Seorang
pemimpin dapat melakukan
berbagai cara dalam kegiatan
mempengaruhi atau memberi motivasi orang lain atau bawahan agar
melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah terhadap pencapaian tujuan
organisasi. Cara ini mencerminkan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang
yang dipimpinnya, dan merupakan gambaran gaya kepemimpinannya.
Menurut Mifta Thoha (2010: 49) gaya kepemimpinan
merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut
mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat. Gaya
kepemimpinan mewakili filsafat, ketrampilan, dan sikap pemimpin dalam
politik. Pendapat senada dikeluarkan
oleh Harsey dan Blanchard (2007)
bahwa gaya kepemimpinan sebagai “pola perilaku yang dilakukan seseorang pada
waktu berusaha mempengaruhi aktivitas orang lain, seperti yang dipersepsikan
orang lain yang dipengaruhinya”. Sedangkan pengertian gaya kepemimpinan menurut
Nawawi (2003) adalah perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin
dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota
organisasi atau bawahannya.
Gaya
kepemimpinan situasional secara khusus dihubungkan dengan kemampuan pemimpin
untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.Misalkan tuntutan iklim
organisasi, harapan, kemampuan atasan dan bawahan serta tingkat kematangan dan
kesiapan bawahannya. Dengan demikian melalui pelaksanaan gaya kepemimpinan
situasional diharapkan dapat mendorong semangat kerja karyawan dalam
melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut Hersey dan Blanchard (2007) teori situasional ini berfokus pada
karakteristik kematangan bawahan sebagai kunci pokok situasi yang menentukan
keefektifan perilaku seorang pemimpin. Situasi ini akhirnya menuntut pemimpin
untuk mengajak peran serta bawahan agar mau berpartisipasi secara aktif
sehingga secara perlahan-lahan motivasi mereka akan berkembang dengan optimal.
(Suyanto, 2009).
Oleh
karenanya tidak ada satu cara terbaik untuk mempengaruhi perilaku orang-orang.
Semua terbaik menurut kondisi yang ada. Dengan demikian gaya kepemimpinan
situasional menitikberatkan penyesuaian antara gaya kepemimpinan dengan kondisi
yang berbeda (Hersey dan Blanchard, 2007).
Dalam pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional tersebut maka seorang pemimpin
atau manajer harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat
perkembangan kematangan, kemampuan dan minat karyawan dalam menyelesaikan
tugas-tugasnya. Dalam hal ini, respon seorang manajer dalam perilaku
kepemimpinannya memberikan sejumlah pengarahan dan dukungan yang bersifat
sosioemosional.
Salah
satu faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan gaya kepimpinan adalah
tingkat kematangan karyawan. Tingkat kematangan karyawan (maturity), diartikan sebagai tingkat kemampuan karyawan untuk
bertanggung jawab dan mengarahkan perilakunya dalam bentuk kemauan. Konsep ini disebut dengan kematangan psikologis. Di samping itu terdapat pula pengaruh
dari kematangan pekerjaan yaitu kemampuan untuk melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan
ketrampilan. Karyawan yang memiliki kematangan pekerjaan tinggi dalam bidang
tertentu memiliki pengetahuan, kemampuan dan pengalaman untuk melaksanakan
tugas-tugas tertentu tanpa arahan dari orang lain. Melalui dua bentuk
kematangan yaitu kematangan psikologi dan kematangan pekerjaan maka terdapat
empat jenis karyawan, yaitu: (1) karyawaan yang tidak mampu dan tidak mau, (2)
karyawaan yang tidak mampu, tetapi mau, (3) karyawaan yang mampu, tetapi tidak
mau, (4) karyawan yang mampu dan mau Hersey and Blancard (2007).
Kematangan
pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan dan
ketrampilan. Orang-orang yang memiliki kematangan pekerjaan yang tinggi dalam
bidang tertentu memiliki pengetahuan, kemampuan dan pengalaman untuk
melaksanakan tugas-tugas tertentu tanpa arahan dari orang lain. Kematangan
piskologis dikaitkan dengan kemauan atau motivasi untuk melakukan sesuatu. Hal ini erat kaitannya dngan rasa yakin
dan keikatan. Orang-orang yang sangat matang karena psikolos akan memiliki
tanggung jawab sehingga memiliki keyakinan maupun melakukan dan menanggung pekerjaan
tersebut (Hersey and Blancard 2007).
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
gaya kepemimpinan situasional adalah pola perilaku yang diperlihatkan seorang
pemimpin pada saat memimpin pada saat mempengaruhi aktivitas orang lain baik
sebagai individu maupun kelompok. Dimana pelaksanaannya
membutuhkan kemampuan pemimpin untuk mensesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Dengan demikian pemimpin atau manajer
harus menyesuaikan responnya menurut kondisi atau tingkat perkembangan kematangan,
kemampuan dan minat karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar