Istilah
spiritualitas di tempat kerja adalah oxymoron: dua gagasan yang sekilas tampak
kontradiktif (Pierce, 2006). Tetapi dalam konteks lingkungan kerja,
spiritualitas dapat dilihat pada dua tingkatan menurut Giacalone dan Jurkiewicz
(2003), yaitu; "Pertama, level individu", level ini mengacu pada
serangkaian nilai yang mendorong pengalaman transenden individu melalui proses
kerja, dan memfasilitasi perasaan terhubung dengan orang lain sembari
memberikan perasaan lengkap dan bahagia. "Kedua, level organisasi",
pada level ini mengacu pada kerangka nilai-nilai budaya organisasi yang
mendorong pengalaman transenden karyawan melalui proses kerja, memfasilitasi
perasaan terhubung dengan orang lain sekaligus memberikan perasaan lengkap dan
bahagia.Untuk itu di tingkat organisasi, spiritualitas di tempat kerja sebagai
pengakuan bahwa karyawan memiliki kehidupan batin yang memberi makan dan
dipelihara oleh pekerjaan yang bermakna yang terjadi dalam konteks masyarakat
(Ashmos dan Duchon, 2000).
Garcia-Zamor
(2003) mendefinisikan spiritualitas di tempat kerja sebagai: "Pengakuan
bahwa orang-orang datang untuk bekerja menyerahkan tubuh dan pikiran mereka;
mereka membawa bakat individu dan jiwa yang unik". Sementara itu, Gull
& Doh (2004) mendefinisikan tempat kerja Spiritualitas sebagai; "kesadaran
untuk lebih banyak terlibat, lebih bertanggung jawab, lebih etis, lebih
kolaboratif, dan dengan demikian, lebih kreatif pada rekan kerja dan tempat
kerja mereka". Dalam konsep ini Spiritualitas tempat kerja terkait dengan
kegiatan yang melibatkan pengembangan pribadi, keaslian dan kemurnian,
pembelajaran, keterlibatan, mencari kebenaran, makna dan mengelola untuk
tujuan, kasih sayang, dan kegiatan masyarakat yang lebih tinggi.
Sedangkan
spiritualitas pada level individu, dapat diartikan sebagai cerminan dari
pengalaman yang bermakna karyawan berdasarkan pada melakukan pekerjaan,
hubungan karyawan dan solidaritas serta kesempurnaan di tempat kerja
(Salarzehi, Aramesh, dan Mohammadi, 2011). Masih di tingkat individu tempat
kerja Spiritualitas didefinisikan sebagai, salah satu iklim psikologis di mana
orang (karyawan) menganggap diri mereka memiliki kehidupan internal dengan
pekerjaan yang bermakna dan ditempatkan dalam konteks komunitas (Wulandari,
2014).
Spiritualitas
di tempat kerja adalah upaya untuk memahami hubungan transpersonal,
intrapersonal, dan interpersonal, dalam kehidupan kerja dan pengembangan
pribadi untuk mencapai keunggulan manusia (Abedi Jafari dan Rasegar 2007).
Dalam definisi lain oleh Khasawneh (2011), spiritualitas di tempat kerja
didefinisikan sebagai kerangka kerja nilai-nilai organisasi dalam budaya yang mendorong
kesempurnaan pengalaman karyawan melalui proses kerja dan pemberian fasilitas
terhadap rasa solidaritas dengan orang lain dan pekerjaan mereka sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar