Shefrin (2000) mendefinisikan behavior finance adalah studi yang
mempelajari bagaimana fenomena psikologi mempengaruhi tingkah laku
keuangannya. Tingkah laku dari para para pemain saham tersebut dimana Shefrin
(2000) menyatakan tingkah laku para praktisi. Nofsinger (2001) mendefinisikan
perilaku keuangan yaitu mempelajari bagaimana manusia secara actual
berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan (a financial setting).
Statman (1995) menyatakan bahwa manusianya rational untuk keuangan
tradisional dan berpikir normal untuk behavior finance. Sementara Shefrin (2005)
menyatakan bahwa perbedaan behavior finance dan Keuangan Tradisional
ditunjukkan oleh persoalan untuk harga aset yaitu sentimen, dimana sentimen ini
merupakan faktor yang dominan dalam terjadinya harga di pasar untuk Perilaku
Konsumen.
Behavior finance juga mencoba menjelaskan dan meningkatkan pemahaman
tentang pola–pola dari alasan investor termasuk aspek emosional dan derajat dari
aspek tersebut dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Secara lebih
spesifik behavioral finance mencoba mencari jawaban atas what, why and how
keuangan dan investasi dari sudut pandang manusia.
Lintner (1998) mendefinisikan perilaku keuangan sebagai suatu studi
mengenai bagaimana manusia menginterpretasikan informasi dan melakukan
tindakan berdasarkan informasi tersebut untuk membuat keputusan investasi yang
tepat. Dari pemahaman tersebut dapat diduga bahwa sumber deviasi berasal dari
proses pengambilan keputusan investor yang menggunakan interpretasi investor
yang pada dasarnya akan melibatkan faktor psikologis dari investor (seperti;
emosi, sentimen, mood, keyakinan dan kondisi spikologis lainnya).
4
Selanjutnya, sesuai dengan studi behavior finance sebelumnya (misalnya
Baker/Wurgler, 2006, 2007), kita asumsikan bahwa ada dua jenis investor yaitu
pedagang rasional (arbitrase) dan pedagang sentimen, yang bisa baik optimis atau
pesimis tentang prospek pasar. Tidak seperti arbitrase yang membentuk
ekspektasi yang benar mengenai nilai masa depan dari aset, pedagang sentimen
membuat sistematis kesalahan dalam penilaian pada harga aset di bawah perkiraan
tergantung pada sentimen.
Dapat disimpulkan bahwa behavior finance merupakan ilmu yang
memperlajari bagaimana manusia mengambil tindakan pada proses pengambilan
keputusan dalam berinvestasi sebagai respons dari informasi yang diperolehnya.
Dari penelitian – penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa investor
tidak selalu berprilaku rasional dan tidak menyimpang serta mampu dimodelkan
secara quantitative.
Behavior finance mulai dikenal sebagai teori baru dengan alternatif
pandangan dalam pasar keuangan. Teori ini tidak berharap pasar keuangan
menjadi efisien dan sistematik dan ini memungkinkan bahwa penyimpangan yang
meyakinkan dapat berlanjut untuk periode jangka panjang. Penyimpangan dalam
keuangan disebut anomali, banyak anomali yang terjadi. Pada penelitian terdahulu
terjadinya anomali kalender yaitu anomali dalam return saham yang berhubungan
dengan kalender, yang dikenal sebagai fenomena yang ditemukan di pasar
keuangan terutama di pasar saham.
Anomali ini sangat menarik karena kehadiran mereka bertentangan dengan
pasar hipotesis efisien bentuk lemah, karena harga aset tidak acak, namun harga
aset tersebut dapat diperkirakan pada beberapa efek kalender. Menurut penelitian
Faisal dan Shabri (2016) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji kembali
adanya anomali kalender di pasar saham PT Indonesia selama periode 2001
sampai 2014. Studi ini secara empiris menggali eksistensi dari tiga terkenal
anomali kalender, yaitu efek MoY atau efek Januari, efek ToM, dan efek DoW.
Maka dalam pasar keuangan bisa terjadi anomali yang dapat menguntungkan
atau bahkan merugikan tetapi dalam teori Behavior finance bersandar pada dasar
dua argumen, yaitu arbitrase terbatas dan sentimen investor yaitu teori tentang
bagaimana investor membentuk keyakinan dan penilaian, Thaler (1999)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar