Ada beberapa cara yang dapat menuntun kepuasan pada loyalitas.
Misalnya konsumen yang puas sering membeli lebih banyak dari perusahaan, baik
dari segi kuantitas maupun harga (Bolton, 1998; Bolton, Kannan dkk., 2000;
Verhoef, Franses dkk., 2001, dikutip oleh Geffen 2009). Hal ini memberikan
pengaruh positif terhadap laba dan biaya transaksi. Pengaruh dalam jangka panjang
adalah kepuasan konsumen mendorong loyalitas pada perusahaan sehingga, seperti
yang dikemukakan oleh Reichheld dan Sasser (1996) serta Reichheld and Teal
(1996) (dikutip oleh Geffen 2009), peluang konsumen membeli produk lain yang
dikeluarkan perusahaan itu semakin tinggi. Hal ini berarti perusahaan dengan basis
konsumen dengan loyalitas tinggi akan lebih mudah meluncurkan produk baru,
memasuki pasar baru, dan meningkatkan keuntungan mereka. Selain itu dengan
semakin tingginya kepuasan konsumen maka perusahaan akan memperoleh manfaat
lain, yaitu word-of-mouth advertising serta rekomendasi. Menurut Geffen (2009),
konsumen yang loyal merupakan asset penting bagi perusahaan. Diasumsikan
secara umum bahwa mempertahankan konsumen hanya membutuhkan biaya 25%
dari menarik konsumen baru. Ada beberapa alasan mengapa perusahaan lebih
memilih untuk mempertahankan konsumen yang loyal. Zeithaml (dalam Geffen
2009) membagi alas an-alasan ini dalam tiga kelompok: economic benefits,
customer behavior benefits, and human resource management benefits. Economic enefits dapat dibagi lagi menjadi beberapa sub bagian dimana yang paling
berpengaruh adalah mengurangi start-up costs. Ini merupakan biaya yang
dikeluarkan perusahaan untuk menarik konsumen baru, dalam hal ini termasuk
iklan, promosi dan opportunity cost lainnya. Jika konsumen loyal terhadap
perusahaan, start-up costs ini dapat dipertahankan dalam jangka waktu lama.
Maksudnya, biaya yang dikeluarkan perusahaan secara rata-rata akan semakin kecil
dari waktu ke waktu. Manfaat ekonomis yang kedua adalah pelanggan
kemungkinan besar akan membeli lebih banyak produk dari perusahaan. Pelanggan
setia pada umumnya memiliki kepercayaan yang tinggi pada perusahaan yang
membuat mereka enggan untuk mencoba produk yang ditawarkan perusahaan lain.
“The creation of trust leads to the creation of commitment and that is the condition
necessary for customers to extend the time perspective of a relationship” (Zeithaml,
Gremler et al. 2007 p.181, Geffen 2009). Penciptaan kepercayaan mendorong
munculnya komitmen yang merupakan kondisi yang bermakna bagi pelanggan
untuk memperluas waktu hubungan dengan perusahaan. Manfaat terpenting dari
kepuasan konsumen adalah terciptanya positive wordof- mouth communication dari
pelanggan yang ada. Ini merupakan iklan gratis bagi perusahaan. Pada akhirnya,
human resource benefits juga memiliki pengaruh positif bagi perusahaan.
Pelanggan yang loyal dapat berkontribusi pada perusahaan dengan bertukar pikiran
dengan para karyawan. Contoh lainnya adalah lebih mudah bagi perusahaan untuk
mempertahankan karyawannya karena para karyawan pada umumnya membentuk
suatu hubungan dengan pelanggan yang setia. Seperti yang telah dikemukakan
sebelumnya, positive word-of-mouth communication bermanfaat bagi perusahaan.
Dari sudut pandang perusahaan, word-of-mouth communication merupakan bentuk
promosi terbaik dan termurah. Seperti yang dikemukakan Assael dalam Geffen
(2009), “Word-of-mouth is the most influential type of communication because it
comes from family, friends, and neighbors – all highly credible sources of
information”. Word of mouth merupakan tipe komunikasi yang paling berpengaruh
karena berasal dari keluarga, teman dan tetangga dimana semuanya merupakan
sumber informasi yang dapat dipercaya. Ini menunjukkan bahwa konsumen
memandang opini dari sepuluh orang pelanggan lainnya sebagai informasi yang
paling dapat diandalkan.
Menurut Hennig-Thurau (dikutip oleh Geffen 2009), ada
dua factor yang mendorong positive word-of-mouth communication yaitu kepuasan
dan komitmen. Hubungan di antara kedua factor tersebut terhadap word-of-mouth
communication sangatlah jelas. Konsumen yang puas cenderung menceritakan
pengalaman mereka pada konsumen lain. Hal ini juga berlaku pada orang-orang
yang berkomitmen terhadap perusahaan. Namun orang-orang ini tidak selalu
berkomitmen secara sukarela, sementara kepuasan berujung pada word-of-mouth
communication secara sukarela yang dilakukan konsumen. Seperti yang telah
dikemukakan di atas, word-of-mouth communication merupakan cara beriklan
terbaik karena biayanya rendah serta keandalannya yang tinggi. Oleh karena itu
berdasarkan pendapat-pendapat di atas dan dari literature akademis, Geffen (2009)
menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang kuat dan langsung antara customer satisfaction dan loyalty. Semakin tinggi tingkat loyalitas konsumen maka
semakin tinggi pula profitabilitas perusahaan yang berasal dari meningkatnya nilai
saham dan asset perusahaan (Rust and Oliver, 1994; Reichheld and Teal, 1996
dalam Geffen, 2009). Oleh karena itu dari tahun ke tahun, customer satisfaction
menjadi fokus penting bagi banyak perusahaan. Namun Engel dkk menunjukkan
pola yang berbeda dari kepuasan konsumen, perilaku pembelian dan loyalitas
konsumen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar