peningkatan kesadaran
(consciousness-raising) dikemukakan oleh Paulo Freire (1970).5
Kesadaran kritis yang
dimaksudkan Freire merujuk pada proses dimana pembelajar meningkatkan kemampuan
analisis, menghadapi persoalan, dan melakukan tindakan dalam konteks sosial, politik,
kultural, dan ekonomi yang mempengaruhi dan membentuk kehidupannya. Kepekaan ini
diperlukan untuk memahami strktur sosial yang berlaku di lingkungannya sehingga bisa
terbebas dari resiko dan tindak penindasan dan kesewenang-wenangan.
Selanjutnya, pembelajaran transformatif yang diorientasikan pada refleksi kritis
(critical reflection) digagas dan dikembangkan oleh Jack Mezirow. Dalam pandangannya peserta didik perlu dikondisikan untuk membangun refleksi kritis atas asumsi awal yang telah
dimiliki dengan cara mengkronfrontasikannya dengan asumsi-asumsi lain yang berbeda
secara substansial atau dengan kenyataan yang “menggoyahkan” asumsi awalnya tersebut.
Melalui proses kritis-reflektif tersebut, perspektif baru dapat terbentuk dan kemudian menjadi
dasar tindakan peserta didik. Perubahan pada sisi perspektif dengan pendekatan rasionalkognitif inilah yang menjadi penekanan dalam pembelajaran transformatif Mezirow.
Pada sisi lain, perspektif perkembangan peserta didik (developmental perspective)
juga digunakan sebagai basis dalam memahami pembelajaran transformatif, seperti yang
diartikulasikan pertama kali oleh Larry Daloz (1986). Ia memandang bahwa kebutuhan untuk
menemukan dan membangun kebermaknaan hidup (meaning) sebagai faktor kunci yang
mendorong orang dewasa untuk terlibat dalam sebuah pembelajaran formal. Dan ini, masih
menurut Daloz, berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan kita sendiri. Tingkat
“kematangan” dan kondisi lingkungan yang berubah akan menuntut seseorang bergerak dari
fase perkembangan saat itu ke fase berikutnya – melalui pelibatkan diri dalam proses
pembelajaran. Dari sini, sangatlah jelas perspektif ‘perkembangan dan perubahan’ (growth
and transformation) yang mendasari pandangan Daloz dalam pembelajaran transformatif –
walaupun masih dipengaruhi oleh konteks sosio-kultural yang melatarbelakanginya (Dirkx,
1998).
Aliran pendekatan yang keempat tentang pembelajaran transformatif pertama kali
direpresentasikan oleh Robert Boyd (1991; Boyd & Myers, 1988). Walaupun pandangannya
memiliki irisan dengan Daloz, Mezirow, dan Freire, Boyd meletakkan perkembangan
kesadaran, perubahan, dan perkembangan pada makna yang berbeda. Perhatian Boyd lebih
pada dimensi ekspresif atau emosional-spiritual dan mengintegrasikannya secara menyeluruh
dan holistik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran transformatif, lanjut Boyd,
melibatkan proses identifikasi ‘simbol-simbol’ dan dialog intrapersonal untuk memahaminya.
Dialog ini merupakan bagian dari proses lebih luas yang – dalam istilah Carl Jung – disebut
individuasi, yaitu proses untuk ‘menyelami’ dan memahami diri sendiri lebih jauh, sehingga
dapat terhindar dari obsesi, keserakahan, dan bagian gelap lain yang mungkin muncul dari
‘ketidaksadaran’ (Dirkx, 1998).
Selain pandangan-pandangan di atas, terdapat pula pandangan lain yang berusaha
mengakomodasi semua dimensi transformasi tersebut, salah satunya adalah Knud Illeris
(2014). Ia mengajukan pandangan bahwa target pembelajaran transformatif dapat tercakup
dalam terma ‘identitas’. Identitas yang dimaksud yaitu kombinasi dari pengalaman personal
yang khas dalam situasi apapun dan bagaimana seseorang ‘menampilkan’ dirinya terhadap
lingkungannya. Jadi, identitas merujuk pada kompleksitas jati diri personal dan sosial
seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar