Brand switching behavior adalah perilaku perpindahan merek yang dilakukan
konsumen atau diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk be rpindah ke
merek lain (Keaveney, 1995). Dimana menurut Mazursky et al., (1998) penilaian
konsumen terhadap merek dapat timbul dari berbagai variabel, seperti pengalaman
konsumen dengan produk sebelunya dan pengetahuan tentang produk. Pengalaman
konsumen dalam memakai produk memunculkan komitmen terhadap merek
tersebut. Pengalaman yang menimbulkan penilaian yang tidak menyenangkan bagi
seorang konsumen akan menyebabkan mereka melakukan perpindahan merek.
Menurut Givon (2001), brand switching adalah perpindahan merek yang
digunakan oleh pelanggan untuk setiap waktu penggunaan, dimana tingkat brand
switching juga menunjukkan sejauh mana mereka memiliki pelanggan yang loyal.
Mazursky et al., (1998) memiliki pendapat bahwa perpindahan merek terjadi ketika
seorang konsumen atau sekelompok konsumen beralih kesetiaan dari satu merek
produk tertentu ke merek lain dan hal tersebut bias saja terjadi sementara waktu
saja. Semakin tinggi tingkat brand switchingnya, semakin tidak loyal konsumen dari
merek tersebut. Dan ketika hal tersebut terjadi dalam waktu lama dan dilakukan
oleh kelompok konsumen dari suatu merek maka merek tersebut memiliki resiko
yang tinggi karena dengan mudah dan cepat kehilangan konsumennya. Loyalitas
merek konsumen disebabkan oleh adanya pengaruh kepuasan atau ketidakpuasan
dengan merek tersebut yang terakumulasi secara terus menerus disamping adanya
persepsi tentang kualitas produk (Dodson et al., 1986).
Kepuasan terjadi ketika
harapan konsumen terpenuhi atau melebihi harapannya dan keputusan pembelian
dipertahankan. Kepuasan dapat memperkuat sikap positif terhadap merek, sehingga
konsumen lebih besar kemungkinannya untuk kembali membeli merek yang sama.
Ketidakpuasan terjadi ketika harapan konsumen tidak terpenuhi, sehingga
konsumen akan bersikap negative terhadap suatu merek dan kecil kemungkinannya
konsumen akan membeli lagi merek yang sama ( Mazursky et al, 1998 ). Sedangkan
pengambilan keputusan berpindah merek yang dilakukan konsumen terjadi karena
adanya ketidakpuasan yang diterima konsumen setelah melakukan pembelian.
Ketidakpuasan muncul karena pengharapan konsumen tidak sama atau lebih tinggi
dari kinerja yang diterimanya dari pemasar (Chintagunta, 1999). Konsumen yang
merasa tidak puas dengan produk yang mereka pakai cenderung untuk berganti
merek, hal ini dilakukan untuk memenuhi kepuasan mereka.
Menurut Roos seperti yang dikutip oleh Marco van der Heijden dan Snijder
(2007) ada dua kategori perpindahan merek. Kategori pertama, perpindahan
konsumen didasarkan pada keputusan pribadi, yang kedua perilaku brand switching
dilakukan secara tidak segaja tanpa dipengaruhi pertimbangan pribadi. Pada
kategori pertama, penyebab dari perilaku berpindah merek dapat berupa
ketidakpuasan, kebiasaan yang berubah, alternatif lain yang lebih baik atau
kebutuhan akan variasi. Sedangkan menurut Junaidi dan Dharmmesta (2002),
perpindahan merek merupakan gambaran dari beralihnya pengkonsumsian
konsumen atas suatu produk ke produk lainnya. Hal ini dikarenakan seseorang
selalu melakukan perbandingan antara merek satu dengan merek yang lain pada saat
ia mengevaluasi merek tertentu atau pada saat ia membentuk sikapnya terhadap
merek (Laroche, Flou, dan Zhou, 1994).
a. Potential Switcher
Kelompok ini terdiri dari seluruh pelanggan yang loyal terhadap suatu produk
namun ada potensi untuk dipengaruhi oleh berbagai macam faktor untuk
berpindah merek.
b. Repeat Buyer
Kelompok pembeli yang membuat pilihan produk yang sama pada waktu yang
lalu, waktu sekarang dan untuk masa yang akan datang.
c. Brand Switcher
Kelompok ini terdiri dari sebagian pembeli yang akan berpindah merek
setidaknya satu kali ketika membuat pilihan merek untuk pembelian sekarang
atau di masa yang akan datang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar