Perilaku konsumen diartikan sebagai perilaku seorang konsumen, kelompok
konsumen atau masyarakat luas yang selalu berubah dan bergerak sepanjang waktu.
Definisi mengenai perilaku konsumen banyak diutarakan oleh para ahli, seperti Kotler
(2003) menjelaskan perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu,
kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang,
jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.
Sedangkan Menurut Peter dan Olson (1999), perilaku konsumen adalah interaksi
dinamis antara pengaruh dan kognisi, perilaku, dan kejadian di sekitar kita, di mana
manusia melakukan aspek pertukaran dalam hidup mereka. Sedangkan menurut
Engel, dkk (1992), perilaku konsumen adalah tindakan yang terlibat dalam
mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa termasuk proses
keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini. Kedua definisi ini
memberikan gambaran bahwa perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis
antara pikiran, pengaruh, perilaku, dan kejadian di sekitar manusia, termasuk juga
proses yang kompleks yang mendasari terjadinya perilaku tersebut.
Perilaku konsumen mencakup proses pengambilan keputusan dan kegiatan yang dilakukan
konsumen secara fisik dalam pengevaluasian, perolehan penggunaan atau mendapatkan barang dan
jasa. Jadi di dalam menganalisis perilaku konsumen tidak hanya menyangkut faktor-faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan kegiatan saat pembelian, akan tetapi juga meliputi proses
pengambilan keputusan yang menyertai pembelian.
Menurut Assael dalam Simamora (2001) bahwa ada empat tipe perilaku pembelian
konsumen berdasarkan pada tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan di antara merek
sebagai berikut
1. Perilaku membeli yang rumit (complex buying behavior)
Perilaku membeli yang rumit membutuhkan keterlibatan tinggi dalam pembelian.
Perilaku ini menyingkapkan adanya perbedaan-perbedaan yang jelas di antara merek-merek
yang ada. Perilaku membeli ini terjadi pada waktu membeli produk-produk yang mahal, tidak
sering dibeli, berisiko dan dapat mencerminkan diri pembelinya, seperti mobil, televisi, pakaian,
komputer dan lain-lain. Biasanya konsumen tidak tahu terlalu banyak tentang kategori produk
dan harus belajar untuk mengetahuinya, sehingga pemasar harus menyusun strategi untuk
memberikan informasi kepada konsumen tentang atribur, kepentingannya, tentang merek
perusahaan, dan atribut penting lainnya.
2. Perilaku membeli mengurangi ketidakcocokan (dissonance reducing buying behavior)
Perilaku membeli mempunyai keterlibatan yang tinggi dan konsumen menyadari hanya
sedikit perbedaan antara berbagai merek. Perilaku membeli ini terjadi untuk pembelian produk
yang mahal, tidak sering dilakukan, berisiko, dan membeli secara relatif cepat karena perbedaan
merek tidak terlihat. Contoh, karpet, keramik, dan lain-lain
.
3. Perilaku membeli berdasarkan kebiasaan (habitual buying behaviour)
Konsumen membeli suatu produk berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kesetiaan
terhadap merek. Konsumen memilih produk secara berulang bukan karena merek produk, tetapi
karena konsumen sudah mengenal produk tersebut. Setelah membeli produk tersebut konsumen
tidak mengevaluasi kembali mengapa mereka membeli produk tersebut. Perilaku ini biasanya
terjadi pada produk-produk seperti gula, garam, air mineral dalam kemasan, deterjen, dan lainlain.
4. Perilaku membeli yang mencari keragaman (variety seeking buying behaviour)
Perilaku ini memiliki keterlibatan yang rendah, namun masih terdapat perbedaan merek
yang jelas. Konsumen berperilaku dengan tujuan mencari keragaman dan bukan kepuasan. Jadi
merek dalam perilaku ini bukan merupakan suatu yang mutlak. Sebagai market leader, pemasar
dapat melakukan strategi seperti menjaga agar jangan sampai kehabisan stok atau dengan
promosi-promosi yang dapat mengingatkan konsumen akan produknya. Perilaku pembeli yang
mencari keragaman biasanya terjadi pada produk-produk yang sering dibeli, harganya murah
dan konsumen sering mencoba merek-merek baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar