Menurut
Shiffman dan Kanuk (2010) persepsi adalah interpretasi proses dimana konsumen
memahami lingkungan mereka sendiri. Persepsi akan membentuk persepsi kualitas
dari suatu produk yang dapat menentukan nilai dari produk tersebut dan
berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen serta loyalitas
mereka terhadap merek. Persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen, maka
dapat diramalkan jika persepsi kualitas pelanggan negatif, produk tidak akan
disukai dan tidak akan bertahan lama dipasar. Begitu pula jika persepsi
kualitas positif, maka konsumen akan memiliki minat untuk membeli dan menyukai
produk tersebut. Aaker (1997) menjelaskan persepsi konsumen terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa berkaitan dengan
yang diharapkan oleh konsumen. Selanjutnya Aaker menegaskan satu hal yaitu
bahwa persepsi kualitas merupakan persepsi para konsumen, oleh sebab itu
persepsi kualitas tidak dapat diterapkan secara obyektif. Selain itu persepsi
konsumen akan melibatkan apa yang
penting untuk konsumen karena setiap konsumen memiliki kepentingan yang
berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa (Aaker, 1997).
Dalam
pengertian lain disebutkan bahwa persepsi kualitas merupakan salah
satu dimensi yang lain dari nilai merek (merek
value). Dimana dengan adanya persepsi kualitas positif akan mendorong para pelanggan untuk menyeleksi
suatu barang atau jasa dalam melakukan pembelian. Kesan yang diciptakan
merupakan salah satu dari karakteristik dasar dari pemasaran modern yang berorientasi
pada pelanggan, sehingga adanya perhatian yang khusus untuk menciptakan suatu
merek yang kuat (strong merek)
(Aaker, 1991; Zeithaml, 1988).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar