Jogiyanto (2008)
mendefinisikan volatility sebagai fluktuasi
pada periode tertentu dari suatu sekuritas
atau portofolio. Kemudian Brigham dan Houston (2006) menjelaskan bahwa volatility terbagi menjadi dua yakni volatility harga saham dan volatility
keuntungan. Volatility harga saham
merupakan risiko investasi sedangkan volatility
keuntungan tidak selalu diartikan sebagai risiko investasi. Harga saham yang
memiliki volatility rendah maka
pergerakan sahamnya pun sangat rendah, oleh karena itu biasanya investor dalam
jangka pendek tidak dapat memperoleh keuntungan dan jika investor ingin
mendapatkan keuntungan maka harus memegang sahamnya dalam jangka panjang.
Menurut Chan dan Fong (2000) investor yang berinvestasi untuk jangka panjang
biasanya menyukai volatility yang
rendah sedangkan investor yang berinvestasi jangka pendek biasanya menyukai
saham dengan volatility yang tinggi
dan volume perdagangan secara signifikan akan berpengaruh positif terhadap volatility harga.
Implikasi dasar dari noise
trader menurut Brown (1999) bahwa investor
irasional secara jelas bertindak pada saat sinyal noise yang menyebabkan
risiko sistematis. Apabila noise traders dapat
mempengaruhi harga maka singal noise merupakan
sentimen dan risiko dari noise traders yang
dapat memunculkan volailtity, oleh
karena itu sentimen seharusnya berkorelasi dengan volatility. Volatility
dapat dihitung dengan menggunakan standar deviasi dari return (Sayim et al, 2013).
Return pada hari ke-i dikurangi
rata-rata aritmatika return kemudian
dikuadratkan. Kemudian dijumlahkan dan dibagi banyaknya hari dikurangi satu dan
selanjutnya diakar pangkat dua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar