Sabtu, 22 Februari 2020

Uji Klinis (skripsi dan tesis)

 Uji klinis merupakan bentuk penelitian eksperimental untuk meneliti efek dari intervensi tertentu, biasanya berupa terapi untuk satu penyakit. Subjek penelitian dalam populasi penelitian secara acak dialokasikan menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian diperoleh dengan membandingkan status penyakit subjek penelitian. Desain penelitian terkuat adalah uji klinis acak terkontrol (randomized controlled trial). Keunggulan utama dari uji klinis adalah kontrol atas confounding factor, berbagai jenis bias dapat ditiadakan atau dikurangi dengan efektif. Uji klinis merupakan desain penelitian terbaik untuk meneliti hubungan kausalitas. Kekurangan uji klinis yaitu memerlukan banyak partisipan, biaya yang mahal dan pelaksanaan yang rumit. Uji klinis tidak tepat digunakan untuk meneliti penyakit yang jarang terjadi. Uji klinis memiliki resiko intervensi pada manusia.
Tahapan uji klinis dalam pengembangan obat terdiri dari empat fase. Fase pertama yaitu penerapan pertama suatu obat baru pada manusia yang melibatkan 20-80 relawan subjek sehat untuk di monitor secara ketat. Tujuan utama fase ini untuk menentukan mekanisme aksi farmakologik dari obat dan mendapatkan bukti awal efektivitas obat. Fase kedua adalah pengambilan data awal dari efektivitas 10 obat baru pada pasien dengan penyakit target atau kondisi tertentu. Fase kedua melibatkan sekitar 100 sampai 300 pasien yang dimonitor secara ketat untuk dilihat efek samping jangka pendek. Fase ketiga melibatkan ribuan pasien dengan penyakit target yang secara acak diberikan obat baru dan plasebo atau pengobatan yang ada (terapi standar) kemudian dibandingkan efek dari tiap kelompok intervensi tersebut. Fase ini menambahkan informasi mengenai efektivitas dan keamanan yang dibutuhkan untuk evaluasi seluruh risiko dan keunggulan obat tersebut. Fase keempat atau disebut juga sebagai uji pasca-pemasaran (postmarketing trial) bertujuan untuk mengevaluasi obat baru dalam jangka waktu yang relatif lama (5 tahun atau lebih). Fase terakhir penting untuk mendeteksi efek samping yang timbul dari pemakaian obat tersebu

Tidak ada komentar: