1. Kesadaran merek (brand awareness)
Menurut Aaker (2000), kesadaran merek adalah kemampuan
seseorang untuk mengenali atau mengingat kembali bahwa suatu merek
yang merupakan bagian dari kategori produk tertentu. Kesadaran merek
adalah kondisi yang diperlukan untuk membentuk ekuitas merek, tanpa
kesadaran merek konsumen tidak dapat memiliki asosiasi merek, persepsi
kualitas dan loyalitas merek (Pappu dan Quester, 2006).
2. Asosiasi merek (brand associations)
Menurut Aaker (1991) asosiasi merek adalah segala hal yang berkaitan
dengan ingatan mengenai sebuah merek. Asosiasi merek berhubungan
dengan informasi tentang apa yang ada dalam pikiran pelanggan tentang
merek, baik positif maupun negatif, terhubung dengan simpul memori
otak (Emari et al., 2012). Asosiasi merek bertindak sebagai alat
pengumpulan informasi untuk mengeksekusi diferensiasi merek dan
perluasan merek (Osselaer dan Janiszewski, 2001). Semakin tinggi
asosiasi merek dalam produk, semakin banyak yang akan diingat oleh
konsumen dan loyal terhadap merek. Penelitian sebelumnya oleh
Pouromid dan Iranzadeh (2012) menunjukkan bahwa hubungan antara
asosiasi merek dan ekuitas merek positif dan signifikan.
3. Persepsi kualitas (perceived quality)
Menurut Aaker (1991) persepsi kualitas adalah persepsi pelanggan
terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa
layanan yang berkaitan dengan apa yang diharapkan pelanggan. Touminen
(2000) kualitas yang dirasakan dari merek memberikan alasan penting
untuk membeli. Penting untuk dicatat bahwa kualitas produk adalah
sumber daya perusahaan yang penting untuk mencapai keunggulan
bersaing (Aaker 1989).
4. Loyalitas
Menurut Rangkuty (2002), loyalitas merek adalah satu ukuran
kesetiaan konsumen terhadap suatu merek. Simamora (2001), menyatakan
bahwa loyalitas merek adalah ukuran kedekatan pelanggan pada sebuah
merek. Sedangkan menurut Durianto et al. (2004), loyalitas merek
merupakan suatu ukuran keterkaitan seorang pelanggan kepada sebuah
merek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar