Kontrol dalam eksperimen
berkaitan dengan mempertahankan
validitas internal, yaitu kondisi bahwa efek
yang teramati hanya disebabkan sematamata oleh perlakuan eksperimental. Untuk
mencapai validitas internal, pengaruh dari
extraneous variables (yaitu berbagai
variabel selain variabel independen yang
dapat mempengaruhi variabel dependen)
harus dikontrol.
Kontrol dalam eksperimen
mempunyai arti mempertahankan agar
pengaruh dari extraneous variables tetap
konstan antar berbagai level variabel
independen. Hal ini dilakukan karena
mengeliminasi pengaruh extraneous
variables secara total (kondisi ideal) pada
banyak kasus tidak mungkin dilakukan.
Mempertahankan kekonstanan pengaruh
extraneous variables juga merupakan hal
yang sulit bagi beberapa variabel, karena
variabel-variabel demikian bervariasi
selama proses eksperimen dilakukan.
Hal-hal yang harus dikontrol dalam
eksperimen adalah:
1. Histori (history), yaitu berbagai kejadian
selain variabel independen yang terjadi di
antara pretest (observasi/pengukuran
awal) dan posttest (observasi/pengukuran
akhir) variabel dependen. Atau dapat
dikatakan juga bahwa histori adalah
peristiwa-peristiwa yang terjadi antara
periode sebelum tes (pretest) dengan
sesudah tes (posttest) yang dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Selama
eksperimen dilakukan, subyek mendapat
treatmen atau manipulasi. Akan tetapi,
peristiwa lain dapat terjadi selama
pemberian treatmen tersebut.
2. Maturasi (maturation), yaitu berbagai
kondisi internal individu subyek
eksperimen yang berubah dengan
berlalunya waktu. Atau dapat dikatakan
bahwa maturasi adalah efek waktu yang
dapat mempengaruhi hasil eksperimen.
Karena waktu yang berlalu, maka subyek
dapat berubah, misalnya perilaku subyek
berubah menjadi gusar, bosan, lelah, dan
lain sebagainya.
3. Instrumentasi (instumentation), yaitu
perubahan yang terjadi sebagai fungsi
dari pengukuran variabel dependen.
Instrumentasi adalah efek dari pergantian
instrumen pengukur atau pengamat di
eksperimen yang dapat memberikan hasil
penelitian yang berbeda. Pergantian
pengamat (observer) juga dapat
mengganggu hasil penelitian, karena
pengamat yang berbeda dapat
memberikan hasil pengamatan yang
berbeda yang tidak konsisten. Sebaliknya,
pengamat yang tidak pernah diganti untuk
beberapa pengamatan juga dapat
menggangu hasil penelitian karena
pengamat tersebut bosan, lelah, dan
penurunan mental lainnya
.
4. Statistical regression, yaitu perubahan
yang dapat diatribusikan kepada
kecenderungan nilai-nilai (skor) yang
sangat tinggi atau sangat rendah terhadap
mean.
5. Selection, yaitu perubahan akibat
prosedur seleksi yang berbeda
digunakan dalam menempatkan
subyek-subyek eksperimen ke dalam
berbagai kelompok.
6. Mortality, yaitu perubahan akibat
“hilang’nya subyek diferensial dari
berbagai kelompok komparasi.
7. Subject effect, yaitu perubahan dalam
performa subyek yang dapat
diatribusikan kepada (disebabkan oleh)
motivasi atau sikap subyek, misalnya
positive self-presentation (yaitu
motivasi subyek untuk memberi
respon dalam cara yang
mempresentasikan diri mereka secara
paling positif).
8. Experimenter effect, yaitu perubahan
dalam performa subyek yang
diakibatkan oleh experimenter
(peneliti). Hal ini dapat muncul dalam
dua cara yaitu:
a. Experimenter attributes, yaitu
karakteristik fisik dan psikis dari
peneliti (experimenter) yang dapat
menimbulkan respon yang
berbeda pada subyek.
b. Experimenter expectancies, yaitu
pengaruh dari ekspektasi peneliti
mengenai hasil eksperimen.
9. Sequencing, yaitu perubahan dalam
performa subyek yang dapat
diatribusikan kepada fakta bahwa
subyek berpartisipasi dalam lebih dari
satu treatment.
10. Subject sophiscation, yaitu perubahan
dalam performa subyek sebagai fungsi
dari sophistication atau kebiasaan
(familiarity) dengan prosedur-prosedur
eksperimental
Tidak ada komentar:
Posting Komentar