Sentimen investor adalah kecenderungan investor
untuk berspekulasi atau optimisme dan pesimisme investor terhadap saham (Baker
dan Wulger, 2006). Pengertian lain dalam Rosiana (2017) sentimen adalah suara
pasar (Black, 1986) dan harapan bias investor terhadap nilai suatu aset (Zweig,
1973). Secara umum sentimen merupakan pandangan umum investor yang berkaitan
dengan arah pasar saham. Sikap investor adalah akumulasi dari berbagai faktor
fundamental dan teknis secara umum mengenai perkembangan harga suatu aset. Sentimen
pasar terdiri dari kumpulan psikologi investor yang tercermin melalui aktivitas
dan harga instrument-instrumen keuangan di pasar modal. Kemudian sentimen pasar
disebut juga sentimen investor karena didalam sentimen pasar terdiri para
pelaku pasar salah satunya adalah investor. Secara empiris sentimen investor
sulit dipahami secara statistik, sehingga beberapa penelitian sebelumnya
menggunakan proksi yang berbeda-beda
Pendapat lain menyatakan
bahwa pengukuran sentimen investor dapat diklasifikasikan secara implisit dan
eksplisit (Beaumont et al. 2005). Implisit
merupakan pengukuran sentimen berdasarkan data keuangan objek penelitian secara
objektif dan eksplisit adalah pengukuran
sentimen berdasarkan survey untuk menemukan secara langsung keadaan kondisi
pasar. Beaumot juga menambahkan bahwa terdapat pengukuran lain yang dapat
digunakan yakni dengan mengkombinasikan pengukuran yang secara langsung dan
pengukuran tidak langsung seperti yang dilakukan oleh Baker dan Wurgler (2006)
serta Brown dan Cliff (2004). Berdasarkan penelitian mereka didapatkan hasil pengukuran
sentimen terbukti dapat digunakan untuk meneliti hubungan dan pengaruh sentimen
investor dan return saham.
Beaumont
et.al. (2005) menyatakan bahwa indikator
sentimen dapat menggunakan indikator tidak langsung dari sentimen yang ditentukan
dengan melihat variabel objektif yang secara implisit mengindikasikan sentimen
investor. Alasan penggunaan ukuran sentimen tidak langsung adalah kemudahannya
untuk dapat diperoleh pada frekuensi yang lebih tinggi (mis. setiap hari). Hasil
penelitian Beaumont et.al. (2008) bahwa sentimen memiliki dampak signifikan dan
asimetris pada volatilitas semakin meningkat ketika sentimen bearish. Dengan menggunakan terminologi
De Long et.al., dan Beaumont et.al. (2005) ditemukan bukti efek '' hold more '', yang menyatakan bahwa
ketika pedagang noise (kebisingan
atau gangguan) memegang lebih banyak aset, mereka juga melihat pengembalian
meningkat, dan efek '' membuat ruang '' yang menyatakan bahwa pedagang
kebisingan diberi imbalan atas risiko tambahan yang mereka hasilkan sendiri.
Rephael
et.al. (2010) menganalisis proksi
untuk pergeseran bulanan antara dana obligasi dan dana ekuitas di AS:
pertukaran bersih agregat dana ekuitas. Rephael et.al. (2010) menyatakan bahwa sentimen investor dapat diukur
menggunakan aliran dana Reksadana (mutual fund flow). Ukuran tersebut berhubungan negatif dengan perubahan VIX (Volatility Index) namun berkorelasi
positif dengan pengembalian pasar agregat secara agregat. Temuan utama Rephael et.al. (2010) adalah bahwa 85% dari
hubungan kontemporer berbalik arah dalam empat bulan. Efeknya lebih kuat pada
saham yang lebih kecil dan saham yang sedang berkembang. Temuan ini mendukung argumen
bahwa “gangguan” dalam harga pasar agregat disebabkan oleh sentimen investor.
Dengan kata lain aliran dana Reksadana (mutual fund flow) dapat digunakan sebagai indikator untuk
mengukur sentimen investor.
Baker dan Stein (2004) mengusulkan penjelasan lain
mengapa langkah-langkah likuiditas akan memiliki hubungan time-series negatif dengan expected
return. Dalam model mereka, ada satu kelas investor rasional dan satu kelas
investor over convident. Kedua kelas
investor memiliki bobot tersendiri terhadap penetapan harga dari sebuah
sekuritas, namun investor yang over convident
cenderung kurang memperhatikan informasi yang mereka terima. Selain itu
terdapat juga kendala penjualan pendek di pasar dan orang dalam yang berdagang
berdasarkan informasi pribadi mereka. Ketika sentimen investor meningkat,
investor yang overconvident bereaksi
lebih lambat terhadap informasi yang terkandung dalam perdagangan orang dalam
dan memberikan bobot lebih besar pada fungsi penetapan harga. Transaksi mereka
mendorong harga sekuritas untuk naik dan menurunkan dampak harga dari perdagangan
tersebut.
Menurut Lei (2005), tingginya
harga menyebabkan expected return menjadi
lebih rendah dan dampak harga yang rendah akan menarik volume perdagangan.
Karena ada kendala penjualan pendek di pasar, investor yang rasional tidak
dapat menangkal transaksi investor yang overconvident.
Hal yang ekstrem, ketika sentimen investor menjadi sangat tinggi, investor yang
overconvident mendominasi pasar.
Pasar dicirikan dengan likuiditas tinggi dan volume perdagangan yang tinggi.
Peningkatan volume perdagangan dengan demikian mencerminkan partisipasi
investor yang overconvident di pasar,
dan menunjukkan peningkatan sentimen investor. Karena sentimen tinggi mengarah
ke hasil yang lebih rendah, model ini memberikan penjelasan alternatif untuk
hubungan time-series negatif antara
tindakan likuiditas dan expected return.
Volume perdagangan merupakan salah satu proksi likuiditas yang banyak digunakan
dalam tes penentuan harga aset. Pertama, model yang ada menunjukkan bahwa
volume perdagangan dapat menjadi salah satu aspek dari likuiditas. Kedua,
volume perdagangan memiliki hubungan negatif dengan biaya transaksi, aspek lain
dari likuiditas.
Trading
volume activity (TVA) menerangkan aktivitas perdagangan saham dan menggambarkan
keaktifan saham yang diperdagangkan dan sebesarapa likuid saham dipasar modal.
Untuk menghitung TVA dapat dilakukan dengan membandingkan jumlah saham yang
diperdagangkan dengan jumlah saham yang beredar pada periode penelitian
(Wardhani 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar