Menurut DeSarbo dan Edwards (1996) faktor-faktor yang
mempengaruhi compulsive buying adalah :
1) Predispositional factors, yaitu konstruk-konstruk yang mempengaruhi
individu untuk melakukan pembelian kompulsif dan mengindikasikan
kecenderungan secara umum yang mengarah pada pembelian kompulsif.
Predispositional factors meliputi:
a. Self esteem
Self esteem didefinisikan sebagai evaluasi diri individu
(persetujuan atau ketidaksetujuan) dan sejauh mana orang itu percaya
dirinya berharga (Coopersmith, 1990). Individu yang memiliki self
esteem yang rendah akan memiliki kecenderungan untuk melakukan
pembelian kompulsif. Pembeli yang kompulsif mencari self esteem,
kepercayaan diri, dan kekuatan pribadi melalui aktivitas belanja. Self
esteem yang rendah tidak hanya menjadi penyebab individu melakukan
pembelian tetapi juga sebagai konsekuensi dari siklus kecanduan
tersebut. Pada akhirnya individu mengalami ketakutan dan rasa bersalah
karena ketidakmampuan untuk mengontrol perilaku pembeliannya.
Karena itu, semakin ekstrem perilaku pembelian atau berbelanja yang
dilakukan oleh individu maka semakin rendah self esteem individu
tersebut.
b. Kecemasan
Pembeli kompulsif cenderung lebih cenderung memiliki
tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pembeli non
kompulsif. Individu dengan perasaan negatifnya yaitu kecemasan akan
mencari jalan keluar bagaimana mereka bisa lolos dari perasaan
tersebut. Individu menggunakan aktivitas berbelanja sebagai pereda
rasa cemas yang sedang dirasakan karena sudah diyakini bahwa
aktivitas berbelanja merupakan kegiatan yang menyenangkan
(Christensen dalam Workman & Paper, 2010). Pembeli kompulsif menggunakan kecemasan sebagai motivasi
utama untuk melakukan pembelian kompulsif agar keluar dari perasaan
yang tidak menyenangkan tersebut. Aktivitas berbelanja yang individu
lakukan hanya membawa perasaan bahagia dan menyenangkan
sementara, sehingga pada saat individu merasakan perasaan negatif lagi
maka mereka akan melakukan kegiatan berbelanja terus-menerus
hingga tidak disadari bahwa mereka compulsive buying.
c. Perfeksionisme
Perfeksionisme dicirikan dengan individu yang memiliki
harapan yang terlalu berlebihan untuk mencapai suatu pencapaian yang
lebih besar. Individu yang perfeksionis melakukan pembelian
kompulsif untuk mendapatkan otonomi, kompetensi, dan self esteem
walaupun hanya untuk sementara. Individu akan terus melakukan
pembelian untuk mencapai dan memenuhi ekspektasi yang ada dalam
dirinya.
d. Fantasi
Pembeli kompulsif cenderung memiliki khayalan mengenai
grandiosity dan kebebasan akibat dari suatu perilaku yang dilakukan.
Letak fantasi tersebut berada pada saat ketika individu melakukan
aktivitas berbelanja maka seakan-akan masalah yang dihadapi
menghilang. Maka dari itu individu memiliki peluang besar untuk
melakukan aktivitas berbelanja lagi dalam rangka mengatasi masalah
yang sedang dihadapi.
18
e. Impulsivitas
Pembelian kompulsif dideskripsikan dalam penelitian kejiwaan
dan konsumen sebagai sebuah impulse-control disorder. Perilaku
pembelian kompulsif dapat dikatakan sebagai sebuah perilaku yang
tidak dapat dikendalikan karena dorongan yang terlalu kuat untuk
berperilaku.
Individu yang kompulsif juga impulsif karena impulsif
merupakan bagian dari kompulsif. Impulsivitas berpengaruh terhadap
compulsive buying karena di picu oleh rangsangan eksternal, dengan
kata lain impulsive buying dapat diasosiasikan sebagai compulsive
buying namun pada level rendah.
f. Kompulsivitas umum
Karakteristik kepribadian yang spesifik seperti prokrastinasi
dan keragu-raguan, dikaitkan dengan individu yang menunjukkan
perilaku kompulsif (Kernberg dalam DeSarbo & Edwards, 1993).
Karakteristik-karakteristik ini merepresentasikan tingkat kompulsif
umum yaitu suatu sifat yang ada pada individu yang memperlihatkan
segala jenis perilaku kompulsif. Jadi pembeli kompulsif menjadi
kompulsif tidak hanya tentang belanja tetapi juga dalam arti umum.
Mengingat kecenderungan individu yang kompulsif adalah mencari
aktivitas untuk meredakan ketegangan, kompulsivitas umum juga dapat
menjadi indikator perilaku nyata seperti gangguan makan, alkoholisme,
kecanduan narkoba, dan sebagainya.
g. Dependence
Individu yang kompulsif diharapkan menunjukkan kepribadian
yang tergantung. Mereka cenderung bergantung pada orang lain untuk
menentukan perilaku mereka sendiri, didorong untuk untuk terlihat
berharga di mata orang lain, atau khawatir tentang apa yang orang lain
pikirkan tentang mereka dalam menentukan perilaku mereka sendiri
(O'Guinn & Faber, 1989). Pada faktor ini individu yang kompulsif
diartikan kompulsif dalam hal ketergantungan, mereka akan selalu
bergantung untuk menentukan perilaku mereka sendiri di hadapan
orang lain.
h. Approval seeking
Pembeli kompulsif memiliki kebutuhan untuk mendapatkan
pujian dari individu lain dalam rangka membuat diri sendiri menjadi
bahagia. Jadi kebutuhan untuk menerima pujian dari individu lain
walaupun hanya untuk sementara waktu, hal tersebut dapat memicu
terjadinya pembelian kompulsif. Individu melakukan kegiatan
berbelanja guna mendapatkan pujian dari orang lain (O’Guinn & Faber
dalam DeSarbo & Edwards, 1996). Kegiatan berbelanja akan terus
berulang ketika individu merasa berhasil dan meyakini bahwa dengan
kegiatan berbelanja yang mereka lakukan bisa mendatangkan perasaan
bahagia dengan mendapatkan pujian dari orang lain karena perilaku
berbelanja yang mereka lakukan.
i. Locus of control
Pembeli yang kompulsif memiliki kebutuhan besar untuk
mendapatkan kendali dalam kehidupan mereka untuk menghadapi rasa
tidak aman, ketakutan, dan kecemasan. Pembeli kompulsif terjebak
dalam siklus dimana kecanduan berbelanja yang mereka lakukan
memberikan pelarian sementara. Pembeli kompulsif juga dipengaruhi
oleh lingkungan, menganggap hadiah dan bergantung pada kekuatan
luar daripada pada perilaku mereka sendiri. Hirschmam (1992)
mengidentifikasi konsumen kompulsif yang tertekan sebagai individu
yang kecanduan yang merasa tidak mampu mengelola emosi mereka
melalui sarana internal lalu beralih ke substansi atau perilaku eksternal
untuk membuat mereka merasa lebih mengendalikan diri mereka
sendiri. Pada akhirnya pembeli kompulsif dapat menganggap diri
mereka dikendalikan secara eksternal, dan mereka mencari rasa kontrol
melalui aktivitas pengeluaran yaitu dengan cara berbelanja.
2) Circumstansial factors, yaitu faktor yang dihasilkan dari kondisi individu
pada saat ini dan juga dapat memicu munculnya perilaku-perilaku
pembelian kompulsif selanjutnya. Circumstansial factors meliputi:
a. Avoidance coping
Coping berfokus pada kognitif dan usaha dalam keseharian
dalam rangka untuk mengelola konflik eksternal dan internal yang
membebani individu (Cohen, 1987). Hal tersebut berkaitan dengan
bagaimana individu menghadapi situasi yang terlalu stres atau kegelisahan yang berlebihan. Avoidance coping adalah kecenderungan
untuk menggunakan metode coping dengan cara menghindar, mungkin
berhubungan dengan apakah seseorang memiliki kecenderungan untuk
berperilaku pembelian kompulsif atau adiksi berbelanja. Pengeluaran
ekstrem yang dilakukan mungkin memiliki kecenderungan terhadap
penghindaran yang berulang kali yang dinyatakan sebagai pembelian
kompulsif, sehingga dengan kata lain pembelian kompulsif adalah
mekanisme dari avoidance coping.
b. Denial
Merupakan penyangkalan yang dilakukan terhadap
permasalahan yang dihadapi. Pembeli kompulsif memiliki
kecenderungan untuk menyangkal keberadaan dari permasalahan yang
dihadapinya. Bagi pembeli kompulsif, denial adalah cara untuk
menghidari rasa cemas, marah, takut, dan emosi lainnya yang biasanya
tidak ada hubungan dengan kegiatan berbelanja.
c. Isolation
Terdapat dugaan bahwa pembelian kompulsif merupakan
sebuah gambaran dari perilaku seorang individu yang terisolasi dari
lingkungan sosialnya. Isolasi tersebut mendorong beberapa individu
untuk memiliki perilaku berlebihan, dan perilaku berlebihan yang tidak
diterima secara sosial menyebabkan beberapa individu untuk
mengisolasi dirinya sendiri. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan
individu lain mendorong pembeli kompulsif untuk berbelanja di suatu toko, karena pembeli mendapatkan perhatian dari tenaga penjual toko
dan merasakan hubungan tersebut.
d. Materialisme
Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan
bahwa pembeli kompulsif cenderung lebih materialistik dibandingkan
dengan pembeli nonkompulsif. Tetapi kepemilikan bukanlah fokus
utama dari pembeli kompulsif. Pembeli kompulsif lebih terfokus pada
proses berbelanja yang sedang berlangsung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar