Senin, 28 Juni 2021

Ragam pendekatan pembelajaran transformatif (skripsi dan tesis)

Sebagaimana sekilas disinggung pada bagian sebelumnya bahwa pembelajaran transformatif membawa ragam pandangan terkait dimensi pembelajaran yang bertransformasi. Hal ini berkaitan erat dengan latar pendekatan yang digunakan untuk mengkonsepsikan teori pembelajaran transformatif. Ditinjau dari pendekatannya, menurut Dirkx (1998) dan Hoggan (2015), pembelajaran transformatif dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu: (1) learning for consciousness-raising, (2) learning for critical reflection, (3) learning for development, dan (4) learning for individuation. Pembelajaran (atau pendidikan) transformatif sebagai peningkatan kesadaran (consciousness-raising) dikemukakan oleh Paulo Freire (1970).5 Kesadaran kritis yang dimaksudkan Freire merujuk pada proses dimana pembelajar meningkatkan kemampuan analisis, menghadapi persoalan, dan melakukan tindakan dalam konteks sosial, politik, kultural, dan ekonomi yang mempengaruhi dan membentuk kehidupannya. Kepekaan ini diperlukan untuk memahami strktur sosial yang berlaku di lingkungannya sehingga bisa terbebas dari resiko dan tindak penindasan dan kesewenang-wenangan. Selanjutnya, pembelajaran transformatif yang diorientasikan pada refleksi kritis (critical reflection) digagas dan dikembangkan oleh Jack Mezirow. Dalam pandangannya peserta didik perlu dikondisikan untuk membangun refleksi kritis atas asumsi awal yang telah dimiliki dengan cara mengkronfrontasikannya dengan asumsi-asumsi lain yang berbeda secara substansial atau dengan kenyataan yang “menggoyahkan” asumsi awalnya tersebut. Melalui proses kritis-reflektif tersebut, perspektif baru dapat terbentuk dan kemudian menjadi dasar tindakan peserta didik. Perubahan pada sisi perspektif dengan pendekatan rasionalkognitif inilah yang menjadi penekanan dalam pembelajaran transformatif Mezirow. Pada sisi lain, perspektif perkembangan peserta didik (developmental perspective) juga digunakan sebagai basis dalam memahami pembelajaran transformatif, seperti yang diartikulasikan pertama kali oleh Larry Daloz (1986). Ia memandang bahwa kebutuhan untuk menemukan dan membangun kebermaknaan hidup (meaning) sebagai faktor kunci yang mendorong orang dewasa untuk terlibat dalam sebuah pembelajaran formal. Dan ini, masih menurut Daloz, berkaitan erat dengan perkembangan kehidupan kita sendiri. Tingkat “kematangan” dan kondisi lingkungan yang berubah akan menuntut seseorang bergerak dari fase perkembangan saat itu ke fase berikutnya – melalui pelibatkan diri dalam proses pembelajaran. Dari sini, sangatlah jelas perspektif ‘perkembangan dan perubahan’ (growth and transformation) yang mendasari pandangan Daloz dalam pembelajaran transformatif – walaupun masih dipengaruhi oleh konteks sosio-kultural yang melatarbelakanginya (Dirkx, 1998). Aliran pendekatan yang keempat tentang pembelajaran transformatif pertama kali direpresentasikan oleh Robert Boyd (1991; Boyd & Myers, 1988). Walaupun pandangannya memiliki irisan dengan Daloz, Mezirow, dan Freire, Boyd meletakkan perkembangan kesadaran, perubahan, dan perkembangan pada makna yang berbeda. Perhatian Boyd lebih pada dimensi ekspresif atau emosional-spiritual dan mengintegrasikannya secara menyeluruh dan holistik dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran transformatif, lanjut Boyd, melibatkan proses identifikasi ‘simbol-simbol’ dan dialog intrapersonal untuk memahaminya. Dialog ini merupakan bagian dari proses lebih luas yang – dalam istilah Carl Jung – disebut individuasi, yaitu proses untuk ‘menyelami’ dan memahami diri sendiri lebih jauh, sehingga dapat terhindar dari obsesi, keserakahan, dan bagian gelap lain yang mungkin muncul dari ‘ketidaksadaran’ (Dirkx, 1998). Selain pandangan-pandangan di atas, terdapat pula pandangan lain yang berusaha mengakomodasi semua dimensi transformasi tersebut, salah satunya adalah Knud Illeris (2014). Ia mengajukan pandangan bahwa target pembelajaran transformatif dapat tercakup dalam terma ‘identitas’. Identitas yang dimaksud yaitu kombinasi dari pengalaman personal yang khas dalam situasi apapun dan bagaimana seseorang ‘menampilkan’ dirinya terhadap lingkungannya. Jadi, identitas merujuk pada kompleksitas jati diri personal dan sosial seseorang.

Tidak ada komentar: