Pendekatan PLS dikembangkan pertama kali oleh seorang ahli ekonomi
dan statistika bernama Herman Ole Andreas Wold. Pada tahun 1974, Wold
memperkenalkan PLS secara umum dengan menggunakan algorithm NIPALS
(nonlinear iterative partial least squares) yang berfokus untuk maximize variabel
eksogen (X) untuk menjelaskan variance variabel endogen (Y) dan menjadi
metoda alternatif untuk OLS regresi. Menurut Wold dibandingkan dengan
16
pendekatan lain dan khususnya metoda estimasi Maximum Likelihood, NIPALS
lebih umum oleh karena bekerja dengan sejumlah kecil asumsi zero
intercorrelation antara residual dan variabel. Hal ini sejalan dengan yang
dinyatakan Fornell dan Bookstein (1982) bahwa PLS menghindarkan dua masalah
serius yang ditimbulkan oleh SEM berbasis covariance yaitu improper
solutions dan factor indeterminacy.
Partial Least Squares merupakan metoda analisis yang powerfull dan
sering disebut juga sebagai soft modeling karena meniadakan asumsi-asumsi OLS
(Ordinary Least Squares) regresi, seperti data harus berdistribusi normal secara
multivariate dan tidak adanya problem multikolonieritas antar variabel eksogen
(Wold, 1985). Pada dasarnya Wold mengembangkan PLS untuk menguji teori
yang lemah dan data yang lemah seperti jumlah sampel yang kecil atau adanya
masalah normalitas data (Wold, 1985). Walaupun PLS digunakan untuk
menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten (prediction), PLS dapat
juga digunakan untuk mengkonfirmasi teori (Chin, 1998). Sebagai teknik prediksi,
PLS mengasumsikan bahwa semua ukuran varian adalah varian yang berguna
untuk dijelaskan sehingga pendekatan estimasi variabel laten dianggap sebagai
kombinasi linear dari indikator dan menghindarkan masalah factor
indeterminacy.
PLS menggunakan iterasi algorithm yang terdiri dari seri OLS (Ordinary
Least Squares) maka persoalan identifikasi model tidak menjadi masalah untuk
model recursive (model yang mempunyai satu arah kausalitas) dan
menghindarkan masalah untuk model yang bersifat non-recursive (model yang
bersifat timbal-balik atau reciprocal antar variabel) yang dapat diselesaikan oleh
SEM berbasis covariance. Sebagai alternatif analisis covariance based SEM,
pendekatan variance based dengan PLS mengubah orientasi analisis dari menguji
model kausalitas (model yang dikembangkan berdasarkan teori) ke model prediksi
komponen (Chin, 1998). CB-SEM lebih berfokus pada building models yang
dimaksudkan untuk menjelaskan covariances dari semua indikator konstruk,
sedangkan tujuan dari PLS adalah prediksi. Oleh karena PLS lebih
menitikberatkan pada data dan dengan prosedur estimasi yang terbatas,
persoalan misspecification model tidak terlalu berpengaruh terhadap estimasi
parameter. Algoritma dalam PLS adalah untuk mendapatkan the best weight
17
estimate untuk setiap blok indikator dari setiap variabel laten. Setiap variabel laten
menghasilkan komponen skor yang didasarkan pada estimated indicator weight
yang memaksimumkan variance explained untuk variabel dependen (laten,
observed atau keduanya) (Yamin dan Kurniawan, 2011).
Kelebihan dalam PLS antara lain (1) algoritma PLS tidak terbatas hanya
untuk hubungan antara indikator dengan variabel latennya yang bersifat refleksif
namun juga bisa dipakai untuk hubungan formatif, (2) PLS dapat digunakan untuk
ukuran sampel yang relatif kecil, (3) dapat digunakan untuk model yang sangat
kompleks, (4) dapat digunakan ketika distribusi skew (Yamin dan Kurniawan,
2011). PLS dapat menganalisis sekaligus konstruk yang dibentuk dengan
indikator refleksif dan indikator formatif, hal ini tidak mungkin dijalankan dalam
CB-SEM karena akan terjadi unidentified model. Oleh karena algorithm dalam
PLS menggunakan analisis series ordinary least square, maka identifikasi model
bukan masalah dalam model rekursif dan juga tidak mengasumsikan bentuk
distribusi tertentu dari pengukuran variabel. Lebih jauh algorithm dalam PLS
mampu mengestimasi model yang besar dan komplek dengan ratusan variabel
laten dan ribuan indikator. Namun, metode PLS juga memiliki kekurangan yakni
distribusi data tidak diketahui sehingga tidak bisa menilai signifikansi statistik.
Kelemahan pada metode partial least square ini bisa diatasi dengan menggunakan
metode resampling atau bootstrap (Ghozali, 2011).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar