Ketika melakukan suatu pembelian, seorang konsumen sering mengandalkan
ingatan ataupun pengalaman untuk membuat suatu keputusan. Konsumen memiliki
tingkat pengetahuan produk yang berbeda, yang dapat dipergunakan untuk
menerjemahkan informasi baru dan membuat pilihan pembelian (Peter dan Olson,
2000: 67).
Beatty dan Smith (1987) dalam Lin dan Lin (2007) mendefinisikan
pengetahuan produk (product knowledge) sebagai persepsi yang dimiliki konsumen
terhadap produk tertentu, termasuk pengalaman sebelumnya menggunakan produk
tersebut. Menurut Engel et al. (1994), pengetahuan produk adalah informasi yang
disimpan di dalam ingatan mengenai kategori produk, seperti merek di dalam kategori produk tersebut, terminologi produk, atribut produk, dan keyakinan
mengenai kategori produk dan merek spesifik.
Flynn dan Goldsmith (1999) dalam
Harmancioglu et al. (2009) mengatakan, terdapat tiga tipe dasar pengetahuan
konsumen, yaitu:
1. Pengetahuan subyektif, yaitu informasi yang diyakini konsumen telah ia
miliki mengenai suatu perusahaan maupun produk-produknya.
2. Pengetahuan obyektif, yaitu informasi yang benar-benar tersimpan dalam
memori konsumen mengenai suatu perusahaan maupun produk-produknya.
3. Pengetahuan berdasar pengalaman, merupakan pengalaman sebelumnya
dari pembelian atau penggunaan produk
Secara umum, tingkat pengetahuan produk mempengaruhi niat beli konsumen.
Peter dan Olson (2000: 69) membagi pengetahuan produk menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Pengetahuan atribut produk (atribut fisik : deskripsi ciri fisik produk;
atribut abstrak : deskripsi karakteristik subjektif produk)
2. Pengetahuan manfaat produk, yaitu manfaat fungsional (manfaat yang
dirasakan konsumen secara fisiologis) dan manfaat psikososial (aspek
psikologis dan aspek sosial yang dirasakan konsumen).
3. Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk bagi konsumen
Lin dan Lin (2007) mengatakan bahwa karakteristik intrinsik (pengetahuan
produk) dan karakteristik ekstrinsik (harga, merek) merupakan faktor pertimbangan
konsumen dalam mengevaluasi produk sebelum membeli. Konsumen dengan
pengetahuan produk yang lebih tinggi memiliki ingatan, pengenalan, analisis, dankemampuan logis yang lebih baik daripada konsumen dengan pengetahuan produk
yang rendah. Sehingga, konsumen yang memiliki pengetahuan produk yang lebih
tinggi cenderung bergantung pada karakteristik intrinsik daripada stereotipe yang
ada dalam melakukan penilaian pada suatu produk. Di sisi lain, konsumen yang
memiliki pengetahuan produk yang lebih rendah cenderung menggunakan petunjuk
ekstrinsik, seperti harga atau merek untuk menilai sebuah produk.
Berdasar pengetahuan produk yang dimiliki, konsumen dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu experts dan novices. Konsumen experts ialah konsumen yang
sudah memiliki pemahaman yang dalam tentang pengetahuan produk dan berbagai
macam merek, sementara konsumen novices atau pemula adalah konsumen yang
cenderung mencari saran dari orang lain karena kurangnya pengetahuan yang
mereka miliki (Lin dan Lin, 2007).
Menurut Peter dan Olson (2000: 118),
konsumen yang cakap (experts) cenderung memiliki sejumlah besar pengetahuan
prosedural dan pengetahuan yang menjelaskan, yang diorganisasi dalam skema dan
tulisan. Konsumen yang cakap mampu memahami informasi pemasaran dalam
tingkat yang cukup dalam dan rinci. Sebaliknya, konsumen awam hanya memiliki
sedikit pengalaman dengan suatu produk atau merek, dan mereka hanya mampu
memahami informasi dalam tingkat yang dangkal dan tidak rinci.
Olshavsky dan Spreng (1996) dalam Harmancioglu et al. (2009) mengatakan,
apabila suatu produk baru memiliki kemiripan dengan produk sebelumnya dan
sesuai dengan ekspektasi konsumen, maka produk tersebut akan berhasil
dikategorikan sebagai bagian dari produk sebelumnya yang sudah ada di dalam
pengetahuan obyektif. Menurut Hirschman (1980) dalam Harmancioglu et al.
16
(2009), pengalaman positif terhadap produk yang sudah ada dapat “membutakan”
konsumen mengenai fungsi dari produk alternatif baru, sehingga dapat
mengakibatkan pembelian impulsif. Pengetahuan subyektif maupun pengalaman
dengan produk yang serupa mendorong terjadinya niat maupun perilaku pembelian
impulsif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar