Ketidakpuasan konsumen digambarkan sebagai lawan dari kepuasan (Mittal
dkk dalam Heijden dan Snijder, 2007) keduanya dilihat sebagai dua dimensi yang
berbeda (Mano dan Oliver dalam Heijden dan Snijder, 2007). Sumber literatur tidak
menyediakan kerangka kerja konseptual untuk ketidakpuasan konsumen namun
ketidakpuasan dapat diukur dengan dimensi yang sama seperti kepuasan, yaitu
waktu, fokus, dan respons afektif. Ketidakpuasan secara nyata memiliki pengaruh
negative terhadap loyalitas konsumen. Ini secara tidak langsung menunjukkan
adanya pengaruh positif dari ketidakpuasan terhadap switching behavior. Solomon
(1992) menyatakan bahwa konsumen memiliki tiga tindakan yang berbeda dalam
menghadapi ketidakpuasan (mungkin saja terjadi lebih dari satu tindakan).
1. Voice response. Konsumen dapat menyerukan secara langsung ketidakpuasan
mereka kepada penjual untuk mendapatkan perbaikan atau penggantian.
2. Private response. Konsumen dapat menceritakan ketidakpuasan terhadap toko
atau produk kepada teman dan/atau memboikot toko tersebut. Negative word of
mouth (WOM) dapat merusak reputasi perusahaan.
3. Third-party response. Konsumen dapat mengambil tindakan hukum untuk
menentang pedagang, mendaftarkan keluhan pada lembaga konsumen atau
menulis surat pembaca di surat kabar.Ketidakpuasan konsumen dapat timbul karena adanya proses informasi
dalam evaluasi terhadap suatu merek. Konsumen akan menggunakan informasi
masa lalu dan masa sekarang untuk melihat manfaat yang mereka harapkan.
Kepuasan konsumen adalah fungsi seberapa dekat harapan konsumen atas produk
dengan kinerja yang dirasakan dari produk tersebut. Jika kinerja produk lebih buruk
dari harapan konsumen, maka konsumen akan mengalami ketidakpuasan. Menurut
Kotler (1997), jika produsen melebih-lebihkan manfaat suatu produk maka harapan
konsumen tidak akan tercapai sehingga akan mengakibatkan ketidakpuasan. Hasil
dari evaluasi merek yang dilakukan konsumen adalah niat atau keinginan membeli
atau tidak membeli melalui proses yang kompleks (Assael, 1995). Pada dasarnya
kepuasan konsumen mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil
yang diharapkan. Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi :
a. Positive disconfirmation dimana hasil yang diterima lebih baik dari hasil yang
diharapkan.
b. Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil yang
diharapkan.
c. Negative disconfirmation dimana hasil yang diterima lebih buruk dari hasil yang
diharapkan
Berdasarkan penelitian Shellyana dan Dharmmesta (2002) yang menemukan
adanya pengaruh yang positif antara ketidakpuasan pasca konsumsi dan kep utusan
perpindahan merek yakni apabila terjadi ketidakpuasan pasca konsumsi maka akan
terjadi keputusan perpindahan merek pada konsumen. Hal yang sama dapat terjadi
pada telepon seluler, bila produsen membuat telepon seluler yang kinerjanya tidak
sesuai dengan harapan konsumennya, maka keputusan untuk berpindah merek akan
semakin besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar